Kamis, 26 Agustus 2010

Kekagumanku terhadap Sebuah Masjid


SUATU hari sandalku hilang saat shalat disebuah Masjid. Seorang bertanya kepadaku, “cari apa mas? “ (dengan ramah ia menyapaku dan sepertinya ia sudah tahu persoalan yang aku alami) dan kontan aku pun menjawab, “Mm… ini mas, sandalku gak ada.” Ia pun menanyakan seperti apa sandalku dan memintaku untuk bersabar sebentar untuk tetap di Masjid. Dan ternyata oleh al-akh tersebut membawakan aku sandal jepit yang baru. “Ini mas, biar diganti”, aku pun sontak menjawab, “gak papa kok mas, kantor saya dekat sini. Biar saya nyeker (berjalan tanpa alas) saja, cuma sandal japit aja kok. Ia pun menjawab dengan ramah, “ini memang kebijakan masjid disini mas, kalo ada yang hilang harus kami ganti minimal sama dengan yang hilang.” Subhanallah (aku berucap dalam hati).

Bukan karena besar dan megahnya aku menyukai Masjid ini, bukan karena fasilitasnya pula aku menyukai Masjid ini. Sesekali aku merelakan diri untuk mampir di Masjid ini karena pekerjaanku mengharuskan melewatinya. Di saat adzan tiba, aku pun berhenti untuk sholat di Masjid tersebut. Ya Allah, Maha Besar Engkau, lagi-lagi aku kagum karena jama’ahnya selalu penuh meskipun itu diwaktu dzuhur dan ashar. Dari informasi yang aku dengar, bahkan mereka punya program menyediakan sarapan pagi untuk Jama’ah Masjid yang sholat Shubuh berjama’ah di Masjid tersebut. Program ini untuk menstimulus jama’ah sekitar Masjid agar sholat berjama’ah meramaikan Masjid tersebut.

Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, Dari Abdullah bin Umar RA, bahwa: " Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. " (HR Muttafaq 'alaihi). Dan riwayat kedua namun lewat jalur Abi Hurairah ra. disebutkan, "dengan 25 bagian." Dan dari riwayat Abi Said menurut Bukhari dengan lafadz; "derajat."Beberapa ulama menafsirkan hadits Rasulullah SAW tentang fadhilah shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dari shalat sendirian atau 25 bagian, dengan memberikan beberapa ketentuan, yaitu shalat berjamaah itu dilakukan di masjid di awal waktu. Saya meyakini, penuhnya jama’ah disaat Shubuh, bukanlah karena sarapan paginya, tapi karena mengetahui pahala yang begitu besar ketika berjama’ah di Masjid.

Prihatin menyaksikan tayangan televisi yang tidak mendidik dan cenderung merusak moral, di Masjid ini mendirikan stasiun televisi komunitas. Televisi yang ditangani anak-anak muda ini diharapkan dapat membentengi masyarakat, terutama anak-anak, dari kemerosotan moral. Sejumlah aktivis Masjid ini pula yang menangani siaran mulai kumpul di masjid. Ini karena studio TV ini mengambil salah satu ruangan di kompleks masjid. Televisi yang tayang perdana pada acara pembukaan Kampoeng Ramadhan tanggal 13 September 2009 hingga kini masih mengudara meskipun hanya dalam radius yang tak terlalu jauh. Untuk biaya mendirikan televisi komunitas ini semua ditanggung takmir. Beberapa mahasiswa jurusan komunikasi pun dilibatkan dalam produksi siaran. Mulai pengambilan gambar, pemberitaan, editing hingga pekerjaan-pekerjaan bersifat teknis.

Kekagumanku yang lain dengan Masjid ini juga karena sejumlah aktivis muda-mudi di Masjid ini yang penuh semangat dalam mengadakan acara-acara di Masjid yang berslogan “..Dari Masjid Mensejahterakan Ummat..”. Setiap Ramadhan Masjid ini selalu ramai dipenuhi, karena diadakan beberapa acara yang cukup menarik para jama’ah untuk mengunjungi atau sekedar lewat dikawasan Masjid ini. Ramadhan tahun kemarin, mereka menggelar Kampoeng Ramadan. Acara yang dikemas secara integral mulai kegiatan keagamaan, sosial, ekonomi, pendidikan, entrepreneur dan kegiatan penunjang lain.

Masjid ini pun baru saja meresmikan pembukaan Islamic Center pada tanggal 1 Februari 2010 yang di resmikan oleh Walikota Jogja, Bpk. Heri Zudianto. Masjid ini, sampai saat ini sering menampung para tamu dari luar kota yang ingin menginap di Masjid ini dengan fasilitas yang bisa dibilang cukup memadai. Slogan “..Dari Masjid Mensejahterakan Ummat..” pun bukan hanya isapan jempol karena disekitar Masjid ini dipenuhi tempat-tempat usaha yang bernafaskan dakwah dan Islam. Bahkan ada sebuah penerbit yang saat ini cukup besar berada didekat Masjid ini, dan pemiliknya salah seorang takmir Masjid ini pula. Penulis-penulis besar pun lahir dari anak-anak muda di Masjid ini. Masjid ini juga selalu konsisten memberikan bantuan ketika ada bencana bahkan sampai menggalang dana untuk Saudara-saudara kita di Palestina. Subhanallah

Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Salah satunya adalah mereka anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan Masjid (H.R. Bukhari-Muslim). Semoga anak-anak muda masjid ini dipertemukan Allah di Syurga kelak, karena amal-amalnya. Mungkin, kita bertanya-tanya apa nama Masjid ini. Masjid ini terletak di Jl. Jogokariyan 36 yogyakarta. Pasti pembaca bisa menebak sendiri nama Masjid ini.Semoga kita termasuk anak-anak muda yang hatinya terpaut dengan Masjid.Wallahua’lam

Sumber foto: www.masjidjogokariyan.org

Sabtu, 14 Agustus 2010

Bisa Karena Terbiasa

Oleh: Ridwan Hidayat

MENJADI mahasiswa, harus mempunyai keterampilan menulis yang baik. Bukan berarti harus menjadi seorang yang berprofesi sebagai penulis. Melainkan harus memiliki keterampilan mengkomunikasikan hasil pikiran , ide, dan analisa lewat tulisan. Karena tulisan lah yang membedakan antara zaman prasejarah dan sejarah. Dan karena tulisan, peradaban intelektual terbentuk.

Bagi kebanyakan orang, kegiatan menulis memang diakui sangat sulit. Bukan berarti tidak bisa, tetapi kegiatan tersebut tidak dijadikan sebagai sebuah kebiasaan. Seperti pisau yang tajam, karena selalu dan terus diasah.

Bicara soal kebiasaan menulis, kita dapat melihat kepada seorang alumni kampus ini yang sekarang telah berhasil menerbitkan beberapa buah buku (saat diwawancarai sudah 2 buku dan 3 lagi yang akan segera terbit). Namanya, Edo Segara, Alumni FE UII tahun 2006. Saat ini ia menekuni dunia tulis menulis karena kebiasaannya menulis sejak menjadi mahasiswa.

Sepintas ayah satu anak ini memang tidak terlihat sebagai seorang ilmuwan atau memiliki tampang pintar dan kutu buku. Tubuhnya yang gempal lebih cocok bertampang sebagai body guard atau preman (he3x..becanda mas). Namun, karya-karya tulisannya telah mampu menghidupi keluarganya selain dari bisnis yang ia lakoni tentunya. Kang Edo, panggilan akrab kami , mulai terbiasa menulis ketika terlibat dimedia dakwah kampus. Kebiasaannya waktu masih di Pondok adalah mencatat hasil kajian-kajian yang pernah ia ikuti di pondok, hal ini juga menjadi kebiasaannya untuk terlatih menulis.

Awalnya saya tidak mahir menulis. Ketika berada di JAM FE, tahun 2003 dapat amanah mengelola buletin Sintaksis (sekarang majalah Sintaksis). Nah, dari situ saya mau tidak mau menulis”, ujarnya saat kami tanyai melalui wawancara di chat jejaring sosial Facebook.

Sebagaimana halnya mahasiswa yang lain, ia juga sering mengalami kesulitan diawal-awal belajar menulis. Tugas kuliah pun pernah dikerjakan temannya. Namun, dia mulai menyadari pentingnya memiliki karya tulis hasil pikirannya sendiri ketika sudah bergabung dengan dakwah kampus. Salah satu motivasinya menulis adalah untuk menguasai dunia informasi. Karena selama ini, dunia informasi telah dikuasai kaum Yahudi yang ingin menguasai dunia. Dengan menguasai informasi, maka kita mampu menyetir opini masyarakat.

Baginya, menulis sebenarnya tidak sulit. Siapa pun bisa menulis. Untuk menulis pun tidak harus ikut training kepenulisan atau pun training jurnalistik.

”Coba liat Ibnu Taimiyyah, beliau tidak pernah ikut training kepenulisan. Tidak ada fakta jika Sayyid Qutbh pernah ikut training jurnalistik sehingga mereka fasih menulis. Ulama-ulama tempo dulu juga tidak ikut training kepenulisan atau training jurnalistik, tetapi produktif menulis. Menulis adalah potensi yang dimiliki siapapun”, pendapat Kang Edo mengenai kepenulisan.

Ketika berbicara tentang kalangan intelektual, maka mahasiswa tidak lepas dari deretan kalangan tersebut. Kang Edo pun menekankan bahwa seorang mahasiswa harus tekun dan bisa menulis. Tidak hanya itu, menulis sebagai tradisi intelektual yang tidak boleh terputus. Motif menyampaikan ilmu melalui tulisan hendaknya menjadi motivasi utama.

”Dengan menulis, mahasiswa juga bisa melakukan dakwah. Kita perlu mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan melalui tulisan-tulisan kita. Menulis bagi mahasiswa bukan pilihan, tapi sebuah keniscayaan”, tambahnya lagi.

Ia juga menyarankan agar setiap dari kita mendokumentasikan ide-ide melalui tulisan. Dan tidak lupa juga untuk mengasah dan melatih menulis dengan mencoba menulis catatan harian (diary) atau bisa juga dengan membuat blog. Kalau sudah terbiasa barulah mencoba untuk menulis ke media massa atau menulis buku. []

Nb. dimuat di Majalah SINTAKSIS edisi 45, Agustus 2010/ Ramadhan 1431 H.

Senin, 09 Agustus 2010

Ekonomi Pancasila Idem Ekonomi Syariah?


DALAM sebuah buku teranyar Dr. Anwar Abbas berjudul “Bung Hatta dan Ekonomi Islam” terbitan KOMPAS, yang merupakan hasil disertasinya, menyebutkan bahwa ide ekonomi Pancasila yang diusung oleh Bung Hatta sang proklamator Republik Indonesia, sejalan dengan maqashid al-syariah atau tujuan dari ajaran Islam. Dalam buku tersebut penulis mengelaborasi gagasan Bung Hatta tersebut dengan pemikiran ekonomi Islam yang sedang booming saat ini.

Menurut Dr. Anwar Abbas, dalam karya-karya Bung Hatta jika ditelaah substansi dan norma Islam terinternalisasi didalamnya. Lebih jauh, sikap atau perilaku hidup (akhlak) Hatta sangat disiplin, jujur, kritis, ulet, telaten, cerdas, futuristis, dan inheren dalam aktivitas kesehariannya. Jika dilihat dalam pemilahan secara kategoris, Anwar menilai Hatta adalah penganut religius yang tidak menonjolkan aspek simbolisme. Bahkan menurut almarhum Nurcholish Madjid, Hatta adalah sosok yang religius.

Beberapa arah pemikiran Hatta adalah, bagaimana menegakkan dan menciptakan suatu masyarakat yang baik dan sejahtera. Untuk mencapai arah itu, menurut Hatta, beberapa persyaratan yang harus dipenuhi: Pertama, harus ada jiwa dan semnagat tolong menolong antara anggota dan warga masyarakat. Kedua, negara (politik) harus bersifat aktif dan tidak hanya menyerahkan sepenuhnya persoalan ekonomi kepada mekanisme pasar. Kondisi ini diharapkan bisa menciptakan efisiensi yang tinggi sehingga mampu mengantarkan masyarakat ke tingkat kesejahteraan yang diharapkannya. Menurut Anwar Abbas, pandangan Hatta ini sangat sejalan dengan maqashid al-syariah.

Gagasan ekonomi Islam sejalan dengan ekonomi Pancasila juga pernah ditulis oleh Adiwarman Karim di surat kabar harian Republika pada musim Pemilu, tanggal 1/6/2009. Adiwarman Karim mengatakan ekonomi Pancasila adalah ekonomi yang berlandaskan Maqasid Syariah yang memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi warga negara tanpa memandang perbedaan agama dan suku bangsa. Gagasan tersebut sah-sah saja dan saya termasuk orang yang menganggumi Bung Hatta. Namun, dalam gagasan ini ada beberapa catatan yang harus kita clearkan serta memahami maqashid syariah itu sendiri secara baik.

Memahami Maqashid Syariah

Makna maqashid syariah secara etimologis berasal dari kata qasada, yang berarti menghadap pada sesuatu. Sedangkan secara terminologis adalah sasaran-sasaran yang dituju oleh syariat dan rahasia-rahasia yang diinginkan sya ri’ dalam setiap hukum-hukum-Nya untuk menjaga kemaslahatan manusia. Sedangkan menurut Syatibi dan  Imam Muhammad bin At-Thahir memiliki semangat yang sama dalam mendefinisikan maqashid syariah sebagai upaya melestarikan tatanan dunia dengan jaminan hak-hak asasi manusia, sebagai subjek dalam pelestarian dan pemakmuran alam. Perspektif ini berusaha memelihara hak-hak manusia yang pada implementasinya terarah pada akidah, mengekspresikan amal dan juga status sosial individu ditengah masyarakat. Karena reformasi yang dicita-citakan oleh Islam adalah perbaikan yang menyeluruh pada setiap permasalahan umat manusia.

Secara garis besar, maqashid syariah sendiri terbagi menjadi dua bagian: Pertama, maqashid yang dikembalikan pada maksud syari’. Syari’ menurunkan hukum bagi makhluknya dengan satu illat, yaitu kemaslahatan manusia baik duniawi maupun ukhrawi. Kedua, maqashid yang dikembalikan kepada maksud mukallaf. Hal ini dapat diimplementasikan dalam tiga visi: Dlaruriyah, Hajiyyah, tahsiniyyah.

Lebih terperinci lagi, maqashid syariah dalam visi dlaruriyah terbagi menjadi lima yang kemudian dikenal dengan al-kuliyyat al-khams, diantaranya adalah Pertama, perlindungan terhadap agama (Hifdz Ad-Din). Kedua, perlindungan terhadap jiwa (Hifdz An-Nafs). Ketiga, perlindungan terhadap akal (Hifdz Al-Aql). Keempat, perlindungan terhadap kehormatan (Hifdz Al-Ardh). Kelima, perlindungan terhadap harta (Hifdz Al-Mal). Nah, poin kelima ini secara jelas menerangkan bagaimana maqashid syariah melindungi terhadap sumber-sumber perekonomian rakyat, menjamin hal milik pribadi dan menjaga keamanan harta tersebut. Artinya kesejahteraan (ekonomi) memang disinggung dalam maqashid syariah, namun yang seperti apa dahulu. Bagaimana jika dalam pencapaian tersebut justru melanggar syariah, seperti bunga (riba) ?

Ekonomi Pilar Maqashid Syariah
                                                                                                                     
Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah, mengatakan bahwa salah satu pilar kemajuan peradaban Islam adalah amwal atau ekonomi. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun mengatakan “Ekonomi adalah tiang dan pilar paling penting untuk membangun peradaban Islam (Imarah). Tanpa kemapanan ekonomi, kejayaan Islam sulit dicapai bahkan tak mungkin diwujudkan. Ekonomi penting untuk membangun negara dan menciptakan kesejahteraan umat.

Al-Ghazali, Asy-Syatibi dan seluruh ulama ushul yang membahas maqashid syari’ah, senantiasa memasukkan amwal sebagai pilar maqashid. Shah Waliullah Ad-Dahlawy, ulama terkemuka dari India, (1703-1762) berkata: “Kesejahteraan ekonomi merupakan prasyarat untuk suatu kehidupan yang baik. Tingkat kesejahteraan ekonomi sangat menentukan tingkat kehidupan. Seseorang semakin tinggi tingkat kesejahteraan ekonominya, akan semakin mudah untuk mencapai kehidupan yang lebih baik (hayatan thayyibah).”

Semangat Hatta dalam meningkatkan kesejahteraan memang sejalan dengan maqashid syariah. Namun yang perlu diberi catatan, dalam praktik perekonomian yang digagas Hatta, yakni koperasi masih menggunakan sistem bunga (riba). Tentu riba tidak dibenarkan dalam praktik ekonomi Islam. Sehingga menurut saya, ekonomi pancasila tidak bisa disejajarkan dengan ekonomi Islam. Karena baik ekonomi Pancasila atau ekonomi Islam memiliki epistimologi dan sistem yang berdiri sendiri-sendiri. Jadi tidak mungkin untuk mencapai tujuan syariah (maqashid syariah) ekonomi Islam melabrak syariah itu sendiri. Maka, setelah membaca tulisan ini saya persilakan Anda menilai orang yang menyamakan ekonomi Pancasila dengan ekonomi Islam. Wallahua’lam

Jumat, 06 Agustus 2010

Berbisnis dengan Allah di Bulan Ramadhan


“Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku menunjukkan kepada kamu suatu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari siksa yang pedih?  (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.”
(QS. Ash-Shaff :10-11)

Tak terasa, bulan ramadhan segera menyapa kita. Bulan yang begitu banyak terhampar kebaikan. Rasulullah dalam pidatonya menjelang ramadhan mengatakan, bulan ramadhan sebagai bulan yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

Bulan ramadhan yang akan kita jalani ini merupakan bulan yang penuh berkah. Mengapa berkah? Karena bulan ramadhan merupakan bulan diturunkannya kitab suci al-Qur’an. Selain itu, dibulan ini terdapat juga malam yang lebih dari seribu bulan atau kita kenal dengan malam ”Laylatul Qodar”. Dibulan ini Allah juga mewajibkan kaum Muslim untuk berpuasa, menganjurkan sholat malam, dan memperbanyak membaca al-Qur’an. Bahkan tidur saja dinilai ibadah dibulan ini. Intinya segala perbuatan yang diniatkan sebagai ibadah kepada Allah akan mendapat pahala yang berlipat ganda.

Keberkahan ramadhan bukan hanya dari segi ibadah saja, akan tetapi segi ekonomi juga kita dapat saksikan secara seksama. Ramadhan tidak hanya jadi momentum perang melawan hawa nafsu, tapi juga menjadi ajang pemasaran. Momen ini tidajk hanya dinanti oleh kebanyakan umat Muslim, tetapi juga ditunggu-tunggu oleh para penggerak bisnis dalam manerik konsumen. Momen ramadhan merupakan momen yang sangat baik untuk melakukan aktifitas bisnis. Dalam ilmu marketing ini disebut dengan ”Seasonal Marketing.”

Etika Berbisnis Saat Ramadhan
Dalam menangani seluruh masalah kehidupan, Islam sangat menekankan sisi moralitas, karena itu hukum-hukum yang ditetapkan Allah tidak boleh dilanggar, termasuk ketika melakukan kegiatan ekonomi. Rasul saw pernah bersabda: "Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak." Akhlak yang dimaksud mencakup hubungan antar manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, alam semesta, serta dengan diri sendiri.
Kegiatan ekonomi merupakan salah satu aspek hubungan antar manusia. Karena itu, aspek moral tidak boleh ditinggalkan dalam setiap kegiatannya. Hubungan timbal balik yang harmonis, peraturan dan syarat yang mengikat, serta sanksi, merupakan tiga hal yang selalu berkaitan dengan bisnis, dan di atas ketiga hal tersebut ada etika.
Begitu pentingnya mengedepankan etika dalam berbisnis, sehingga Allah menganjurkan untuk memberi tangguhan waktu bagi seseorang yang berutang dan dia dalam kesukaran, bahkan menyedekahkan sebagian dari utang itu dinilai sebagai perbuatan yang lebih baik. Demikian dalam firman-Nya:
"Dan jika (orang berutang) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang itu) lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah/2: 280)
Islam sama sekali tidak melarang umatnya berbisnis saat bulan ramadhan,  bahkan menganjurkannya. Akan tetapi, Islam juga memberikan persyaratan atau peraturan agar berbisnis itu tidak keluar dari format ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Paling tidak ada lima syarat yang harus dipenuhi jika kita ingin menjadikan bisnis sebagai profesi untuk meraih harta dan kekayaan dunia :

Pertama, berbisnis itu harus dengan niat mencari ridha Allah. Sedangkan harta yang diperoleh adalah amanah dari Allah. Sebab itu, pada hakikatnya, harta itu adalah milik Allah. Kedua, Berbisnis harus sesuai dengan sistem Allah dan Rasul-Nya Muhammad Saw. seperti tidak boleh dengan sistem riba, tidak melakukan risywah, kolusi, nepotisme, monopoli, spekulasi dan sebagainya. Ketiga, barang dan jasa yang dibisniskan tidak boleh yang diharamkan Allah seperti babi, darah, khamar, judi dan sebagainya serta harus yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya. Keempat, semua aktivitas yang terkait dengan ibadah dan pengabdian kepada Allah, baik yang terkait dengan ibadah individu, sosial kemasyarakatan, atau apa saja yang terkat dengan kategori dakwah dan jihad, tidak boleh atau haram hukumnya dibisniskan, yakni melaksanakannya dengan tujuan mendapatkan keuntungan dunia, baik yang terkait harta, pangkat, kedudukan, status sosial, pujian dari manusia atau apapun bentuknya. Kelima, di dalam harta yang diamanahkan Allah itu terdapat jatah kaum fakir, miskin dan kebutuhan lain di jalan Allah, baik melalui zakat (wajib), maupun sedekah (infak). Oleh sebab itu, harta bukan untuk ditumpuk di dunia, akan tetapi untuk dibelanjakan di jalan Allah. Atau dengan kata lain, harta adalah jalan terbaik untuk berjihad di jalan Allah.
Tetapi perlu diingat bahwa penekanan pada landasan moral ini sama sekali tidak berarti menolak perolehan keuntungan materi atau tidak memperhitungkan manfaat ekonomis. Keberhasilan ekonomi dalam pandangan Islam terletak pada kesesuaian antara kebutuhan moral dan material.
Siasat Bisnis Saat Ramadhan
Kita menyaksikan maraknya pedagang musiman yang bermunculan disamping pedagang yang sudah ada terlebih dahulu sebelum ramadhan. Mereka menjual aneka macam dagangan pakaian Muslim, berjualan paket buka puasa-sahur, buah kurma, parcel, dll. Kita bisa menyaksikan semaraknya suasana tersebut dijalan-jalan atau ditoko-toko swalayan hampir semua swalayan menampilkan suasan Islami sehari-harinya sebagai penghargaan terhadap bulan suci ramadhan. Mensiasati usaha dibulan suci ini, bagi kalangan pedagang musiman mesti cermat dalam beberapa hal:
Pertama, membuat perencanaan yang matang dan sistematis. Seringkali kita terlihat tidak memiliki perencanaan yang matang dan sistematis dalam menyiapkan usaha kita. Bahkan terkadang hanya bermodal semangat saja. Kita lebih sering ikut-ikutan, tanpa memperhatikan hitung-hitungan matematis. Perdagangan adalah bidang serius yang menuntut perhatian penuh, tenaga, pikiran,  komitmen, waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Kedua, diperlukan sebuah kedisiplinan dan ketekunan dalam berusaha. Tidak angin-anginan dalam berbisnis. Sebagai contoh ketekunan dan kegigihan para penemu batik dan musik dangdut yang berhasil mendunia ke mancanegara. Dahulu tidak banyak yang mengenal dan menyukai musik dangdut. Namun sekarang sudah menjadi ikon ’musik rakyat’.
Ketiga, untuk menang dalam persaingan, kita harus berbuat yang lebih baik dari pedagang (kompetitor) lain. Kita harus menjaga kualitas barang yang kita jual, menjaga kebersihan tempat, memenuhi cita rasa pembeli, serta memberi pelayanan yang baik. Kita tidak bisa mengikuti ide apa yang ada dikepala kita saja, namun kita sebaiknya mengikuti perilaku, minat, dan kecendrungan pasar. Siapapun yang tidak bisa melakukannya akan ketinggalan jauh dibelakang dan ditinggalkan konsumen. 3 siasat bisnis ini insya Allah cukup sebagai bekal sukses berbisnis dibulan ramadhan.
Namun yang perlu diingat, sebaik-baiknya berbisnis adalah berbisnis dengan Allah dibulan ramadhan ini. Berikut petikan surat At-Taubah ayat 111-112: ”Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah. Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum Allah.” So, meskipun kita sibuk berbisnis dengan manusia, kita juga harus menyibukkan berbisnis dengan Allah. Wallahua’lam
Sumber pict: 
http://browse.deviantart.com/?qh=&section=&q=Allah#/d1ho194

Minggu, 01 Agustus 2010

Memfungsikan Humas dalam Gerakan


Judul Buku: Humas Gerakan
Penulis : Edo Segara
Penerbit : Muda Cendekia, Jakarta
Cetakan : I, 2010
Tebal : 146 Halaman
Harga : Rp. 35.000,-

TERKAIT fungsi dan kedudukan humas sepertinya ingin ditegaskan kembali Edo Segara dalam buku ini. Edo Segara sebagai penulis buku menuturkan bahwa humas memang dalam berperan penting dalam komunikasi organisasi. Hal ini mengingat organisasi sebagai suatu sistem kemanusiaan juga harus berhubungan dengan lingkungannya, baik secara luas (nasional, regional, ataupun internasional) maupun secara sempit (dalam hubungan kerja atau perwakilan). Untuk menjaga mutu hubungan tersebut, maka diperlukan komunikasi yang tepat.

Peningkatan mutu dalam komunikasi merupakan lahan kegiatan humas (public relation). Setiap organisasi dari kegiatan awal sampai akhir akan melalui berbagai bentuk dan tahap kegiatan yang harus menyatu dan terpadu dalam rangka mencapai mutu terbaik. Perekat dari tahap semua kegiatan itu dan usaha itulah yang disebut sebagai kegiatan humas (public relation).

Lebih penting dalam buku ini adalah penulis memfokuskan humas pada organisasi gerakan. Menjadi hal yang utama bagi humas organisasi gerakan untuk mampu mengemban fungsi dan tugasnya dalam melaksanakan hubungan komunikasi baik ke dalam (intern) ataupun keluar (ekstern). Begitu pula kemampuannya untuk menjembatani atau membangun komunikasi dengan masyarakat luar. Menurut penulis buku, ada perbedaan karakter antara humas dalam organisasi gerakan dengan humas sebuah produk komersial, humas Pemerintah, atau humas hotel berbintang lima.

Dengan hadirnya buku ini setidaknya dapat menambah wacana dan referensi terkait humas. Meskipun masih dijumpai kekurangan, buku ini bisa menjadi bahan telaah dan kajian bagi para aktivis untuk menghidupkan fungsi humas dalam organisasi gerakannya. Buku ini menerangkan pelbagai hal agar humas organisasi gerakan dapat berfungsi secara baik dan prima.

Membaca buku ini, ada pemaparan dari penulis buku mengenai landasan, karakteristik dan urgensi dari humas gerakan. Tujuan humas gerakan, ruang lingkup humas gerakan, dan manajemen humas gerakan juga dipaparkan dalam buku ini. Adapun strategi membangun opini gerakan, strategi pencitraan gerakan, komunikasi dan jejaring gerakan dijelaskan penulis buku dalam bab-bab tersendiri yang tentunya menarik disimak. [] –s

Hendra Sugiantoro, Pembaca Buku, tinggal di Yogyakarta

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Ahad 1 Agustus 2010.