Senin, 05 Juli 2010

Integritas Seorang Penulis

”Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(Qs. As-Saff : 2-3)

Saya yakin, sebagai muslim kita semua sangat familiar dengan bunyi ayat diatas. Lalu apa hubungannya integritas dengan seorang penulis? Definisi integritas sendiri, menurut para ahli adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Menurut Sthepen R. Covey, ”Integritas berarti kita melakukan apa yang kita lakukan karena hal tersebut benar dan bukan karena sedang digandrungi orang atau sesuai dengan tata krama. Gaya hidup, yang tidak tunduk kepada godaan yang memikat dari sikap moral yang mudah, akan selalu menang."

Tulisan ini saya tulis karena desakan seorang teman serta bentuk keprihatinan saya terhadap penulis yang menulis sesuatu, namun ia sendiri jauh dari yang ia tulis. Misal, ada yang menulis tentang ekonomi Islam, namun ia sendiri masih berkutat dengan riba. Atau ada yang menulis tentang motivasi keagamaan namun dirinya sangat jauh dari nilai-nilai agama. Ada juga yang menulis tentang dakwah tapi kata-kata atau judul tulisannya disebuah situs pribadinya sangat kotor dan vulgar. Bahkan ada juga yang menulis kebohongan. Sedih rasanya melihat penulis-penulis seperti ini. Namun, bukan berarti pesimis. Pukul rata. Apalagi menjustifikasi mereka, tulisan ini bermaksud menyadarkan kita semua termasuk saya.

Ada seorang chief editor penerbitan buku-buku Islam yang cukup populer bercerita dengan saya. Kebetulan beliau adalah sahabat dan teman diskusi penulis. Beliau banyak bercerita tentang naskah-naskah yang selama ini masuk termasuk bagaimana menseleksi naskah-naskah tersebut. Menariknya, penerbitan ini mensyaratkan penulis yang naskahnya diterima itu harus baik secara kredibilitas dan integritasnya. Bahkan mereka tak segan-segan melakukan penelusuran dan investigasi tiap-tiap penulis yang naskahnya akan dipilih untuk diterbitkan. Dan bisa dipastikan, yang lolos tersebut adalah penulis yang punya kredibilitas baik dan berintegritas tinggi. 

Integritas rasanya memang sebuah kata yang terkesan berat. Saat ini, integritas bahkan menjadi prasyarat calon pejabat seperti: KPK, Komisi Yudisial, dll. Para pakar mengatakan hanya pribadi berintegritas yang mampu melawan ketidakbenaran yang telah mengorbankan rasa keadilan masyarakat. Akan tetapi, mungkinkah integritas itu dijalankan dalam kehidupannya nyata? Jangan-jangan hanya slogan yang tak memberi dampak. Terlalu sering kita mendapatkan kesan yang ini berintegritas, yang itu tidak. Namun, betapa kecewanya kita. Yang diagung-agungkan justru terbukti melawan integritas itu sendiri.

Integritas harus bisa menjangkau seluruh sisi kehidupan. Apa pun itu, integritas harus tetap menjadi prioritas. Dalam bidang bisnis misalnya. Banyak orang berkata kalau tidak berbohong, tidak menipu, tidak memanipulasi data, bagaimana dapat untung? Susah! Siapa bilang tidak bisa. Bisa! Rasulullah bahkan berdagang dengan menyebutkan harga modalnya dan nyatanya ia tetap saja sukses dan kaya raya. Saya berpendapat, integritas dapat diterapkan dalam bidang apa saja. Kembali ke integritas penulis, muncul beberapa pertanyaan dibenak saya. Lalu apa ukuran integritas seorang penulis itu sendiri? Hemat saya, integritas penulis dapat dilihat dari dua sudut pandang. 

Pertama, sudut pandang dari penilaian diri sendiri. Seseorang menilai integritasnya dari sisi nilai (norma atau agama) yang ia anut secara personal. Nilai yang selama ini diyakininya benar. Yang pertama ini memang kesannya subyektif, namun sangat penting. Misal, seorang penulis menulis buku tentang keagaamaan, apakah layak buku tersebut menjadi rujukan ketika ia tidak menutup aurat secara baik? Rasanya saya pribadi sulit menerima pengetahuan dari orang-orang seperti ini meskipun barangkali isi dari buku tersebut sangat baik. Sederhana saja, bagaimana orang mau berubah ia sendiri tidak berusaha berubah.

Kedua, sudut pandang tersebut adalah perspektif komunal. Sudut pandang ini tidak lagi berdasarkan penilaian diri. Nilai-nilai komunal yang telah diatur itulah standar yang dapat menilai. Misal, bagaimana seperti saya ceritakan diawal ketika penerbit menilai kepribadian dan kredibiltas si penulis. Ini penting dipertimbangkan, karena bagaimana kita mau menjual buku tersebut ketika si penulis ini bermasalah. Sebagai contoh, ini terjadi ketika ’maaf’ AK seorang guru spiritual diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak buahnya. Saat ia tengah bermasalah, terbitlah sebuah bukunya. Ini jelas sangat berpengaruh terhadap penjualannya. Meskipun saya tidak memiliki data pasti, saya melihat buku itu tidak begitu banyak yang meminati.

Ketika ditanya oleh teman, apa sebenarnya motivasi saya menulis. Saya menulis untuk berbagi pengetahuan, menyalurkan hobi dan beramal melalui tulisan. Saya bukanlah penulis yang profesional, namun saya meyakini tulisan yang bisa diterima oleh pembaca adalah tulisan yang bermakna dan berkarakter. Sekaligus diikuti kredibiltas dan integritas yang baik si penulis. Bukan apa-apa, karena si penulis dan yang ia tulis tentu akan diikuti banyak orang yang membaca karyanya. Sebagai penutup, mari kita jaga integritas kita sebagai penulis, agar tidak menjadi beban ketika di akhirat nanti. Jangan sampai kita menulis, yang kita sendiri tidak melakukan. Naudzubillah min dzalik

2 komentar:

mioariefiansyah mengatakan...

ehm...ternyata mas edo fakultas ekonomi ya,

wah sama donk

pengen banget mbk nulis buku2 tentang ekonomi, boleh minta saran g mas? trims

:D

edo segara mengatakan...

Boleh mbak :)

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...