Rabu, 28 Juli 2010

Tips Menulis dari Indra Jaya Piliang

Berikut saya kumpulkan tips menulis Indra J. Piliang dari twitternya. Indra J. Piliang adalah penulis artikel yang produktif (400-an lebih artikel di media massa), jurnal, dan beberapa buku. Beberapa tips tersebut adalah:

1.Kalau mau jadi penulis, pelajari terlebih dahulu tulisan org lain.
2.Jangan segan-segan mencorat-coret pinggiran buku yg anda baca, sehebat apapun buku itu.
3.Kritik isi buku atau artikel yang anda baca, ungkapkan pikiran anda..
4.Kalau perlu, anda tulis tebal-tebal "kalimat bodoh!" "pikiran usang!" atas apapun yg anda baca.
5.Sebelum punya "nama-besar", kuasai atau ahli satu spesialisasi isu. Koran butuh para spesialis.
6.Kalau belum percaya diri, print tulisan anda, baca keras-keras. Remas & buang ke tong sampah kalau terasa "biasa" & bilang "sampah!"
7.Minta beberapa teman anda membaca artikel atau tulisan anda. Dengar komentar mereka. "Gue baru tahu. Ini genuine!" Kirim!
8.Hilangkan tips lama: kirim 100 artikel ke koran besar, mosok satupun tak dimuat? Keliru. Yang bener, perbaiki artikel yg ditolak
9.Perhatikan tajuk rencana dan headline media. Tajuk rencana kadang berisi: "Undangan menulis!" Headline itu angle.
10.Jangan kutip Kompas, kalau anda ingin kirim ke KoranTempo atau Sindo, kecuali anda sudah punya nama.
11.Kalau tulisan anda dimuat oleh satu koran, jgn pindah dulu ke koran lain. Bertahan saja, walau hrs makan Indomie terus. Setialah.
12.Ketika menulis, bayangkan siapa pembaca anda: mahasiswa? policy maker? government? public? civil society?
13.Satu artikel pendek tak mungkin ditujukan ke semua kalangan pembaca. Jadikan pembaca anda spesialis juga, tapi itu ada di pikiran.
14.Kalau anda tak berani mengirim ke media, simpan di laptop anda. Jadikan sbg bank naskah. Nanti berguna
15.Sediakan satu buku khusus utk nulisi data-data apapun yg mungkin anda tulis.
16.Artikel itu hanya terbagi 3: pembuka, isi, penutup. Anda bisa tempatkan isi di atas, tengah, bawah.
17.Ada orang yg biasa nulis subuh atau pagi. Ada jg pas tengah malam. Kalau saya: bisa pas lg meeting-ngetwit.
18.Bagi penulis, semua orang bisa jadi inspirasinya. Sopir taksi, mslnya. Atau syair2 lagu anak jalanan. Catat di notes anda.
19.Artikel itu punya "organisasi". Nah, ini butuh lebih dari sekadar tweet. Ada yg spiral, ada yg bulat, ada yg bentuk gitar spanyol.
20.Ada tulisan org yang mudah diedit, tp ada yg hanya penulisnya bisa mengedit. Sy masuk kategori ke-2.
21.Hindari sebut nama-nama orang atau perusahaan atau sesuatu yang berbau tuduhan. Koran tak berani bertaruh dengan polemik, kecuali terbatas
22.Ingat, setiap koran menyediakan dua halaman kosong buat penulis luar. Isi itu. Itu hak yang diberikan kepada publik.
23.Kalau tak yakin-yakin amat anda bisa "membagi-pikiran-perasaan"
, hindari jd Ghost writer, walau banyak duitnya. Anda bisa split!
24.Kalau tulisan pertama anda dimuat, bolehlah dilampiaskan dengan nyebur ke laut atau lari keliling Monas. Kasih diri anda semangat!
25.Penulis itu adalah orang yang berjarak dengan keadaan. Naluri penulis adalah kekasih sunyi. Di keramaian sekalipun. Siapkan mentalitas itu.
26.Tahan rasa lapar anda ketika menulis, walaupun sudah waktunya makan. Selesaikan dulu, karena bisa-bisa anda lupa.
27.Siapa orang pertama yang paling bisa menyelami tulisan anda? Ya, orang terdekat anda: ayah, ibu, istri, suami, kekasih. Minta mereka baca.
28.Sesekali, bolehlah ketemu atau telpon-telponan dengan redaktur opini media massa. Tapi ingat, mereka rada-rada sensitif, karena anda harus independen.
29.Kemana tulisan anda dikirim? Bgmn karakter media? Nah, ini butuh lbh dari sekadar twit, ya.
30.Media punya agenda-setting, framing, tipologi pembaca, bahkan: ideologi.
31.Ada orang bisa langsung nulis pakai komputer. Ada yang bisa hanya pakai tulisan tangan.
32.Dulu, saya nulis pakai tulisan tangan. Terasa mengalirnya tinta ke kertas putih. Baru diketik. Diprint. Dicorat-coret. Diedit. Baru dikirim
33.Kitab suci itu ditulis, batu nisan itu ditulis: jadilah penulis!

Selasa, 20 Juli 2010

Mencuri di Alam Mimpi


“Diceritakan dalam film ini, bahwa dalam dunia bisnis, sebuah rahasia dagang, ide atau pemikiran bisa dicuri saat manusia paling lemah, yaitu saat tidur.”

Film fiksi ilmiah karya Christopher Nolan yang baru diluncurkan tanggal 16 Juli 2010 ini, Inception, merupakan sebuah film yang menggunakan plot cerita dunia nyata vs dunia maya. Dunia maya yang dimaksud adalah alam mimpi, yang dikatakan saat manusia bermimpi, otak bekerja sampai 20 kali lipat lebih cepat, mengakibatkan 5 menit tidur di dunia nyata serasa 1 jam di dunia mimpi. Sekarang, bayangkan saat di alam mimpi, yang dialami adalah ‘tidur’ dan bermimpi kembali. Ulangi lagi ini di tiap tingkatan alam mimpi, dan akhirnya di tingkat alam mimpi yang paling dalam, dalam waktu semalam bisa berarti puluhan tahun di dalam dunia mimpi!

Begitulah klaim dari Cobb, tokoh utama film Inception ini, yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio. Diceritakan dalam film tersebut bahwa dalam dunia bisnis, sebuah rahasia dagang, ide atau pemikiran bisa dicuri saat manusia paling lemah, yaitu saat tidur. Cobb awalnya digambarkan sebagai konsultan yang bisa membantu kliennya untuk bisa mempertahankan diri dari pencurian ini di alam bawah sadar, namun ternyata dia sendiri adalah juga pelaku pencuriannya. Dalam aksi terakhirnya, targetnya yang bernama Saito (Ken Watanabe) ternyata menyadari dia sedang berada di dunia mimpi dan bisa menggagalkan aksi pencurian Cobb. Rupanya dari awal Saito sudah mengetahui profesi Cobb dan mencoba keahliannya sebelum dia sendiri menyewa Cobb.

Dalam melakukan aksi pesanan Saito, Cobb dibantu oleh sebuah tim, yang terdiri dari Arthur (Joseph Gordon-Levitt), yang bertugas mencari informasi target; Ariadne (Ellen Page), seorang mahasiswa yang bertugas membuat dunia mimpi sesuai dengan keinginannya; Eames (Tom Hardy), yang bisa menyaru sebagai orang lain di alam mimpi; Yusuf (Dileep Rao), ahli farmasi yang bertugas mengkomposisi obat tidur yang diperlukan agar semua anggota tim maupun target tidur dan masuk ke alam mimpi. 

Target yang diinginkan oleh Saito adalah Robert Fischer, Jr., pewaris dari saingan bisnis Saito. Fischer diperankan oleh Cillian Murphy, yang dalam dua film Nolan sebelumnya, Batman Begins dan Dark Knight, berperan sebagai The Scarecrow. Dari tokoh yang menggunakan ramuan halusinasi ke korbannya, kini Cillian Murphy memerankan hal sebaliknya, menjadi korban yang tidur akibat diasupi ramuan obat tidur buatan Yusuf.

Aksi yang dijalankan oleh Cobb dan tim sayangnya tidak berjalan mulus. Selain karena kesalahan Arthur yang tidak mengira Fischer rupanya sudah dibekali dengan latihan mempertahankan diri di alam bawah sadar, istri Cobb yang sudah wafat, Mal (Marion Cotillard) selalu muncul pada saat yang tak terduga dalam alam bawah sadar Cobb, dan sangat mengganggu jalannya aksi.

Sepanjang film, banyak tema yang mengingatkan saya pada film-film lainnya. Hal paling utama adalah dunia mimpi dan kesulitan untuk membedakannya dengan dunia nyata. Banyak film yang membahas hal ini sebelumnya, seperti The Matrix karya Wachowski bersaudara, lalu Thirteenth Floor & Dark City. Lalu ungkapan Cobb, “What's the most resilient parasite? An Idea. A single idea from the human mind can build cities. An idea can transform the world and rewrite all the rules.”, itu mengingatkan pada film V for Vendetta, “And ideas are bulletproof.” Hanya saja, berbeda dengan The Matrix, tokoh Neo yang bisa mengendalikan dunia maya sampai bisa menghentikan peluru, di Inception para tokoh yang ada harus taat pada aturan yang berlaku, tidak bisa sampai mendapatkan kekuatan super.

Teknologi mirip dengan Inception ini menurut saya adalah serial TV Harsh Realm, yang menceritakan sebuah dunia maya buatan militer Amerika berisi ratusan tentara yang mengalami dunia mimpi yang sama, namun dikendalikan oleh simulasi komputer; jadi mirip dengan kendali komputer di The Matrix namun dengan cara masuk ke alam mimpi yang dibantu dengan obat tidur yang masuk melalui infus.

Relasi yang lain yang saya lihat adalah dengan dua film karya Nolan sebelumnya, yaitu Memento dan The Machinist, yang berkisar pada perasaan bersalah yang menghantui pikiran, sampai bisa termanifestasi seakan menjadi nyata. Contohnya adalah munculnya kereta api secara mendadak di tengah lalu-lintas kota, rupanya ini merupakan salah satu manifestasi rasa bersalah yang menghantui psikologi Cobb.

Film Inception ini adalah film aksi, dengan plot fiksi ilmiah, dibumbui dengan misteri. Walaupun masuk kategori film aksi, seperti Memento, film ini bukanlah film ringan. Hanya saja, banyaknya adegan aksi tembak-menembak di dalam film ini terkesan membosankan. Dan karena alur ceritanya tidak ringan, dugaan saya film ini tidak akan sefenomenal dua film Batman karya Nolan sebelumnya. Namun bagi penggemar karya Nolan, terutama yang tidak pusing ataupun bingung setelah menonton The Machinist dan Memento, film Inception ini sangat direkomendasikan.(Eko Junianto)

Sumber:
http://id.omg.yahoo.com/blogs/mencuri-di-alam-mimpi-eko_juniarto-9.html

Senin, 05 Juli 2010

Integritas Seorang Penulis

”Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(Qs. As-Saff : 2-3)

Saya yakin, sebagai muslim kita semua sangat familiar dengan bunyi ayat diatas. Lalu apa hubungannya integritas dengan seorang penulis? Definisi integritas sendiri, menurut para ahli adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Menurut Sthepen R. Covey, ”Integritas berarti kita melakukan apa yang kita lakukan karena hal tersebut benar dan bukan karena sedang digandrungi orang atau sesuai dengan tata krama. Gaya hidup, yang tidak tunduk kepada godaan yang memikat dari sikap moral yang mudah, akan selalu menang."

Tulisan ini saya tulis karena desakan seorang teman serta bentuk keprihatinan saya terhadap penulis yang menulis sesuatu, namun ia sendiri jauh dari yang ia tulis. Misal, ada yang menulis tentang ekonomi Islam, namun ia sendiri masih berkutat dengan riba. Atau ada yang menulis tentang motivasi keagamaan namun dirinya sangat jauh dari nilai-nilai agama. Ada juga yang menulis tentang dakwah tapi kata-kata atau judul tulisannya disebuah situs pribadinya sangat kotor dan vulgar. Bahkan ada juga yang menulis kebohongan. Sedih rasanya melihat penulis-penulis seperti ini. Namun, bukan berarti pesimis. Pukul rata. Apalagi menjustifikasi mereka, tulisan ini bermaksud menyadarkan kita semua termasuk saya.

Ada seorang chief editor penerbitan buku-buku Islam yang cukup populer bercerita dengan saya. Kebetulan beliau adalah sahabat dan teman diskusi penulis. Beliau banyak bercerita tentang naskah-naskah yang selama ini masuk termasuk bagaimana menseleksi naskah-naskah tersebut. Menariknya, penerbitan ini mensyaratkan penulis yang naskahnya diterima itu harus baik secara kredibilitas dan integritasnya. Bahkan mereka tak segan-segan melakukan penelusuran dan investigasi tiap-tiap penulis yang naskahnya akan dipilih untuk diterbitkan. Dan bisa dipastikan, yang lolos tersebut adalah penulis yang punya kredibilitas baik dan berintegritas tinggi. 

Integritas rasanya memang sebuah kata yang terkesan berat. Saat ini, integritas bahkan menjadi prasyarat calon pejabat seperti: KPK, Komisi Yudisial, dll. Para pakar mengatakan hanya pribadi berintegritas yang mampu melawan ketidakbenaran yang telah mengorbankan rasa keadilan masyarakat. Akan tetapi, mungkinkah integritas itu dijalankan dalam kehidupannya nyata? Jangan-jangan hanya slogan yang tak memberi dampak. Terlalu sering kita mendapatkan kesan yang ini berintegritas, yang itu tidak. Namun, betapa kecewanya kita. Yang diagung-agungkan justru terbukti melawan integritas itu sendiri.

Integritas harus bisa menjangkau seluruh sisi kehidupan. Apa pun itu, integritas harus tetap menjadi prioritas. Dalam bidang bisnis misalnya. Banyak orang berkata kalau tidak berbohong, tidak menipu, tidak memanipulasi data, bagaimana dapat untung? Susah! Siapa bilang tidak bisa. Bisa! Rasulullah bahkan berdagang dengan menyebutkan harga modalnya dan nyatanya ia tetap saja sukses dan kaya raya. Saya berpendapat, integritas dapat diterapkan dalam bidang apa saja. Kembali ke integritas penulis, muncul beberapa pertanyaan dibenak saya. Lalu apa ukuran integritas seorang penulis itu sendiri? Hemat saya, integritas penulis dapat dilihat dari dua sudut pandang. 

Pertama, sudut pandang dari penilaian diri sendiri. Seseorang menilai integritasnya dari sisi nilai (norma atau agama) yang ia anut secara personal. Nilai yang selama ini diyakininya benar. Yang pertama ini memang kesannya subyektif, namun sangat penting. Misal, seorang penulis menulis buku tentang keagaamaan, apakah layak buku tersebut menjadi rujukan ketika ia tidak menutup aurat secara baik? Rasanya saya pribadi sulit menerima pengetahuan dari orang-orang seperti ini meskipun barangkali isi dari buku tersebut sangat baik. Sederhana saja, bagaimana orang mau berubah ia sendiri tidak berusaha berubah.

Kedua, sudut pandang tersebut adalah perspektif komunal. Sudut pandang ini tidak lagi berdasarkan penilaian diri. Nilai-nilai komunal yang telah diatur itulah standar yang dapat menilai. Misal, bagaimana seperti saya ceritakan diawal ketika penerbit menilai kepribadian dan kredibiltas si penulis. Ini penting dipertimbangkan, karena bagaimana kita mau menjual buku tersebut ketika si penulis ini bermasalah. Sebagai contoh, ini terjadi ketika ’maaf’ AK seorang guru spiritual diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak buahnya. Saat ia tengah bermasalah, terbitlah sebuah bukunya. Ini jelas sangat berpengaruh terhadap penjualannya. Meskipun saya tidak memiliki data pasti, saya melihat buku itu tidak begitu banyak yang meminati.

Ketika ditanya oleh teman, apa sebenarnya motivasi saya menulis. Saya menulis untuk berbagi pengetahuan, menyalurkan hobi dan beramal melalui tulisan. Saya bukanlah penulis yang profesional, namun saya meyakini tulisan yang bisa diterima oleh pembaca adalah tulisan yang bermakna dan berkarakter. Sekaligus diikuti kredibiltas dan integritas yang baik si penulis. Bukan apa-apa, karena si penulis dan yang ia tulis tentu akan diikuti banyak orang yang membaca karyanya. Sebagai penutup, mari kita jaga integritas kita sebagai penulis, agar tidak menjadi beban ketika di akhirat nanti. Jangan sampai kita menulis, yang kita sendiri tidak melakukan. Naudzubillah min dzalik

Jumat, 02 Juli 2010

Pengalaman Menulis Cahyadi Takariawan


PADA awalnya saya sering diminta panitia acara seminar atau daurah untuk menulis makalah tentang materi yang akan saya sampaikan. Permintaan ini tentu saja sangat memberatkan, karena –maaf— sering kali tidak sebanding dengan fee yang akan diberikan oleh panitia kepada kita.
Ternyata ada nilai lain dari sebuah makalah. Ia bisa dikembangkan menjadi sebuah buku. Tapi jangan membuat buku berjudul “Kumpulan Makalah Seminar”, karena tidak menarik. Apalagi kalau buku “Kumpulan Makalah Gratis”. Makalah harus dikembangkan, bukan saja dikumpulkan.
Buku “Pernik-pernik Rumah Tangga Islami” lahir dari sebuah makalah yang saya tulis untuk Daurah Munakahat tahun 1990. Makalah tersebut saya kembangkan menjadi sebuah buku saat masih menjadi pengantin baru. Buku “Agar Cinta Menghiasi Rumah Tangga Kita” lahir dari makalah yang saya siapkan untuk Daurah Keluarga Samara di Balikpapan, ditambah pengayaan saat diskusi dan tanya jawab di forum daurah. Buku “Refleksi Diri Seorang Murabbi” lahir dari makalah yang saya siapkan untuk Daurah Murabbi sebelum era kepartaian.
Buku “Media Massa Virus Peradaban” lahir dari makalah yang saya siapkan untuk mengisi Pelatihan Jurnalistik saat masih mengurus Balai Jurnalistik Islami (BJI) bersama pak Ilyas Sunnah. Buku “Menjadi Murabiyah Sukses” juga hasil kembangan dari makalah-makalah yang biasa saya sampaikan dalam Daurah Murabbi. Demikian pula buku “Fikih Politik Perempuan”, lahir dari makalah yang saya sampaikan dalam acara Daurah Kemuslimahan di Universitas Islam Bandung.
Ternyata, makalah adalah miniatur buku. Tinggal mengembangkan, ia menjadi sebuah buku.
Selain menulis buku dari makalah, kadang saya menulis buku dari outline yang dibuatkan orang lain. Misalnya buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”, saya menulis dari tawaran outline yang dibuat oleh Pak Afrizal. Saya merasa outline tersebut sangat membantu saya untuk menuangkan ide ke dalam tulisan yang sudah distrukturkan. Oleh karena itu, buku ini termasuk yang cukup cepat pengerjaannya karena telah terbantu oleh outline.
Ada pula buku yang lahir karena pertanyaan dan konsultasi. Buku “Bahagiakan Diri dengan Satu Istri” lahir karena amat banyak pertanyaan baik langsung, maupun lewat sms, telepon, email, dan media lainnya, tentang persoalan rumah tangga. Saya mengemas berbagai pertanyaan tersebut dalam bentuk sistematika buku, dan akhirnya ditulis menjadi buku.
Berbeda pula dengan buku “Memoar Cinta di Medan Dakwah”, yang lahir dari renik-renik peristiwa yang saya jumpai dalam perjalanan jaulah dakwah. Sebagai pengurus Wilayah Dakwah, saya memiliki banyak kesempatan berinteraksi dengan beraneka ragam corak permasalahan di wilayah yang terbantang luas, dari Jogja, Jawa Tengah, Sulawesi, Kepulauan Maluku, sampai Papua. Setiap kali menunaikan amanah jaulah, saya mencatat setiap peristiwa menarik yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi dakwah dan jama’ah.
Saya kira, Pak Eko Novianto menulis “Sudahkah Kita Tarbiyah?” dengan cara yang mirip seperti saya ceritakan. Pak Eko menulis berdasarkan pengalaman, pengamatan, perasaan, intuisi yang langsung didapat dari lapangan dakwah, khususnya Jogja dan Jawa Tengah. Buku “Kemenangan Cinta”  karya Saiful Bahri, seorang ikhwah yang tengah kuliah di Al- Azhar Mesir, ditulis dengan cara yang serupa pula.
Saya mendapat cerita menarik dari Kyai Mujab Mahalli –Allah yarham. Buku beliau “Menikahlah Engkau Menjadi Kaya” saya kritik saat bedah buku karena isinya tidak sesuai dengan judulnya. Beliau menjawab sederhana, “Judul itu untuk pemasaran. Adapun isi, tergantung kita mau nulis apa”. Ternyata, beliau menulis setiap kali hendak mengajar di Pesantren Al Mahalli. Semua pelajaran yang hendak diajarkan, ditulis terlebih dahulu. Tak heran, lebih dari 100 buku telah beliau terbitkan.
            Ada pula orang menulis karena kebutuhan tertentu. Ini pengakuan di Blog Sabil Elmarufie. “Jujur saja, aku terpaksa menulis buku karena punya kebutuhan. Kalau tidak sedang butuh uang, popularitas, dan peningkatan intelektual, aku tidak akan pernah menulis buku. Uang, popularitas, dan peningkatan intelektual (UPPI) adalah segerombolan motivator yang memaksaku menulis buku. Itulah hal pertama yang aku rasakan. Setelah, beberapa karya berupa buku lahir maka minimalnya per tiga bulan aku dapat memenuhi kebutuhan perut, jiwa, dan akalku. Bisa membeli buku, bisa nraktir kawan-kawan, bisa ngasih sedekah ke fakir miskin, utamanya nama kita bisa popular. Intelektualitasku juga semakin bertambah. Sebab, ada dorongan untuk menjejali diri dengan pengetahuan.” Testimoni ini saya kutip dari sabil-elmarufie.blogspot.com.
            Pernah pula saya mengalami hal serupa. Saya menjual naskah buku “Spiritualitas Dakwah” kepada Penerbit Tarbiatuna, karena mobil Katana saya terpaksa turun mesin yang memerlukan biaya hampir 3 juta rupiah di bengkel Pak Burhan. Saya menjual naskah buku “Dialog Peradaban” kepada Penerbit Era Intermedia sekitar tahun 2003 karena kontrakan rumah saya habis dan harus segera membayar sebelum diusir oleh pemilik rumah.
            Akhirnya kebutuhan dana saya waktu itu terpenuhi. Sedangkan di sisi lain, walaupun tidak saya anggap kebutuhan, namun saya mendapatkan pula hasil lainnya. Seperti “dikenal” (belum sampai terkenal), paling tidak jika Anda tulis cahyadi takariawan dan klik di Google, hasilnya akan muncul lebih dari 15.000. Itu semua karena saya menulis buku.
            Lebih menarik lagi, semua perjalanan saya ke luar negeri, adalah karena buku.
            Lalu bagaimana memulai menulis buku? Caranya adalah dengan menulis, menulis, dan menulis. Setelah itu, tulis lagi, tulis lagi dan tulis lagi. Maka jadilah buku (Cahyadi Takariawan, Senior Editor Era Intermedia).