Selasa, 15 Juni 2010

Twitter, Sebagai Cyber Propaganda?


SIAPA yang tak kenal situs jejaring sosial bernama twitter? Twitter adalah sebuah micro-blogging atau blog mikro atau dapat dikatakan sebuah jejaring sosial seperti halnya Facebook. Twitter juga merupakan sebuah jejaring sosial yang cukup ampuh apabila Anda memanfaatkannya untuk mencari relasi dan jaringan dari kalangan Presiden, politisi, artis, jurnalis, dan pebisnis. Twitter juga ampuh dalam memasarkan bisnis online Anda serta sarana ampuh dalam kampanye dan propaganda.

Di Amerika, Twitter sangatlah populer bahkan hampir bisa disamakan kepopulerannya dengan Facebook. Konon pengguna twitter di Indonesia saat ini melonjak tajam. Salah satu hal yang menyebabkan mengapa Twitter begitu populer adalah karena kesederhanaannya serta mampu menjawab tantangan sebuah media sosial untuk saling berkomunikasi secara lebih simpel antar pengguna. Alasan lain karena banyak pengguna facebook yang ramai-ramai hijrah ke twitter, karena anggapan Mark Zuckerberg pendiri facebook seorang Yahudi tulen yang menyuplai dana ke Israel.

Twitter sendiri didirikan oleh 3 orang yaitu Jack Dorsey, Biz Stone, dan Evan Williams pada bulan Maret tahun 2006. Dan baru diluncurkan bulan Juli ditahun yang sama. Twitter adalah jejaring sosial dan micro-blogging dimana kita sebagai pengguna dapat memberikan informasi up-date (perbaruan) informasi tentang diri kita, bisnis dan lain sebagainya.

Bagi Anda yang sudah biasa dengan dunia blog tentunya paham bahwa kita dapat menuliskan artikel ke dalam blog kita. Namun jangan membayangkan bahwa Twitter juga dapat melakukan hal tersebut secara bebas namun disinilah uniknya Twitter. Kita hanya dibatasi 140 karakter untuk menuliskan artikel, tidak bisa gambar dan video. Oleh karena itulah makanya Twitter digolongkan ke dalam jenis micro-blogging. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa orang Indonesia kurang menyukai jenis micro-blogging. Namun Anda dapat menautkan link alamat website, foto, video streaming dll. Disitulah letak kekuatan dan kehebatan dari Twitter. Lebih jauh saya akan membahas twitter sebagai media propaganda.

Twitter sebagai Cyber Propaganda

Propaganda berasal dari bahasa latin ’propangare’  artinya cara tukang kebun menyemaikan tunas suatu tanaman ke sebuah lahan untuk memproduksi tanaman baru yang kelak akan tumbuh sendiri. Dengan kata lain juga berarti mengembangkan atau memekarkan (untuk tunas). Dari sejarahnya, propaganda awalnya digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan dan memekarkan dakwah agama. Sejalan dengan tingkat perkembangan manusia, propaganda tidak hanya digunakan dalam bidang keagamaan saja tetapi juga dalam bidang pembangunan, politik, komersial, pendidikan dan lain-lain.

Media-media propaganda juga kini berkembang seiring perubahan jaman. Dunia maya (cyber) banyak digunakan banyak pihak sebagai media propaganda. Jika selama ini, media massa konvensional tidak bisa menghadirkan ruang publik (public sphere) secara sempurna. Maka media berupa internet menjamin itu. Ada semangat kebebasan yang sangat kuat, sehingga menjadi begitu cair dan lepas. Faktor – faktor ini yang menyebabkan situs jejaring sosial menjadi wahana yang mungkin dalam berbagai upaya pergerakan sosial. Baik sifatnya filantropi, bisnis, sampai politik revolusioner.

Menurut Comstock, ada tiga aspek yang mempengaruhi propaganda yang dilakukan media. Yang pertama adalah pengaruh sosial, kedua perilaku konsumen, dan ketiga adalah sosialisasi. Media-media jejaring sosial memiliki tiga aspek seperti disebut Comstock. Bagaimana dengan twitter? Rasanya twitter saat ini memiliki pengaruh yang kuat bagi penggunanya di Indonesia. Karena kemudahannya juga twitter digunakan banyak orang sebagai sarana sosialisasi baik personal branding, kampanye dan propaganda.

Lalu apa hubungannya twitter dengan propaganda? Jelas ada, dimana banyak pengguna (account) ramai dalam perbincangan baru-baru ini tentang account yang sengaja dibuat untuk membuat black campaign dan propaganda jahat. Bagaimana modusnya? Modusnya mereka menggunakan foto avatar palsu (tidak asli), identitas yang tidak jelas dan membuat status-status yang ngawur. Bahkan mereka menimpali (mention) orang-orang yang tidak disukai oleh mereka dengan kata-kata jahat dan berlebihan. Konon mereka dibayar untuk melakukan hal tersebut.

Block Membungkam Demokrasi

Bagaimana jika terjadi timpalan-timpalan jahat tersebut ditimeline twitter kita? Bagi sebagian orang akan memblocknya atau mengeluarkan orang tersebut dari follower-nya. Alfito Deannova dalam blognya pernah menulis, ia memblock orang yang menghujatnya karena keterlaluan. Indra J. Piliang pun dalam twitternya menyebutkan bahwa memblock adalah hal yang cerdas dilakukan orang jika tidak jelas dan sehat dalam timpalan (mention) diskusi di twitter.

Saya punya pendapat lain tentang hal ini. Bagi Saya, memblock adalah bukti tidak demokratisnya seseorang. Mengapa? Karena kita sering melakukan kritik-kritik pedas kepada orang, namun saat kita dikritik kita tidak menerimanya. Jika ditanya apakah saya pernah dikritik secara pedas? Jawabnya adalah iya. Namun apakah saya memblock orang tersebut? Jawabnya adalah tidak. Hal yang saya lakukan adalah membiarkan saja.

Sangat naif ketika kita sering mengkritik orang, namun ketika dikritik kita tidak terima. Perbedaan dalam diskusi adalah hal yang biasa. Mengutip twitter Indra J. Piliang yang mengutip Anas Urbaningrum (Ketua Partai Demokrat), bahwa politisi harus menyiapkan jantung cadangan. Untuk apa? Agar siap ketika ada serangan jantung mendadak dari orang-orang yang tidak suka dengan kita. Sebagai penutup, ada baiknya kita wise dalam menghadapi perbedaan diskusi ditwitter yang hanya terbatas 140 karakter. Diskusi tatap muka akan menghasilkan konklusi yang lebih baik, percayalah. Wallahua’lam


2 komentar:

yons achmad mengatakan...

tentang cyberpropagandanya dikit, banyaknya tentang lu nggak suka di blok :-p

Edo Segara mengatakan...

Ha3x...

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...