Selasa, 18 Mei 2010

Tambah Produktif Berkat Menikah


"Setelah menikah, produktivitas bisa naik atau turun. Kuncinya komunikasi di antara pasangan."

SEMBILAN bulan lalu, Edo Segara memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai account officer di salah satu bank di Yogyakarta. Keputusan itu diambil karena ia ingin memiliki lebih banyak waktu menemani istrinya yang sedang hamil. Tapi bukan berarti dia berhenti mencari penghasilan. "Saya merintis usaha mandiri," katanya kepada Tempo melalui telepon. 

Edo, yang telah bekerja dua tahun di bank tersebut, bukan termasuk karyawan yang menurun produktivitasnya. Justru, setelah menikah, dia makin bersemangat mendapatkan bonus setiap bulan di luar gaji tetapnya. Alasannya, "Kebutuhan setelah menikah bertambah banyak," ujarnya. Konsekuensinya, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan pekerjaan. Kondisi ini diprotes oleh istrinya. "Saya pada posisi dilema," kata dia. 

Psikolog dari Universitas Indonesia, Yudiana Eka Sari, mengatakan, setelah menikah, karyawan kerap mengalami dilema seperti Edo. Tapi dilema lebih banyak dialami perempuan dibanding laki-laki. Secara alami, kata Yudiana, perempuan lebih menginginkan mengurus suami dibanding memikirkan pekerjaan. "Sifat care-nya lebih besar," katanya. Tapi tetap berkarier atau berhenti bekerja merupakan pilihan. 

Jika memilih tetap bekerja, karyawan perlu berkomitmen akan pekerjaannya. Yudiana menampik jika menikah dijadikan dalih menurunnya produktivitas. "Tidak harus seperti itu," ujarnya. 

Pernyataan serupa dikatakan oleh karyawan personalia perusahaan pupuk nasional Lani Sukma Imtihani. Di tempatnya bekerja, karyawan yang menikah tetap menunjukkan kinerja yang baik. 

Memang beberapa kondisi menunjukkan ketidakdisiplinan karyawan yang baru menikah, misalkan sering molor saat jam istirahat. "Beberapa karyawan pulang menemui keluarganya," ujar Lani. Fenomena ini, menurut Yudiana, lebih berhubungan dengan kedisiplinan saat bekerja. "Ini soal komitmen," katanya. 

Membagi waktu untuk pekerjaan atau keluarga, kata Yudiana, bisa diantisipasi dengan komunikasi yang efektif di antara suami dan istri. "Ajak pasangan berdiskusi," katanya. Yudiana justru menilai menikah seharusnya membuat karyawan lebih bersemangat. Baik perempuan maupun laki-laki masih bisa berprestasi dalam karier jika saling mendukung. 

Saat menghadapi persoalan kantor, seorang suami atau istri bisa bertukar pendapat dengan pasangan. Kegagalan komunikasi di antara pasangan bisa berpengaruh buruk terhadap kinerja di kantor. Hal ini dialami seorang staf creative design perusahaan periklanan, Arya Kumbara, yang baru menikah tahun lalu. 

Menurut Iskandar Setionegoro dari Principal Consultant IM Consulting, membawa urusan pribadi ke kantor--atau sebaliknya--berakibat buruk. Bukan hanya produktivitas yang menurun, urusan rumah tangga pun bisa terbengkalai. Ia menyarankan, sebaiknya karyawan tidak mencampuradukkan pekerjaan kantor dengan urusan pribadi. 

Pria 24 tahun itu pernah diberi sanksi pemotongan gaji karena telat menyelesaikan pekerjaan. Gara-garanya, Arya gagal menyelesaikan perbedaan dengan sang istri. "Ini menguras waktu dan pikiran saya," katanya. 

Sebenarnya membawa urusan pribadi ke kantor merupakan hal yang biasa bagi karyawan, dan itu tak perlu dinilai sebagai sesuatu yang mengganggu. Bahkan, saat ini, kata Iskandar, ada beberapa perusahaan yang tak memandang urusan rumah tangga karyawan sebagai urusan yang terpisahkan dari kepentingan perusahaan. 

Di Jakarta, misalnya, ada perusahaan bidang otomotif yang setiap tahun, pada Hari Kartini 21 April, menggelar program khusus untuk karyawati dan istri karyawan. Tujuannya agar setiap keluarga karyawan mampu menyelesaikan persoalan rumah tangga. "Kalau urusan rumah oke, prestasi suami atau istri tambah moncer," ujar Iskandar. AKBAR TRI KURNIAWAN
  
Sumber: http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/05/02/karir/index.html

1 komentar:

mioariefiansyah mengatakan...

salut dengan keyakinannya

salut salut