Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2010

Menghitung Kembali Peran Gerakan Mahasiswa

Gambar
DINAMIKA pergerakan mahasiswa memang selalu menarik untuk kita bahas dan kita diskusikan. Mengapa? Karena kemerdekaan Indonesia dari penjajahan tidak lepas dari perjuangan mahasiswa pula. 20 Mei 1908 merupakan kelahiran organisasi pemuda dan mahasiswa bernama Boedi Oetomo . Gerakan tersebut turut membidani kemerdekaan Indonesia. Organisasi tersebut mempelopori kelahiran-kelahiran organisasi  kepemudaan berikutnya. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa pertama. Mereka menyatakan organisasi ini independen terhadap partai Islam dan organisasi keagamaan besar Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Sebagai organisasi mahasiswa, HMI tidak bercorak politik melainkan suatu organisasi kader yang bersifat intelektual, walaupun dalam perang kemerdekaan, banyak diantara anggotanya, seperti Ahmad Tirtosudiro, melibatkan diri dalam perjuangan bersenjata. Berkembangnya organisasi dan gerakan mahasiswa baru terus terjadi, ketika telah terbentuk basis sosial yang cuk

Tambah Produktif Berkat Menikah

Gambar
"Setelah menikah, produktivitas bisa naik atau turun. Kuncinya komunikasi di antara pasangan." SEMBILAN bulan lalu, Edo Segara memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai account officer di salah satu bank di Yogyakarta. Keputusan itu diambil karena ia ingin memiliki lebih banyak waktu menemani istrinya yang sedang hamil. Tapi bukan berarti dia berhenti mencari penghasilan. "Saya merintis usaha mandiri," katanya kepada Tempo melalui telepon.  Edo, yang telah bekerja dua tahun di bank tersebut, bukan termasuk karyawan yang menurun produktivitasnya. Justru, setelah menikah, dia makin bersemangat mendapatkan bonus setiap bulan di luar gaji tetapnya. Alasannya, "Kebutuhan setelah menikah bertambah banyak," ujarnya. Konsekuensinya, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan pekerjaan. Kondisi ini diprotes oleh istrinya. "Saya pada posisi dilema," kata dia.  Psikolog dari Universitas Indonesia, Yudiana Eka Sari, mengatakan,

Peran Marketing Politik dalam Pilkada Sleman

Gambar
MESKIPUN Pemilu sudah usai, namun diskusi tentang marketing politik masih menarik untuk dikaji. Mengapa? Selain domain marketing politik relatif baru, hal lain juga karena Pemilihan Kepala Daerah akan segera berlangsung di daerah-daerah untuk memilih Gubernur, Bupati dan Walikota. Di Yogyakarta sendiri akan berlangsung pemilihan Bupati di Kabupaten Sleman. Calon incumbent ada Sri Purnomo - Yuni Satia Rahayu yang diusung oleh PAN, PDIP, dan Gerindra. Kemudian ada Hafidh Asrom - Sri Muslimatun yang diusung oleh Demokrat, PKS, PPP, dan PKPB. Zaelani - Heru Irianto Dirjaya yang diusung oleh Golkar, PDP, PKNU, dan Hanura. Sukamto - Suhardono diusung PKB dan koalisi pelangi. Dan terakhir tiga pasangan dari calon independen, diantaranya: Bugiakso - Kabul Mudji Basuki, Mimbar Wihyono - Wening, Achmad Yulianto - Nuki W. Dalam tulisan singkat ini saya ingin mengulas peran marketing politik dalam Pilkada. Sederhananya marketing politik adalah penerapan ilmu marketing

Gus Dur dan Ekonomi Islam

Gambar
TANGGAL 30 Desember 2009, KH. Abdurrahman Wahid atau kyai yang akrab disapa dengan Gus Dur ini tutup usia. Mantan Presiden RI ke- 4 dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini meninggal karena sakit komplikasi diabetes, ginjal, dan stroke. Kyai yang lahir di Denayar, Jombang, Jawa Timur pada 4 Agustus 1940 ini dikenal sebagai kyai yang berhaluan Islam Liberal. Padahal jika melacak keterlibatannya terhadap pemikiran Islam, Gus Dur pernah mengikuti jalan pikiran Ikhwanul Muslimin, sebuah kelompok gerakan Islam terbesar di Mesir. Namun, ketika Gus Dur tertarik mendalami nasionalisme dan sosialisme Arab di Mesir dan Irak, ketika masih menjadi mahasiswa di Al-Azhar Kairo dan Universitas Baghdad Irak, pemikiran keislaman Gus Dur berubah 360 derajat. Termasuk pemikiran Gus Dur tentang ekonomi Islam. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, perlu kiranya saya ulas pandangan Gusdur tentang ekonomi Islam yang ia tulis dalam bukunya, ”Islamku, Islam Kita, Islam anda; Agama

Wajah Media dalam Pemberitaan Lapindo

Gambar
TAK ada yang menyangkal bahwa media memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pers berfungsi memenuhi hak tahu masyarakat. Bahkan media menyandang pilar keempat dalam kehidupan berdemokrasi. Konsep Trias Politika membagi kekuasaan menjadi tiga kekuatan, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Ketika semua lembaga tersebut mandul, maka pers berperan kuat membongkar kemandekan itu. Lihat saja ketika kasus Bibit dan Chandra yang dikriminalisasi oleh Kepolisian dan Jaksa. Peran pers sangat kuat pada saat itu, sampai-sampai menggerakan people power untuk turun ke jalan dan pada hasilnya kedua Pimpinan KPK tersebut dibebaskan. Namun euforia membanggakan media cukup sampai disitu dahulu, karena ternyata banyak juga ’borok’nya. Selain sebagai pendulang pundi-pundi keuangan, media menjadi alat yang ampuh untuk menyetir opini masyarakat. Apa maksudnya menyetir opini? Ya, dengan berita yang disampaikan oleh media, mereka bisa leluasa memberitakan dengan sudut pandang a

Tamasya Sejarah Bersama Hatta

Gambar
JIKA masih hidup, dan diminta melukiskan situasi sekarang, Mohammad Hatta hanya akan perlu mencetak ulang tulisannya 40 tahun lalu: "Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot. "Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai." Hampir tidak ada yang perlu diubah-kalimat demi kalimat, kata demi kata. Krisis politik, ekonomi, dan konstitusi. Krisis serupa yang ditulis Hatta itu kini menghantui Indonesia lagi, setengah abad setelah Megawati Sukarnoputri menyimpan boneka mainannya, Amien Rais tak lagi bermain gundu, dan Jenderal Endriartono Sutarto menukar ketapel karetnya dengan senapan M-16. Tidak ada yang baru di kolong langit, kata orang. Sejarah adalah repetisi pengalam

Dr. Yusuf Qardhawi; Ulama Moderat yang Rajin Menulis

Gambar
DR. YUSUF QARDHAWI lahir di Desa Shafth, Turab, Provinsi Manovia, Mesir, pada 1926 ini pemikirannya telah banyak dikenal di Indonesia. Sekitar 70-an bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia . Sudah lebih dari 125 judul buku dia tulis untuk menjawab berbagai persoalan terkini yang dihadapi umat. Tak hanya dikenal, fatwa-fatwa Qardhawi juga mudah dicerna dan diterima berbagai lapisan umat.   Sejak kecil, Qardhawi sudah dikenal sebagai anak yang pandai dan kritis. Pada usia 10 tahun, ia sudah hafal Alquran. Ia menyelesaikan pendidikannya di Ma'had Thantha dan Ma'had Tsanawi. Setelah itu, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin, dan lulus tahun 1952. namun, gelar doktoralnya baru diperoleh pada tahun 1972 dengan disertasi berjudul "Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan." Disertasinya telah disempurnakan dan dibukukan dengan judul Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan

Doa yang (Belum) Terjawab

Gambar
KADANG kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tidak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan, bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain dengan sangat mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya- tanpa susah payah. Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat dan kita masih jauh dari cukup. Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum punya anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti