Sabtu, 17 April 2010

UII, Bukan Sekedar Kampus Biasa (2)

DALAM sejarahnya ada 3 raison d’etre (latar belakang) kemunculan Universitas Islam Indonesia (UII) disaat situasi rakyat Indonesia memperjuangkan kemerdekaan negara tercinta ini. Pertama, UII hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan yang hanya menyelenggarakan proses pendidikan, tetapi juga ingin melakukan pembelajaran terhadap bangsanya pada tingkat perguruan tinggi. Kedua, momentum perjuangan bangsa untuk melakukan restrukturisasi politik setelah bertahun-tahun berada dibawah kekuasaan asing, telah melahirkan dan menumbuhkan kesadaran pendidikan dan pengajaran yang lebih modern. Ketiga, UII ingin mencoba melakukan sosialisasi ajaran Islam melalui pendidikan tinggi.

Ketiga hal pokok diatas bisa dipahami bahwa UII hadir bukan hanya sebagai Universitas biasa. Ada misi yang sangat luhur dari pendirian UII dimana tampak sangat jelas pada poin ketiga keinginan dari berbagai elemen Islam pada saat itu, dengan kesadaran tinggi merumuskan pola dan sistem dimana output yang diharapkan sangat berkomitmen terhadap ajaran Islam sekaligus pengembangan ilmu dan teknologi. Logislah kiranya , bahwa pendirian awal UII lebih menekankan pada pemilihan Fakultas maupun jurusan yang dianggap memiliki korelasi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan keimanan.

Dalam Buku “Sejarah dan Dinamika UII” yang ditulis oleh Badan Wakaf tahun 2003 disebutkan bahwa kehadiran UII bukan sekedar mengembangkan amanah scientifical achievement. UII justru berbeda dengan Universitas lain, disamping menjunjung tinggi scientifical achievement, juga memiliki beban sebagai pengenalan sekaligus pengembangan perpaduan antara iman dan ilmu. Hal ini tidak mudah bagi UII, ketika tuntutan-tuntutan pengembangan akademis yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menutup kemungkinan menyeret UII pada kesulitan membuat distansi yang jelas antara misi akademis dan non-akademis. Belum lagi jika hal ini dikaitkan dengan rumusan-rumusan ke-Islaman yang dalam pandangan civitas akademika UII sangat dikenal dengan paradigma IPTEK.

Dalam sejarahnya juga UII pernah diupayakan untuk menjadi Universitas Islam Internasional. Hal ini dengan harapan, bahwa UII akan dijadikan sebagai Universitas Islam yang memenuhi standar dan kualitas pendidikan yang dapat bersaing pada tingkat Internasional. Namun saat itu UII ”gagal” menjadikan dirinya sebagai Universitas Internasional. Alhasil, beberapa langkah konstruktif kemudian dilakukan. Sehingga upaya UII saat ini untuk menjadikan kampusnya sebagai World Class University adalah sebagai upaya keterlanjutan cita-cita lama UII yang belum terwujud. 

UII Menuju World Class University 

UII boleh gembira karena pemeringkatan pada Webomatrics yang saat ini menempatkan UII pada peringkat 3821 di dunia. Visi untuk menjadikan UII menuju World Class University perlahan-lahan tampak terwujud. Tak heran memang, karena UII memiliki pemimpin yang memiliki visi yang kuat dalam hal ini. Terbukti Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec kembali terpilih sebagai Rektor untuk periode 2010 -2015.

Tindak lanjut dari keseriusan tersebut, Jum’at 26 Juni 2009, Universitas Islam Indonesia kembali menggelar seminar bertajuk ‘Potensi UII Menuju World Class University’ di Gedung Prof. dr. Sardjito. Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara seperti: Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. selaku Rektor UII periode 2010-2015, Ir. Hendarman, M.Sc. Ph.D. selaku Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti Depdiknas, Prof. Shunitz Tanaka, dari Hokaido University, dan Direktur Pendidikan Institut Teknologi Bandung, Dr.Ir. Ichsan Setya Putra dan dipandu oleh Munrokhim Misanam, M.A.Ec., Ph.D. selaku moderator .

Dalam kesempatan tersebut Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti Depdiknas, Ir. Hendarman, M.Sc.,Ph.D., menyebutkan ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk menaikkan daya saing UII ke dunia internasional diantaranya reputasi, riset, lulusan, partisipasi internasional yang semuanya juga merupakan indikator World Class University. Pernyataan ini diperkuat oleh Dr. Ir. Ichsan Setya Putra Direktur Pendidikan ITB, yang menjelaskan tentang kualifikasi penentu world class university adalah banyaknya penelitian, budaya menulis, program edukasi yang terkait dengan research menurutnya merupakan faktor yang penting.

Terkait strategi internasionalisasi universitas, Prof. Shunitz Tanaka, dari Graduate School of Environtmental Earth Science, Hokaido University, memberi tiga masukan kepada UII: Pertama, dengan meningkatkan program exchange (pertukaran) sivitas akademik dengan perguruan tinggi luar negeri. Kedua, dilakukan peningkatan jumlah mahasiswa asing yang menempuh studi di Hokaido University. Ketiga, dilakukan dengan meningkatkan hubungan dan jaringan internasional dan dilengkapi dengan menggalakkan program-program kerjasama internasional. 

Melibatkan Mahasiswa dalam Riset 

Disebutkan dalam seminar UII menuju World Class University, bahwa kendala yang banyak dihadapi perguruan tinggi pada umumnya, seperti jumlah dosen peneliti yang hanya sekitar 30-40%, jumlah mahasiswa S3 yang hanya sekitar 2%, pembiayaan riset yang kurang memadai, minimnya sarana dan prasarana, pengorganisasian yang kurang optimal. Selanjutnya budaya riset terkait dengan publikasi, jejaring, dan responsibilitas terhadap riset juga menjadi bagian penting yang bila tidak dimaksimalkan akan menghambat upaya menuju World Class University.

Terkait kondisi seperti jumlah dosen peneliti yang hanya sekitar 30-40%, jumlah mahasiswa S3 yang hanya sekitar 2%, pembiayaan riset yang kurang memadai, minimnya sarana dan prasarana, pengorganisasian yang kurang optimal ini harusnya menjadi perhatian yang serius untuk UII. Penulis memang tidak mempunyai data yang akurat serta valid tentang berapa persen tingkat penelitian yang dosen lakukan di UII. Namun dari persinggungan penulis dengan beberapa dosen - dosen UII menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan dosen di UII memang masih sangat minim. Ini pun tidak hanya terjadi di UII, tapi hampir semua kampus yang ada di Indonesia.

Hal seperti minimnya penelitian dan publikasi dikalangan dosen sebenarnya bisa disiasati dengan melibatkan mahasiswa dalam penelitian-penelitian dosen. Selama penulis menjadi Mahasiswa, sebenarnya hal ini sudah dilakukan oleh beberapa dosen, namun belum dilakukan secara keseluruhan. Jika ini bisa dilakukan, sungguh Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang sangat berarti dalam penelitian-penelitian yang melibatkan mahasiswa ini. Misal, mahasiswa dilibatkan dalam mengidentifikasi masalah yang diteliti dan pengumpulan data (mengisi kuesioner, mengambil bagian dalam wawancara atau dalam kelompok fokus). Ini tentunya memudahkan dosen dalam meningkatkan produktivitas peneletiannya. Tentu hal ini tidak akan berjalan jika UII sendiri tidak membantu dalam membiayai riset-riset dosen.

Sebagai penutup penulis ingin menyampaikan bahwa pencapaian UII sudah cukup baik sampai detik ini. Masukan yang terbilang bukan hal baru ini, semoga bisa teralisasi. Karena masukan terkait pelibatan mahasiswa dalam penelitian-penelitian dosen sudah lama diusulkan. Dengan pelibatan mahasiswa dalam penelitian-penelitian ini, saya yakin akan menjadi nilai tambah bagi UII sebagai pilihan calon mahasiswa yang ingin belajar di UII sebagai kampus idamannya. Dan jangan lupa visi menjadikan UII menjadi World Class University tidak akan terwujud tanpa kerja keras dan komitmen bersama civitas akademika di UII dalam meningkatkan kinerjanya. Wallahua’lam 

Nb. Tulisan ini guna diikutkan dalam lomba blog UII http://blog.kompetisi.uii.ac.id/, semoga bermanfaat.

Sumber pict: www.uii.ac.id

3 komentar:

Team Ronggolawe mengatakan...

Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

Zool World mengatakan...

Blogmu kapan ganti baju Do?

ABe @ sepaXbola.info mengatakan...

hidup UII.. huehe

salam kenal :-)

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...