Kamis, 25 Februari 2010

UII, Bukan Sekedar Kampus Biasa (1)

ARTIKEL ini saya tulis berawal dari keisengan saya membuka website resmi UII www.uii.ac.id. Rupanya UII sedang mengadakan blog contest (lomba blog). Lalu munculah beberapa ide-ide sederhana yang sebenarnya sudah lama ada diotak saya, yang ingin saya tulis untuk kemajuan UII. Beberapa hal yang saya ulas dalam tulisan ini sebenarnya sudah sering saya sharing-kan dengan beberapa dosen dikampus almamater saya, namun tampaknya beberapa hal belum banyak diaplikasikan. 

Saya mulai dari pengalaman saya ketika keluar (lulus) dari kampus UII. Ya, tentunya setiap orang yang sudah lulus pasti ingin bekerja. Alhamdulillah setelah lulus dari UII, tidak sampai satu bulan menganggur saya mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus. Sebenarnya tidak menganggur karena sebelumnya saya membantu seorang dosen ekonomi UII untuk membantu penelitian-penelitiannya. Namun, karena peristiwa gempa pekerjaan itu harus saya tinggalkan karena saya terpanggil untuk menjadi relawan.

Back to masalah kerjaan, dalam pekerjaan tersebut saya mendapatkan posisi sebagai marketing public relation disebuah perusahaan retail lokal terkenal di Jogja. Marketing public relation merupakan upaya pemberian informasi, pendidikan dan upaya peningkatan pengertian lewat penambahan pengetahuan mengenai suatu merek produk, Jasa, perusahaan sehingga lebih kuat dampaknya dan agar lebih lama diingat oleh konsumen. Dalam istilah pakar pemasaran, Philip Kotler: “Marketing Public Relations diciptakan untuk menambah atau memberikan nilai bagi produk melalui kemampuan yang unik untuk menunjukkan kredibilitas pesan produk.”

Jujur awalnya saya tidak begitu banyak tahu tentang Marketing Public Relations. Bahkan awal-awal kerja cukup stress dan rekoso karena ternyata teori-teori dikuliah tidak banyak membantu saya dalam bidang tersebut. Konsultan diperusahaan tersebut sering mengkritik saya bahwa tidak ada program yang baru ditawarkan oleh saya. Itulah yang saya rasakan waktu awal-awal bekerja. Ada semacam kebingungan ketika teori-teori kuliah tidak diimbangi dengan praktik. Alhamdulillah saya banyak terbantu dengan pengalaman saya di organisasi eksternal kampus sebagai humas. Meskipun berbeda, karena perusahaan berorientasi profit sedangkan organisasi hanya bersifat nirlaba. Namun pengalaman saya tersebut banyak membantu.

Sedikit cerita diatas tentunya bukan untuk menceritakan bagaimana saya bekerja dll. Namun satu hal penting yang ingin sampaikan bahwa kehebatan kita dalam teori-teori kuliah, belum tentu kita lihai dalam praktik. Mahasiswa yang ber-IPK tinggi belum tentu bisa bekerja maksimal ketika memasuki dunia kerja. Bahkan beberapa diantaranya ada yang stres dan memilih mundur dalam pekerjaannya. Mungkin benar adanya anekdot tentang mahasiswa cumlaude cocoknya menjadi akademisi, mahasiswa pas-pasan IPK-nya menjadi karyawan, mahasiswa ber-IPK rendah menjadi pengusaha.

Tapi saya tidak ingin membahas anekdot tersebut karena tentunya fase tersebut harus kita lewati semua. Maksud saya melewati itu semua adalah kalau kita mau menjadi pengusaha harusnya kita lewati dulu masa-masa menjadi karyawan. Nah, setelah kita banyak belajar diperusahaan tersebut, tentu kita tidak ingin selamanya jadi karyawan dan orientasi kita kedepan adalah memiliki usaha sendiri setelah bosan jadi pegawai. Nah, yang menjadi persoalan adalah dikampus kita hanya dicekoki dengan teori-teori tanpa praktek. 

Laboratorium Bisnis untuk Mahasiswa 

Laboratorium bisnis menjadi penting bagi mahasiswa agar tidak gagap mengahadapi dunia kerja. Ya, ide ini sebenarnya pernah saya sampaikan ke beberapa dosen agar UII khususnya kampus ekonomi agar banyak mendirikan laboratorium bisnis. UII banyak tertinggal jauh dengan kampus lain, tanpa bermaksud mebanding-bandingkan. Lihat saja AMIKOM, yang sering jadi bahan guyonan karena slogannya “Tempat kuliahnya orang Berdasi” Namun guyonan ini bisa dijawab oleh kampus ini dalam memotivasi mahasiswanya untuk berorientasi menjadi enterpreuner (pengusaha). Dan hasilnya AMIKOM sendiri banyak mendirikan unit usaha dan mencetak mahasiswa-mahasiswanya menjadi pengusaha.

Contoh lain juga bisa kita lihat dari kampus UGM, yang berhasil mendirikan beberapa unit usahanya seperti Wisma (penginapan), Hotel, Rumah Sakit, Bank Perkreditan Rakyat, Koperasi Mahasiswa, Koperasi Pegawai, Swalayan, Mall (meski bangunannya gagal karena tidak mendapat ijin), penerbitan, dan masih banyak lagi. UGM pun berhasil mencitrakan kampus ini sebagai kampus riset yang banyak melibatkan mahasiswanya. Bahkan diantara mahasiswanya banyak yang menerima penghargaan dalam inovasi-inovasi produk. Kampus negeri lain seperti UNY pun tak ingin ketinggalan, mereka menyiapkan unit usaha seperti hotel, swalayan, dll.

Bukan berarti UII kalah dengan mereka. UII bahkan sudah memiliki rumah sakit sendiri, Jogja International Hospital (UII). Untuk kampus ekonomi UII memiliki laboratorium bisnis keuangan syariah seperti BMT, penerbitan, perusahaan properti, penerbitan, serta lembaga zakat. Namun ini dirasa belum cukup, karena Rumah Sakit seperti JIH sendiri, mahasiswa kedokteran belum banyak memanfaatkan kehadiran JIH sebagai tempat magangnya. BMT dengan sebegitu banyak mahasiswa dikampus ekonomi, tentu tidak bisa memfasilitasi semuanya. 

Ada kekhawatiran memang ketika dosen dan pihak Universitas banyak mengurusi bisnis, kegiatan mengajar mereka bisa terganggu. Menurut saya tidak, karena justru pengalaman membuat perusahaan itulah yang akan mematangkan para dosen dalam mengajar, sehingga ketika mereka mengajar mereka tahu juga akan praktiknya.

Jika selama ini banyak bank yang masuk di UII (seperti Bank Mandiri, Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, Bank Bukopin), mengapa UII tidak membuat bank sendiri? Sehingga potensi keuangan UII yang besar bisa dirasakan oleh civitas dan keluarga besar UII sendiri. Jangan muluk-muluk bikin bank umum yang tentunya harus memiliki kecukupan modal yang besar, cukup buat saja BPR seperti UGM yang hanya memerlukan modal awal satu milyar saja ketika disetor. Karena UII bernafaskan Islam, kita buat saja Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Apakah bisa? Tentu bisa. Banyak alumni UII yang tersebar didunia perbankan syariah. Tentu mereka dengan senang hati membantu almamaternya.

Setelah bank lalu apalagi? Bisa kita mulai dengan Hotel (penginapan) syariah. Saat wisuda, banyak orangtua diluar kota yang mencari penginapan. Kondisi seperti ini tentunya menjadi peluang bagi UII dalam bisnis ini. Atau Swalayan, selama ini pasar retail dikuasai oleh franchise seperti Alfamart, Indomaret, Care Four, Super Indo, Circle-K, dll. Dengan begitu banyak mahasiswa UII, tentunya bisnis retail sangat menguntungkan bagi UII. Dan masih banyak sektor-sektor bisnis lain yang bisa digarap oleh UII. Alhasil kelak unit-unit bisnis ini kelak bisa menjadi tempat magang para mahasiswa bahkan kelak dikaryakan disana. 

Bukan Sekedar Universitas 

Pendirian Alumni Career Center (ACC) UII sebenarnya sudah cukup baik. Lembaga ini cukup banyak membantu para alumni untuk mencari pekerjaan. Tapi dari sejumlah banyak mahasiswa UII, tentunya tidak bisa semuanya terfasilitasi. Nah, jika begini kondisinya, harusnya mahasiswa diarahkan menciptakan lapangan pekerjaan, bukan mencari lapangan pekerjaan. Langkah AMIKOM cukup baik untuk ditiru oleh UII dengan mengadakan banyak training kewirausahaan berkelanjutan. Dikuliah memang sudah ada mata kuliah kewirausahaan, namun menurut saya ini belum cukup. Perlu training yang berkelanjutan dan langsung diisi oleh motivator bisnis dan pengusaha-pengusaha sukses untuk berbagi pengalaman bisnis.

Jika sudah ada bank yang dimiliki UII, para mahasiswa yang memiliki sense (kemauan) bisnis yang bagus bisa difasilitasi dengan pendanaan-pendanaan. Memang saat ini sudah ada program dari Kementrian Koperasi dan UMKM, Bapak Syarif Hasan untuk memberi fasilitas pendanaan bagi para mahasiswa yang baru lulus dengan hanya menjaminkan ijasahnya. Namun dalam prakteknya, mahasiswa banyak kesulitan untuk mengakses dana-dana lunak yang berasal dari pemerintah (alias prosedur berbelit-belit).

Dalam training-training kewirausahaan juga mahasiswa bisa distimulus dengan adu proposal pendirian bisnis dan bagi peserta yang bagus bisa difasilitasi dengan pemberian dana untuk modal usaha mereka. Tidak hanya itu, setelah kita kasih dana, usaha-usaha mahasiswa fresh graduate ini terus kita awasi dan kita bina sehingga usahanya semakin berkembang. Dengan kapasitas dosen-dosen yang banyak mengkonsultani perusahaan-perusahaan nasional, ini bukan pekerjaan yang sulit tampaknya bagi mereka (red. Dosen UII).

Seperti dalam salah satu buku, “It’s Not About Coffe” (Bukan Sekedar Kopi) karya Howard Behar, perusahaan seperti Starbucks bisa menjadi sukses karena konsep kopi mereka yang bukan sekedar kopi. Mengapa? Karena kopi bisa dijual dimana saja, diwarung-warung, burjo atau kedai kopi, namun mengapa outlet –outlet seperti Starbucks tetap selalu menjadi pilihan banyak orang untuk minum kopi atau sekedar ngobrol. Ini tentu karena minuman Starbucks bukan sekedar minuman kopi biasa. Singkatnya, pesan yang bisa diambil dari buku ini adalah bahwa kita harus menjadi bukan sekedar orang biasa atau perusahaan biasa.

Untuk ukuran Universitas, harusnya UII tidak sekedar menjadi Universitas pada umumnya. UII harus selangkah lebih maju ketimbang lainnya. Kampus lain memiliki unit usaha, UII harus kerja keras untuk berinovasi yang lain. Rumah Sakit JIH menjadi stimulus kiranya agar UII melakukan banyak inovasi lainnya. Jika sekedar, menjadikan UII sebagai kampus riset, itu mah memang sudah seharusnya kampus melakukan hal tersebut. Nah, UII harus mencari perbedaan untuk lebih unggul, bukan sekedar berbeda. Seperti pendirian Bank Syariah, disaat yang lain tidak memiliki ini menjadi poin plus buat UII. Sehingga kelak di yaumil akhir, pendiri UII seperti M. Natsir dan Kahar Muzakir akan bangga dengan keunggulan UII. Sehingga bukan tidak mungkin UII menjadi Perguruan Tinggi idaman banyak orang karena lebih menjanjikan para alumninya. Wallahua’lam


Nb. Tulisan ini guna diikutkan dalam lomba blog UIIhttp://blog.kompetisi.uii.ac.id/, semoga bermanfaat. 

Sumber pict: http://tutinonka.wordpress.com/2008/11/29/from-home-to-campus/

Senin, 01 Februari 2010

Mempertanyakan Idealisme Pengelola Institusi Syariah

PERKEMBANGAN institusi bisnis atau sosial dalam membangun perekonomian syariah turut menggembirakan kita semua sebagai masyarakat muslim yang mayoritas. Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), Baitul Mal wa Tamwil (BMT), Asuransi Syariah, Lembaga Zakat, Leasing Syariah, Lembaga Pendidikan Syariah dll. bertebaran dimana-mana. Kalau dulu riba hanya didiskusikan oleh kalangan cendikiawan muslim. Kini, praktik bisnis yang tidak memungut riba sudah bisa diterapkan setelah diskusi hampir puluhan tahun. Hal ini sangat membanggakan kita semua dimana ekonomi syariah menjadi solusi dari problem ekonomi bahkan krisis global sekalipun.

Namun patut disayangkan, perkembangan ini tidak diikuti dengan idealisme para pengelolanya. Seorang kawan pernah curhat kepada saya, bahwa ia melamar disebuah perbankan syariah. Kawan saya bercerita bahwa ia boleh diterima dilembaga tersebut dengan syarat menggunakan jilbab yang lebih kecil, menggunakan celana dan menggunakan hak tinggi. Dari penuturan tersebut saya kaget bukan main, ternyata masalah seperti itu masih dipermasalahkan oleh institusi keuangan syariah. Dalam perekrutan lembaga bisnis atau sosial juga masih mempersyaratkan status single atau belum menikah untuk masuk ke lembaga tersebut. Apa masalahnya jika orang sudah menikah?

Ada juga seorang kawan yang curhat dengan saya, ia tidak bisa menikah setelah masuk disalah satu bank syariah karena dipersyaratkan selama dua tahun tidak boleh menikah. Malang nian kawan saya tersebut, padahal kewajiban menikah menjadi ’wajib’ ketika mereka sudah mampu dan mendesak untuk menghindari zina. Parahnya, selain melarang menikah mereka justru membiarkan karyawannya ikhtilat (bercampur antara laki-laki dan perempuan) bahkan ada yang pacaran sembunyi-sembunyi. Sungguh ini kisah yang tragis dalam sebuah lembaga keuangan syariah. Bukankah menikah dianjurkan dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad?

Masalah lain juga ada pengelola lembaga keuangan syariah yang mengabaikan prinsip-prinsip dalam al-Qur’an seperti merokok, berboncengan karyawan putra dan putri, bahkan ada pegawai bank syariah yang suka dugem, naudzubillah min dzalik. Untungnya kejadian pegawai bank syariah yang suka dugem ini saya dengar bukan terjadi di Yogyakarta, namun untuk pegawai bank yang masih merokok dan berboncengan masih suka saya temukan di intitusi keuangan syariah di Yogyakarta tanpa perlu menyebut institusinya.

Masalah-masalah diatas belum termasuk pengelolaan keuangan syariah dimana masih ada bank syariah dan lembaga keuangan syariah yang menggunakan akad murabahah (konsumtif) untuk pembiayaan usaha. Ada juga pembiayaan akad murabahah (jual-beli) yang diberikan uang, bukan dalam bentuk barang. Dan parahnya juga masalah ini didiamkan oleh lembaga pengawas yang bersangkutan. Masalah lain adalah pengambilan bagi hasil meskipun si debitur mengalami kerugian. Lalu muncul pertanyaan dalam benak saya, apa bedanya dengan perbankan konvensional?

Opini saya diatas tidak berpretensi menjelek-jelekkan institusi keuangan yang sangat fenomenal perkembangannya saat ini, karena saya juga sesama pejuang ekonomi syariah. Tapi opini ini semata-mata untuk saling memberi nasihat (masukan) seperti disyariatkan al-Qur’an dalam (Qs. Al-Asr) dan menginginkan adanya perubahan yang lebih baik dalam tata kelola bisnis dan sosial institusi ekonomi syariah. Dengan sedikit demi sedikit berbenah, maka insya Allah bisnis dan lembaga sosial yang kita jalankan semakin barokah dan dirahmati oleh Allah SWT. Jika ada khilaf penulis memohon maaf, afwan minkum. Wallahua’lam