Kamis, 10 Desember 2009

Membangun Citra Gerakan Islam

RESENSI BUKU

Judul : Humas Gerakan
Penulis : Edo Segara.
Halaman : 146 Halaman.
Cetakan : Pertama, November 2010.
Penerbit : Muda Cendekia, Jakarta.
Harga : Rp. 30.000,-

Citra gerakan Islam seringkali diidentikkan dengan gerakan yang keras dan radikal. Image ini tentunya merugikan kaum muslim secara keseluruhan. Informasi yang tidak berimbang juga kerap ditampilkan beberapa media untuk menyudutkan gerakan Islam. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Front Pembela Islam (FPI) misalnya, sering dijadikan sasaran tembak media untuk mencap sebagai organisasi teroris. Pondok Pesantren Ngruki, Solo juga dicitrakan sebagai sekolah sarang teroris. Padahal tuduhan-tudahan ini hanya justifikasi dan generalisasi masalah yang selama ini ada. Maka, sebagai gerakan Islam diperlukan kemampuan humas untuk mengimbangi gempuran citra miring tersebut.

Di Qatar ada sebuah stasiun TV yang bisa mengimbangi pemberitaan-pemberitaan media Barat yang sering menyudutkan umat Islam. Bahkan stasiun TV ini sering mempublikasikan statement (pernyataan) Osama Bin Laden, Pimpinan Jamaah Islamiyah. Diluar dugaan, setelah dilacak stasiun TV ini hanya stasiun TV kecil di daerah tersebut. Namun mampu mengimbangi bahkan mengcounter reportase media-media Barat dalam pemberitaan dunia Islam. Apa kunci stasiun TV ini bisa begitu memukau, tak lain karena jaringan. Jaringan yang membuat stasiun TV kecil ini menjadi besar dan ditakuti.

Dalam buku ini dibahas secara detail mengenai bagaimana membangun citra gerakan melalui fungsi humas baik secara konsep ataupun praktik yang dijelaskan melalui tahapan dan skema-skema jaringan. Etika dalam membangun jaringan, karakteristik seorang humas gerakan, manajemen humas gerakan dll.

Humas memiliki posisi yang sangat penting dalam sebuah organisasi gerakan, terutama bila organisasi gerakan tersebut banyak berinteraksi dengan masyarakat luas. Humas sangat menentukan perwajahan organisasi tersebut di mata masyarakat luas. Hal tersebut disebabkan karena humas-lah sebagai salah satu front liner penting dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Humas menentukan kesan positif sebuah organisasi di mata masyarakat dan hubungan dengan masyarakat akan menentukan bagaimana organisasi tersebut bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat.

Bagi sebuah organisasi gerakan, niscaya akan sangat membutuhkan fungsi humas di dalam tubuh organisasinya. Terutama bila sebuah gerakan sudah memasuki fase dimana gerakan tersebut sudah mulai merambah untuk lebih intens berkomunikasi dengan masyarakat, khususnya masyarakat luas. Ruang lingkup aktivitas organisasi gerakan juga menuntut keberadaan humas, misalnya pada ruang lingkup amal da'awi (pembinaan dan syi'ar), amal khidami (pelayanan), amal ilamy (penerbitan), amal siyasi (perpolitikan), dan seterusnya. Tanpa keberadaan humas, aktivitas gerakan bisa jadi tidak banyak yang mengetahuinya. Jika demikian, maka tidak heran ada beberapa organisasi gerakan yang dicap sebagai organisasi eksklusif.

Apalagi, sebuah gerakan itu mengusung visi "dakwah" di dalamnya. Dakwah itu pada dasarnya menyeru, menyampaikan. Maka komunikasi merupakan kebutuhan yang sangat urgen. Di dalam Al-Qur'an sendiri banyak sekali ayat-ayat yang diawali dengan kata-kata: "Sampaikanlah...", atau dengan "Katakanlah...". Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa organisasi gerakan dakwah membutuhkan humas yang profesional dalam menyampaikan pesan kepada objek dakwahnya. Wallahua’lam

2 komentar:

dwi suwiknyo mengatakan...

Betul banget ni buku...umat bisa salah paham klo g da jubir..

cah TP09 mengatakan...

pak edo saya ngresensi juga lho untuk buletin saya,,,hehe: PROFETIKA