Senin, 09 November 2009

Spirit Menulis Seorang Hasan Al-Banna

ADAKAH yang tak mengenal seorang Hasan Al-Banna? Beliau merupakan pendiri gerakan dakwah terbesar bernama Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini lahir pada tahun 1928 di Mesir, disaat kalangan umat Islam di Mesir mengalami berbagai problem seperti pendangkalan pemahaman ajaran Islam, kejumudan pemikiran, perpecahan, arus sekularisme, hingga kolonialisme terhadap Islam. Gerakan Ikhwanul Muslimin memiliki kelebihan yang tidak dimiliki gerakan Islam yang lain. Gerakan dakwahnya sangat universal dan komprehensif dalam tahapan langkahnya. Kiprah gerakan Ikhwan masih bisa dinikmati samapi saat ini berkat risalah-risalah yang ditulis oleh Hasan Al-Banna yang gemar menulis.

Hasan Al-Banna lahir pada bulan Oktober tahun 1906., di Propinsi Buhayra, di kota kecil Mahmudiyah, sekitar 135 km Barat daya Kairo. Hasan Al-Banna besar dalam lingkungan agama yang taat, dari keluarga menengah dan terpandang dalam hal agama. Oleh karena itu, pendidikannya ditekankan pada ketaatan beragama. Di distrik Syamsirah di Pusat Fuh Barat, Hasan Al-Banna belajar aqidah, fiqh, nahwu dan mengahafal al-Qur’an. Ayahnya merupakan seorang guru agama sekaligus tukang reparasi jam lulusan Universitas Al-Azhar. Ayahnya menulis beberapa kitab dan mengedit sebagian dari Musnad Imam Hambali. Tradisi membaca, menulis, mengkaji, dan berdakwah rupanya menurun kepada anaknya, Hasan Al-Banna.

Selain seorang penghafal al-Qur’an yang baik, Hasan al-Banna merupakan orang yang cerdas. Ia juga gemar membaca diluar tuntutan kurikulum sekolah yang ia ikuti. Ia memiliki ingatan yang kuat, yang bisa menyerap bahan bacaan yang banyak, baik prosa maupun puisi. Hasan Al-Banna pernah mengikuti ujian di Dar al-’Ulum dengan bekal hafalan mencapai lebih hafalan mencapai lebih dari 18.000 bait puisi dan sejumlah sama dengan prosa, diluar teks nahwu, sharaf, ilmu hadits, dan fiqh. Tiga subyek bacaan yang disenangi Hasan Al-Banna adalah: Pertama, al-Qur’an, hadits, dan ilmu agama; Kedua, tasawuf dan sirah Nabi; Ketiga, cerita rakyat.

Pemikiran Hasan Al-Banna

Salah satu tokoh Islam Liberal di Indonesia almarhum Nurcholish Madjid atau akrab disapa Cak Nur, menilai pemikiran Hasan Al-Banna dalam kitab Al-Majmu Rasail-nya biasa-biasa saja. Bahkan Almarhum Cak Nur menilai kitab kumpulan surat tokoh ikhwanul tersebut cenderung apologetik, verbalistik, dan bombastik, serta tanpa substansi Islam yang bernas. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa buku ini dilarang peredarannya oleh Pemerintah Arab Saudi? Tentunya pemikiran Hasan Al-Banna dianggap oleh mereka bukan sesuatu yang biasa sehingga dilarang dikalangan Pemerintah Mesir.

Sekalipun Hasan Al-Banna mengikuti tokoh-tokoh Islam modern seperti Jamal Al-Din Al-Afghani dan Muhammad Abduh, namun ia lebih kelihatan sebagai propagandis, tidak pernah terlibat dalam kajian agama secara serius. Dan memang pendidikannya tidak menyiapkannya untuk itu. Dalam tulisannya baik berbentuk buku, artikel atau makalah-makalahnya, Hasan Al-Banna berusaha menghindari pertentangan doktrin yang umumnya menarik perhatian para sarjana agama. Perhatian utamanya adalah menggabungkan aliran-aliran Islam, membawa harmoni ke dalam jiwa mereka, dan mengarahkan mereka kepada aturan Islam, membawa harmoni ke dalam jiwa mereka kepada aturan Islam, al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam tulisan-tulisannya ia tidak pernah menyerang aliran apapun, selain Baha’i yang dipandangnya bid’ah. Seperti Al-Afghani dan Abduh, Hasan Al-Banna memiliki pandangan yang radikal tentang revisionisme Islam. Ia mengatakan, ajaran dan perintah-perintah Islam. Ia mengatakan, ajaran dan perintah-perintah Islam adalah menyeluruh, mengatur urusan dunia dan akhirat.

Pemikiran Hasan Al-Banna berbeda dengan penafsiran-penafsiran sejarah yang banyak berkembang dikalangan ilmuwan. Islam bukan hanya Ibadah, Islam bukan spiritualitas yang mencegah manusia dari kebutuhan material, Islam bukan keyakinan yang diwariskan, karena itu tidak progressif; tetapi Islam meliputi seluruh urusan manusia di dunia dan akhirat, Islam meliputi aqidah dan ibadah, bangsa dan kebangsaan, agama dan negara, jiwa dan perbuatan. Islam adalah jalan yang lengkap dan total, terbangun di atas landasan praktikal dan spiritual. Islam bersumber dari dan berdasar pada dua sumber pokok, al-Qur’an dan sunnah Nabi.

Hasan Al-Banna berkeyakinan bahwa al-Qur’an menerangkan segalanya. Dengan Islam para penganutnya dapat meraih kejayaannya. Ia percaya bahwa tahap yang pokok dalam kebangkitan adalah kebangunan spiritual yang tertanam dikalangan pribadi-pribadi. ”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka merubah apa yang ada pada mereka.” Ia mengatakan bahwa al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip dasar bagi reformasi sosial secara sempurna. Secara bertahap al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw., yang kemudian menyatakan risalahnya kepada kaum Mukmin dari waktu ke waktu, berdasarkan peristiwa, keadaan, dan kesempatan yang dimilikinya.

Yang membedakannya dengan para pendahulunya seperti Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna mendirikan partai politik untuk mendirikan negara Islam. Ia berpendapat bahwa tujuan mendirikan negara Islam dapat direalisasikan melalui kerangka konstitusional yang ada. Ia mengkritik Pemerintah untuk mengakui syariah sebagai sumber utama bagi penegakan hukum, menggantikan hukum Eropa yang diadopsi oleh Pemerintah Mesir pada saat itu.

Karya Tulis Hasan Al-Banna

Hasan Al-Banna adalah seorang murrabi bagi para kader da’i, pencetak para pemimpin, dan pewaris para tokoh. Beliau terkenal sangat produktif dalam menulis selain mengajar keagamaan. Hasan Al-Banna tercatat sebagai redaktur dan penulis beberapa di tabloid, koran, majalah, serta kitab-kitab hasil telaahannya. Ia terkenal sebagai tokoh kreator umat dan pencetus kebangkitan umat Islam pada masanya. Masyarakat juga mengenal Hasan Al-Banna sebagai seorang penulis yang profesional, ulama yang sangat cerdas dan berwawasan luas. Beberapa media yang menjadi luapan intelektualnya adalah:

Pertama, Tabloid mingguan Al-Ikhwan Al-Muslimin. Ditabloid ini beliau menulis dua macam artikel, berupa tema ilmu agama seperti tafsir, akidah, fiqh, fatwa, taswuf, akhlak, dan ceramah. Yang lain berupa tema-tema umum, seputar masalah sosial, politik, dan etika. Artikel-artikel Hasan Al-Banna memiliki kelebihan dari sisi kesatuan tema dan penuangan gagasan yang sistematis. Di samping itu, di tabloid tersebut beliau juga menulis untuk rubrik opini.

Kedua, Majalah An-Nadzir. Majalah ini diterbitkan oleh gerakan Ikhwanul Muslimin setelah Tabloid Al-Ikhwan Al-Muslimin dikerdilkan alias tidak terbit lagi. Tujuan majalah ini untuk menyebarkan fikrah, harakah, dan pemahaman bagi anggota Ikhwan. Majalah An-Nadzir berbeda dengan Tabloid sebelumnya Al-Ikhwan Al-Muslimin, dari sisi perhatiannya lebih terhadap kajian sosial dan politik. Di dalam majalah ini, Hasan Al-Banna telah menulis sekitar delapan puluh artikel yang menyoroti masalah sosial dan politik yang sedang berkembang pada masanya.

Ketiga, Majalah Al-Manar. Majalah ini diterbitkan oleh Syekh Rasyid Ridha pada tanggal 22 Syawal 1315 H/ 15 Maret 1898 M. Secara umum isi majalah ini merefleksikan permasalahan-permasalahan agama dan sosial. Kadang-kadang juga menyoroti persoalan-persoalan politik pada saat itu. Saat Syekh Rasyid Ridha wafat, Hasan Al-Banna diminta oleh keluarganya untuk meneruskan penulisan tafsir al-Qur;an yang telah diprakarsai Syekh Rasyid Ridha di majalah Al-Manar. Rasyid Ridha terhenti pada surat Yusuf. Dari situ kemudia dilanjutkan oleh Hasan Al-Banna dengan tafsir surat ar-Ra’du sebagai kelanjutan. Hasan Al-Banna adalah orang yang menulis sebagian besar rubrik yang ada dalam majalah tersebut, sebelum pada akhirnya majalah ini disita pada akhir bulan November 1940 M.

Keempat, Majalah At-Ta’aruf. Setelah majalah An-Nadzir menyimpang dari track dakwah ikhwan, gerakan Ikhwanul Muslimin menyewa majalah At-Ta’aruf. Konsep majalah ini adalah mengkombinasikan konsep Tabloid Al-Ikhwan Al-Muslimun dan Majalah At-Ta’aruf yang memadukan muatan syar’i, sosial, dan politik secara berimbang. Meskipun akhirnya majalah ini dibubarkan, sebagai catatan penting, Hasan Al-Banna pernah menulis sebagian rubrik pembuka disamping menulis dalam rubrik fiqh, serta artikel-artikel lain yang membahas pendapat ikhwan dalam memperbaiki karut-marut politik dan realitas sosial pada waktu itu.

Masih ada lagi media beliau untuk menulis seperti Koran Harian Al-Ikhwan Al-Muslimun, majalah Asy-Syihab, Majalah Al-Fath, Majalah An-Nhidal, Majalah Al-I’thisam dll. Pastinya spirit menulis seorang Hasan Al-Banna sangat kuat. Karena ia meyakini bahwa risalah-risalahnya tidak akan sampai ke pengikut-pengikutnya jika ia tidak menulis. Maka spirit ini harus kita contoh, seperti kata seorang kawan: ”Dengan menulis, maka kita ada.” Ayo, menulislah sebanyak-banyaknya. Wallahua’lam

Daftar Pustaka

Anas Urbaningrum. Islamo – Demokrasi; Pemikiran Nurcholish Madjid. Penerbit Republika. Jakarta, 2004.

Hasan Al-Banna. Wasiat Qur’ani Aktivis Harakah. Penerbit USWAH kelompok Pro-U media. Yogyakarta, 2007.

Hasan Al-Banna. Tafsir Al-Banna. Pustaka Progressif. Jakarta, 1999.

Syaikh Jaber Rizq. Kisah Duka Ikhwanul Muslimin; Sebuah Nostalgia Perjuangan Dakwah. Pustaka Fahima. Yogyakarta, 2004.

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...