Jumat, 24 Juli 2009

Polling dalam Pers Mahasiswa

PENYELENGGARAAN polling dalam kehidupan kampus, sama halnya dengan perkembangan polling secara umum, tidak lepas dari kehadiran pers kampus. Oleh karena itu, pasang-surut perkembangan polling dalam kampus sejalan dengan perkembangan pers kampus.

Di lihat dari segi kemunculannya, kenyataan juga menunjukkan bahwa perkembangan polling yang diselenggarakan oleh kalangan mahasiswa gencar terjadi sejalan dengan mulai maraknya penyelenggaraan polling oleh kalangan media massa yaitu saat akhir runtuhnya rejim Orde Baru.

Dalam hal tema, sedikit berbeda dengan media massa umum yang lebih banyak menyoroti tema-tema sosial yang tidak bersinggungan secara langsung dengan penguasa, pers kampus telah mempublikasikan tema-tema popularitas tokoh intern kampus maupun tema-tema yang sangat sensitif kala itu.

Sebagai contoh, dalam event pemilihan rektor, beberapa pers kampus --salah satunya polling yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Airlangga tahun 1997 tentang pemilihan rektor-- menyelenggarakan polling untuk menentukan tokoh yang layak menjabat sebagai rektor pilihan mahasiswa. Bahkan, beberapa saat menjelang keruntuhan rejim Orde Baru (1997), polling dengan tema suksesi dilakukan oleh senat mahasiswa Universitas Gajah Mada yang menyimpulkan mayoritas (94,6 persen) mahasiswa tidak menyetujui Soeharto menjadi presiden kembali.

Sejalan dengan perubahan kursi kepemimpinan negara dan semakin berhembusnya angin reformasi, polling di kalangan pers kampus secara kuantitatif dipastikan meningkat. Di samping penyelenggaraan polling, usaha-usaha kampus (pers kampus dan organisasi kemahasiswaan) dalam mengenalkan polling dalam segenap kegiatan kemahasiswaan seperti pendidikan dan pelatihan pun semakin gencar. Semua ini memberikan harapan baru bagi perkembangan polling di masa yang akan datang.

Sebenarnya, polling dalam kehidupan kemahasiswaan bukan persoalan yang asing lagi. Dikatakan demikian, sebab polling adalah kegiatan penelitian. Sementara, penelitian merupakan urat nadi bagi kampus. Sulit memisahkan kegiatan akademik kampus dengan penelitian. Oleh karena itu, sudah seharusnya polling merupakan salah satu kehidupan kemahasiswaan.

Sisi lain, pertimbangan teknis penelitian, komunitas kampus merupakan lahan yang paling tepat untuk penyelenggaraan polling. Dalam pertimbangan penerapan metode sampling, misalnya, kampus beserta segenap anggota populasinya (mahasiswa, dosen, dll) merupakan potensi responden yang paling baik dan tepat secara teknis sampling.

Sebagai perbandingan, polling yang dilakukan oleh media massa dan lembaga penelitian umum lain, dalam pemilihan sampel selalu berpedoman pada unit penelitian anggota masyarakat. Padahal, dalam ilmu sampling, untuk memilih sampel dari suatu populasi (masyarakat) secara acak, terlebih dahulu dibutuhkan daftar anggota populasi (sampling frame).

Persoalannya, apakah negara kita memiliki daftar dan sebaran penduduk secara rinci yang akan digunakan sebagai sampling frame? Jawabnya, tidak ada. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai satu-satunya instansi negara yang sanggup dan berhak melakukan sensus pun sampai sejauh ini belum banyak diharapkan menyediakan sampling frame yang baik dan up to date.

Situasi berbeda pada kampus yang memiliki secara lengkap daftar mahasiswa, staf pengajar, hingga tenaga non akademik. Dari daftar ini dapat dipilih sampel dengan berbagai macam metode sampling dan yang dipastikan dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Berdasarkan pemaparan demikian, dapat disimpulkan perkembangan dunia jajak pendapat di kemudian hari sangat prospektif. Tidak hanya dalam kehidupan media massa secara umum, namun dalam pers kampus pun polling menjadi kekuatan. Terlebih dengan berbagai kelebihan yang dimiliki dunia kampus. Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...