Senin, 27 Juli 2009

Ku Sambut Engkau Ya Ramadhan

”Ya Allah berikanlah berkah kepada kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.
(HR. At-Thabrani)

TAK terasa bulan Rajab menuju bulan Sya’ban sudah dihadapan kita. Setelah bulan Sya’ban maka bulan yang kita nanti-nanti Ramadhan akan tiba. Bulan Ramadhan adalah bulan sebaik-baik bulan yang penuh kelimpahan dan keutamaan. Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur’an diturunkan, bulan melawan hawa nafsu, bulan penuh taubat dan limpahan ampunan, bulan kemuliaan, dan bulan dimana terjadi kemenangan Rasulullah di Perang Badar pada bulan Syawal 2 Hijriyah.

Maka dalam sebuah hadits terpercaya yang diriwayatkan Imam At-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, Rasulullah Saw bersabda: ”Ya Allah berikanlah berkah kepada kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” Ya Allah, sampaikan kami agar dapat merasakan Ramadhan. Ya Allah sampaikan kami agar dapat merasakan Ramadhan. Doa ini yang selalu diucapkan Rasulullah menjelang bulan Ramadhan.

Berapa banyak orang yang berharap dan menginginkan merasakan puasa dibulan suci Ramadhan, namun tidak memiliki kesempatan karena sedang terbaring sakit bertahun-tahun atau justru sudah berada diliang kubur. Namun, kita juga melihat fenomena datangnya bulan Ramadhan disambut oleh sebagian umat muslim sebagai bulan yang mengekang kebebasan sehari-hari tidak seperti biasanya. Jika kondisi ini yang terjadi maka sebenarnya hati kita sedang sakit karena justru bulan Ramadhan lah momentum untuk memperbaiki diri, dimana Allah memberi ampunan seluas-luasnya dibulan ini.

Bahkan para salafush shalih menyakini bahwa puasa adalah madrasah bagi ruh (jiwa) mereka. Bahwa ada kehidupan abadi di sisi Allah meskipun dalam keadaan perang sekalipun. Nabi Muhammad Saw. bersabda: ”Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah (fi sabilillah), niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.” Barang siapa berpuasa sehari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim (tahun).

Meskipun pahala puasa begitu besar, namun ada beberapa sebagian kaum Muslim yang menganggap Ramadhan seperti bulan biasa, dimana ia tidak memanfaatkan sebaik-baiknya bulan tersebut. Ia hanya menahan lapar disiang hari, dan kenyang dimalam hari. Siang hari hanya tidur diatas ranjang hingga tiba waktu Ashar, malam harinya yang ada hanya obrolan dan begadang hingga waktu fajar tiba dan begitu seterusnya.

Mereka sungguh hina di malam hari dan bau busuk di siang hari. Mereka juga menganggap Ramadhan hanya musim kurma, begadang semalaman dan maraknya siaran televisi saat bulan Ramadhan. Mereka menyia-nyiakan waktu mereka, merusak keindahan dan kenikmatan didalam bulan Ramadhan. Mereka telah mengotori Ramadhan dan mengharamkan orang lain untuk berbuat baik, beribadah serta mengikat ruh dan akal.

Nilai-nilai Spiritual Puasa

Ruh dan jasad tidak dapat berdiri sendiri, kecuali jika jasad sudah tidak menghiraukan ruh lagi dan hanya menuruti dan mengikuti hawa nafsunya saja. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda: ”Celakalah yang menjadi budak dinar, celakalah yang menjadi budak dirham. ” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

Ada yang melupakan jiwa dan melalaikannya dari pemenuhan hak-haknya. Jika seseorang hanya menyembah jasad dan syahwatnya, maka hidupnya akan menjadi kacau, penuh duka, keruh, selalu diselimuti kesedihan, tidak ada sesuatu hal yang dipikirkan selain mengikuti hawa nafsunya saja.

Sangatlah hina penduduk bumi yang telah keluar dari jiwa dan tidak mau merasakan kenikmatan jiwa, kenikmatan iman dan taat kepada Allah. Manusia mempunyai jasad dan ruh, nafsu dan akal, dimana jasad selalu mengikuti nafsu sedangkan ruh selalu mengikuti akal pikiran.

Dua hal ini akan selalu bertikai dan akan selalu saling mengalahkan. Kapan perut kenyang, maka nafsu akan mulai bergejolak. Namun jika perut dalam keadaan kosong, maka jiwa akan terasa tenang, dan semangat. Ketenangan itu hanya ada di dalam puasa, dimana puasa terdapat kenikmatan tiada tara, tidak seorang pun dapat merasakan kecuali orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh karena Allah.

Di dalam buku ”Ramadhan Sepanjang Masa” yang ditulis oleh Dr. Ibrahim Ad-Duwaisy, seorang da’i terkemuka dari Arab Saudi menyampaikan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kenikmatan berpuasa kecuali di hati mereka telah bercampur dengan Iman. Nilai spiritual yang tinggi akan mendampingi kita pada bulan Ramadhan.

Dalam nilai spiritual puasa terdapat kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan dan kerinduan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Penuh kegembiraan dan kenyamanan, bagaikan terbang melayang di angkasa yang sangat menyenangkan. Dengan nilai spiritual puasa juga, akan timbul kecintaan orang-orang yang rajin bertahajud kepada surga yang penuh kenikmatan meskipun kedua kakinya hingga bengkak.

Nilai-nilai spiritual puasa tidak akan diketahui oleh siapapun kecuali orang-orang yang rindu kepada Allah dan orang yang bersungguh-sungguh serta ikhlas karena-Nya. Dalam spiritual puasa, belenggu hawa nafsu dan syahwat serta gangguan setan akan lenyap dan hilang. Dengan spiritual puasa pula kita akan dapat merasakan kenikmatan surga di dunia yang barangsiapa belum masuk dalam surganya dunia, maka dia tidak akan masuk dalam surga di akhirat.

Semua ini diraih ketika jiwa dapat menang, dan bebas dari belenggu syahwat. Ibnu Qoyim Al-Jauziyah berkata: ”Ruh atau jiwa akan keluar dari belenggu nafsu, dari belenggu tubuh yang akan selalu bergantung dan merintangi tingkah laku, kekuatan, ambisi, semangat menuju kepada Allah Swt. dan dengan bergantung pada Allah, semua itu tidak akan dapat dirasakan oleh jiwa yang hina, yang terbelenggu oleh tubuh dan rintangan-rintangan.”

Persiapan Diri Menyambut Ramadhan

Pertama, berdoa kepada Allah Swt. agar memberikan umur yang panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal seperti puasa, shalat, tilawah dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw apabila memasuki bulan Rajab selalu berdoa: ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadhan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Tabrani)

Kedua, pujilah Allah Swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An-Nawawi dalam kitab adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan diantara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seseorang hamba adalah ketika ia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.

Ketiga, bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah Saw. selalu memberikan kabar gembira kepada sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: ”Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad)

Keempat, rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, kita harus mengisi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kuatkan azzam serta tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan.

Kelima, pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa selama Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar-benar diterima oleh Allah Swt. Dalam surat Al-Anbiya ayat 7 Allah berfirman: ”Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.”

Keenam, kondisikan qolbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pembersihan jiwa.- Hadiri majelis-majelis ilmu yang membahas tentang huku, keutamaan dan hikmah puasa. Sehingga secara mental dan jiwa, kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt. di bulan Ramadhan.

Ketujuh, Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha). Dalam surat An-Nur ayat 31 Allah berfirman: ”Dan bertaubatlah sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” Buka lembaran baru dengan menjalankan sunnah Rasul, berbaik kepada orangtua serta istri-anak, memperat hubungan silaturahim dengan kerabat dan tetangga.

Generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan. Mereka berdoa selama enam bulan sebelum kedatangan Ramadhan agar mereka dipanjangkan umurnya untuk bertemu Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keutamaan Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdoa selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah Swt. Semoga Allah Swt. Memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan dan meraih kebaikan-kebaikannya kelak. Amin ya Rabbal Alamin

1 komentar:

ISTIQBAL OPINION mengatakan...

Variatif sekali tulisannya mas Edo. Saya ingin banyak nulis, tapi ide-ide yang segar dan tema-tema yang menarik sulit nongol. Ini saya sedang otak-atik blog, biar menarik gimana gitu lho.