Senin, 27 Juli 2009

Ku Sambut Engkau Ya Ramadhan

”Ya Allah berikanlah berkah kepada kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.
(HR. At-Thabrani)

TAK terasa bulan Rajab menuju bulan Sya’ban sudah dihadapan kita. Setelah bulan Sya’ban maka bulan yang kita nanti-nanti Ramadhan akan tiba. Bulan Ramadhan adalah bulan sebaik-baik bulan yang penuh kelimpahan dan keutamaan. Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur’an diturunkan, bulan melawan hawa nafsu, bulan penuh taubat dan limpahan ampunan, bulan kemuliaan, dan bulan dimana terjadi kemenangan Rasulullah di Perang Badar pada bulan Syawal 2 Hijriyah.

Maka dalam sebuah hadits terpercaya yang diriwayatkan Imam At-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, Rasulullah Saw bersabda: ”Ya Allah berikanlah berkah kepada kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” Ya Allah, sampaikan kami agar dapat merasakan Ramadhan. Ya Allah sampaikan kami agar dapat merasakan Ramadhan. Doa ini yang selalu diucapkan Rasulullah menjelang bulan Ramadhan.

Berapa banyak orang yang berharap dan menginginkan merasakan puasa dibulan suci Ramadhan, namun tidak memiliki kesempatan karena sedang terbaring sakit bertahun-tahun atau justru sudah berada diliang kubur. Namun, kita juga melihat fenomena datangnya bulan Ramadhan disambut oleh sebagian umat muslim sebagai bulan yang mengekang kebebasan sehari-hari tidak seperti biasanya. Jika kondisi ini yang terjadi maka sebenarnya hati kita sedang sakit karena justru bulan Ramadhan lah momentum untuk memperbaiki diri, dimana Allah memberi ampunan seluas-luasnya dibulan ini.

Bahkan para salafush shalih menyakini bahwa puasa adalah madrasah bagi ruh (jiwa) mereka. Bahwa ada kehidupan abadi di sisi Allah meskipun dalam keadaan perang sekalipun. Nabi Muhammad Saw. bersabda: ”Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah (fi sabilillah), niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.” Barang siapa berpuasa sehari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim (tahun).

Meskipun pahala puasa begitu besar, namun ada beberapa sebagian kaum Muslim yang menganggap Ramadhan seperti bulan biasa, dimana ia tidak memanfaatkan sebaik-baiknya bulan tersebut. Ia hanya menahan lapar disiang hari, dan kenyang dimalam hari. Siang hari hanya tidur diatas ranjang hingga tiba waktu Ashar, malam harinya yang ada hanya obrolan dan begadang hingga waktu fajar tiba dan begitu seterusnya.

Mereka sungguh hina di malam hari dan bau busuk di siang hari. Mereka juga menganggap Ramadhan hanya musim kurma, begadang semalaman dan maraknya siaran televisi saat bulan Ramadhan. Mereka menyia-nyiakan waktu mereka, merusak keindahan dan kenikmatan didalam bulan Ramadhan. Mereka telah mengotori Ramadhan dan mengharamkan orang lain untuk berbuat baik, beribadah serta mengikat ruh dan akal.

Nilai-nilai Spiritual Puasa

Ruh dan jasad tidak dapat berdiri sendiri, kecuali jika jasad sudah tidak menghiraukan ruh lagi dan hanya menuruti dan mengikuti hawa nafsunya saja. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda: ”Celakalah yang menjadi budak dinar, celakalah yang menjadi budak dirham. ” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

Ada yang melupakan jiwa dan melalaikannya dari pemenuhan hak-haknya. Jika seseorang hanya menyembah jasad dan syahwatnya, maka hidupnya akan menjadi kacau, penuh duka, keruh, selalu diselimuti kesedihan, tidak ada sesuatu hal yang dipikirkan selain mengikuti hawa nafsunya saja.

Sangatlah hina penduduk bumi yang telah keluar dari jiwa dan tidak mau merasakan kenikmatan jiwa, kenikmatan iman dan taat kepada Allah. Manusia mempunyai jasad dan ruh, nafsu dan akal, dimana jasad selalu mengikuti nafsu sedangkan ruh selalu mengikuti akal pikiran.

Dua hal ini akan selalu bertikai dan akan selalu saling mengalahkan. Kapan perut kenyang, maka nafsu akan mulai bergejolak. Namun jika perut dalam keadaan kosong, maka jiwa akan terasa tenang, dan semangat. Ketenangan itu hanya ada di dalam puasa, dimana puasa terdapat kenikmatan tiada tara, tidak seorang pun dapat merasakan kecuali orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh karena Allah.

Di dalam buku ”Ramadhan Sepanjang Masa” yang ditulis oleh Dr. Ibrahim Ad-Duwaisy, seorang da’i terkemuka dari Arab Saudi menyampaikan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kenikmatan berpuasa kecuali di hati mereka telah bercampur dengan Iman. Nilai spiritual yang tinggi akan mendampingi kita pada bulan Ramadhan.

Dalam nilai spiritual puasa terdapat kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan dan kerinduan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Penuh kegembiraan dan kenyamanan, bagaikan terbang melayang di angkasa yang sangat menyenangkan. Dengan nilai spiritual puasa juga, akan timbul kecintaan orang-orang yang rajin bertahajud kepada surga yang penuh kenikmatan meskipun kedua kakinya hingga bengkak.

Nilai-nilai spiritual puasa tidak akan diketahui oleh siapapun kecuali orang-orang yang rindu kepada Allah dan orang yang bersungguh-sungguh serta ikhlas karena-Nya. Dalam spiritual puasa, belenggu hawa nafsu dan syahwat serta gangguan setan akan lenyap dan hilang. Dengan spiritual puasa pula kita akan dapat merasakan kenikmatan surga di dunia yang barangsiapa belum masuk dalam surganya dunia, maka dia tidak akan masuk dalam surga di akhirat.

Semua ini diraih ketika jiwa dapat menang, dan bebas dari belenggu syahwat. Ibnu Qoyim Al-Jauziyah berkata: ”Ruh atau jiwa akan keluar dari belenggu nafsu, dari belenggu tubuh yang akan selalu bergantung dan merintangi tingkah laku, kekuatan, ambisi, semangat menuju kepada Allah Swt. dan dengan bergantung pada Allah, semua itu tidak akan dapat dirasakan oleh jiwa yang hina, yang terbelenggu oleh tubuh dan rintangan-rintangan.”

Persiapan Diri Menyambut Ramadhan

Pertama, berdoa kepada Allah Swt. agar memberikan umur yang panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal seperti puasa, shalat, tilawah dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw apabila memasuki bulan Rajab selalu berdoa: ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadhan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Tabrani)

Kedua, pujilah Allah Swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An-Nawawi dalam kitab adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan diantara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seseorang hamba adalah ketika ia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.

Ketiga, bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah Saw. selalu memberikan kabar gembira kepada sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: ”Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad)

Keempat, rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, kita harus mengisi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kuatkan azzam serta tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan.

Kelima, pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa selama Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar-benar diterima oleh Allah Swt. Dalam surat Al-Anbiya ayat 7 Allah berfirman: ”Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.”

Keenam, kondisikan qolbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pembersihan jiwa.- Hadiri majelis-majelis ilmu yang membahas tentang huku, keutamaan dan hikmah puasa. Sehingga secara mental dan jiwa, kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt. di bulan Ramadhan.

Ketujuh, Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha). Dalam surat An-Nur ayat 31 Allah berfirman: ”Dan bertaubatlah sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” Buka lembaran baru dengan menjalankan sunnah Rasul, berbaik kepada orangtua serta istri-anak, memperat hubungan silaturahim dengan kerabat dan tetangga.

Generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan. Mereka berdoa selama enam bulan sebelum kedatangan Ramadhan agar mereka dipanjangkan umurnya untuk bertemu Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keutamaan Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdoa selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah Swt. Semoga Allah Swt. Memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan dan meraih kebaikan-kebaikannya kelak. Amin ya Rabbal Alamin

Jumat, 24 Juli 2009

Polling dalam Pers Mahasiswa

PENYELENGGARAAN polling dalam kehidupan kampus, sama halnya dengan perkembangan polling secara umum, tidak lepas dari kehadiran pers kampus. Oleh karena itu, pasang-surut perkembangan polling dalam kampus sejalan dengan perkembangan pers kampus.

Di lihat dari segi kemunculannya, kenyataan juga menunjukkan bahwa perkembangan polling yang diselenggarakan oleh kalangan mahasiswa gencar terjadi sejalan dengan mulai maraknya penyelenggaraan polling oleh kalangan media massa yaitu saat akhir runtuhnya rejim Orde Baru.

Dalam hal tema, sedikit berbeda dengan media massa umum yang lebih banyak menyoroti tema-tema sosial yang tidak bersinggungan secara langsung dengan penguasa, pers kampus telah mempublikasikan tema-tema popularitas tokoh intern kampus maupun tema-tema yang sangat sensitif kala itu.

Sebagai contoh, dalam event pemilihan rektor, beberapa pers kampus --salah satunya polling yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Airlangga tahun 1997 tentang pemilihan rektor-- menyelenggarakan polling untuk menentukan tokoh yang layak menjabat sebagai rektor pilihan mahasiswa. Bahkan, beberapa saat menjelang keruntuhan rejim Orde Baru (1997), polling dengan tema suksesi dilakukan oleh senat mahasiswa Universitas Gajah Mada yang menyimpulkan mayoritas (94,6 persen) mahasiswa tidak menyetujui Soeharto menjadi presiden kembali.

Sejalan dengan perubahan kursi kepemimpinan negara dan semakin berhembusnya angin reformasi, polling di kalangan pers kampus secara kuantitatif dipastikan meningkat. Di samping penyelenggaraan polling, usaha-usaha kampus (pers kampus dan organisasi kemahasiswaan) dalam mengenalkan polling dalam segenap kegiatan kemahasiswaan seperti pendidikan dan pelatihan pun semakin gencar. Semua ini memberikan harapan baru bagi perkembangan polling di masa yang akan datang.

Sebenarnya, polling dalam kehidupan kemahasiswaan bukan persoalan yang asing lagi. Dikatakan demikian, sebab polling adalah kegiatan penelitian. Sementara, penelitian merupakan urat nadi bagi kampus. Sulit memisahkan kegiatan akademik kampus dengan penelitian. Oleh karena itu, sudah seharusnya polling merupakan salah satu kehidupan kemahasiswaan.

Sisi lain, pertimbangan teknis penelitian, komunitas kampus merupakan lahan yang paling tepat untuk penyelenggaraan polling. Dalam pertimbangan penerapan metode sampling, misalnya, kampus beserta segenap anggota populasinya (mahasiswa, dosen, dll) merupakan potensi responden yang paling baik dan tepat secara teknis sampling.

Sebagai perbandingan, polling yang dilakukan oleh media massa dan lembaga penelitian umum lain, dalam pemilihan sampel selalu berpedoman pada unit penelitian anggota masyarakat. Padahal, dalam ilmu sampling, untuk memilih sampel dari suatu populasi (masyarakat) secara acak, terlebih dahulu dibutuhkan daftar anggota populasi (sampling frame).

Persoalannya, apakah negara kita memiliki daftar dan sebaran penduduk secara rinci yang akan digunakan sebagai sampling frame? Jawabnya, tidak ada. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai satu-satunya instansi negara yang sanggup dan berhak melakukan sensus pun sampai sejauh ini belum banyak diharapkan menyediakan sampling frame yang baik dan up to date.

Situasi berbeda pada kampus yang memiliki secara lengkap daftar mahasiswa, staf pengajar, hingga tenaga non akademik. Dari daftar ini dapat dipilih sampel dengan berbagai macam metode sampling dan yang dipastikan dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Berdasarkan pemaparan demikian, dapat disimpulkan perkembangan dunia jajak pendapat di kemudian hari sangat prospektif. Tidak hanya dalam kehidupan media massa secara umum, namun dalam pers kampus pun polling menjadi kekuatan. Terlebih dengan berbagai kelebihan yang dimiliki dunia kampus. Wallahua’lam

Jumat, 17 Juli 2009

Mitos Ekonomi Yahudi

TIDAK ada yang istimewa dengan kekuatan ekonomi kaum Yahudi. Sebagaimana lazimnya kaum perantau, kaum Yahudi yang tercerai-berai dari kampung halamannya selama ratusan tahun telah dipaksa oleh keadaan untuk bertahan hidup dengan berdagang dan berusaha jauh lebih keras daripada penduduk lokal.Salah satu negara perantauan mereka adalah Amerika Serikat (AS), yang saat ini menjadi negara adidaya dalam berbagai bidang. Posisi AS sebagai negara adidaya itulah yang menjadikan pengusaha Yahudi yang sukses di negara itu menjadi sangat berpengaruh di dunia.

Jadi, sebenarnya ada dua faktor utama yang dapat menerangkan kekuatan ekonomi kaum Yahudi saat ini. Pertama, jiwa perantau yang selalu berusaha lebih keras. Kedua, posisi AS sebagai negara adidaya.Lihatlah kaum Cina yang juga senang berkelana jauh dari negerinya, memetik hasil kerja keras mereka di tanah perantauan. Lihat pula kaum Minang, kaum Bugis, dan kaum-kaum lainnya yang mempunyai tradisi berkelana. Mereka memetik hasil kerja keras di tempat-tempat perantauannya.

Karena itu, kekuatan ekonomi kaum Yahudi sebenarnya tidak lebih dari kekuatan ekonomi perantau. Posisi sosial ekonomi yang baik di negara-negara perantauan telah memungkinkan mereka mendapatkan pendidikan yang baik dan pergaulan di kalangan atas.Kedekatan pengusaha dan penguasa semakin mengokohkan pengaruh pengusaha Yahudi. Apalagi, bila pengaruh itu berwujud di negara adidaya seperti AS.

Realita inilah yang sering kali merefleksikan citra dominannya kekuatan ekonomi kaum Yahudi di seluruh dunia. Citra inilah yang tertanam dalam persepsi kita akan kehebatan ekonomi kaum Yahudi. Bahkan, jauh lebih hebat dan menakutkan daripada kekuatan yang sebenarnya.Persepsi inilah yang sering kali menghantui dan mengerdilkan ekonomi umat Islam. Sering kali bayangan jauh lebih besar dari aslinya, dan bayangan inilah yang menghantui dan mengerdilkan ekonomi umat Islam. Kehebatan ekonomi kaum Yahudi menjelma menjadi mitos.

Ketika Hizbullah pimpinan Hasan Nasrallah mampu bertahan dan mengejutkan Israel dengan kegigihan perlawanannya di Lebanon, pupuslah mitos kedigdayaan militer Israel yang selama puluhan tahun menghantui negara-negara Arab. Israel tiba-tiba saja kehilangan power to deterrent (kekuatan menggertak) negara-negara Arab dengan kekuatan militernya.Begitu pula dengan rontoknya ekonomi AS, bangkrutnya Lehman Brothers, dan berbagai lembaga bisnis yang selama ini menjadi kebanggaan kapitalisme, mengikis mitos kedigdayaan ekonomi AS dan juga mitos kedigdayaan ekonomi kaum Yahudi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ekonomi AS.

Namun, hal ini bukanlah tanda-tanda kehancuran kekuatan ekonomi kaum Yahudi, karena kekuatan mereka ditopang oleh dua faktor utama, yaitu jiwa perantau yang selalu berusaha lebih keras dan posisi AS sebagai negara adidaya.Yang saat ini terpukul hanyalah salah satu faktor saja, yaitu faktor AS sebagai negara adidaya. Faktor jiwa perantau yang selalu berusaha lebih keras masih melekat kental pada kaum Yahudi. Rezeki adalah rahasia Allah SWT, dan Dia pasti adil dalam membagi rahmat-Nya. Mustahil hukumnya bila Allah SWT melebihkan rezeki kaum Yahudi hanya semata-mata karena mereka keturunan Yahudi.

Kini, saatnya kita bangkit memupuskan mitos kedigdayaan ekonomi kaum Yahudi, dan membuktikan pada dunia, siapa pun yang mau bekerja dengan jujur kepada Allah SWT (shidiq), jujur kepada manusia (amanah), maka ia akan mendapat kepercayaan pasar.Dan, siapa pun yang mau bekerja dengan cerdas dalam membaca situasi (fathonah), cerdas dalam menyampaikan (tabligh), maka ia akan mendapat pangsa pasar.AS dibangun oleh para perantau dari berbagai pelosok dunia dengan mimpinya masing-masing. Kegigihan perjuangan mereka mewujudkan mimpi itu merupakan modal penting menjadi negara adidaya.

Allah SWT tidak akan menjadikan umat Islam menjadi pemimpin dunia hanya semata-mata karena kita beragama Islam. Nilai-nilai kejujuran, kecerdasan, dan kegigihan yang diajarkan Islam-lah yang akan menjadikan umat Islam pemimpin dunia. Islam yang hidup dalam masyarakat, bukan Islam yang berjarak dari masyarakatnya.Tidak cukup bagi Hizbullah sekadar beragama Islam untuk mematahkan mitos militer Israel. Tidak cukup bagi pelaku ekonomi syariah sekadar menyoraki runtuhnya mitos ekonomi AS untuk menjadi pemimpin ekonomi dunia.

Ekonomi Yahudi memang hanya sebuah mitos yang terlalu dibesar-besarkan. Ekonomi syariah pun akan menjadi sekadar mitos bila kita tidak gigih memperjuangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.Tidak cukup sekadar membacakan shalawat kepada Rasulullah SAW untuk membuktikan cinta kita kepada beliau. Tidak cukup sekadar berzikir untuk membuktikan cinta kita kepada Allah SWT.Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Makhluk yang paling ajaib imannya adalah umatku di akhir zaman. Mereka yang tidak pernah berjumpa denganku, namun mereka mencintaiku sebagaimana kalian mencintaiku.

Mereka menghidupkan sunahku seakan mereka pernah berjumpa denganku.''Ya Rasulullah SAW, kami tidak dapat berjumpa denganmu di dunia ini, maka izinkan kami berjumpa denganmu di akhirat kelak. Ya Rasulullah SAW, kami tidak dapat bersamamu di Badar dan membelamu di Uhud, maka izinkan kami menebusnya dengan menghidupkan sunahmu di akhir zaman ini. (fif)

Source: http://republika.co.id/berita/29392/Mitos_Ekonomi_Yahudi

Jumat, 10 Juli 2009

SBY – Boediono Dukung Ekonomi Syariah?

DALAM sebuah media Islam “Republika” (Jum’at, 26 Juni 2009) ada sisipan yang mengangkat profil SBY – Boediono mengenai peranannya mengembangkan ekonomi syariah semasa pemerintahannya. Dalam judulnya “SBY – Boediono ; Dukung Pengembangan Ekonomi Syariah.” Perlu kita telaah lebih dalam dan seksama. Apakah memang selama Pemerintahannya SBY mendukung ekonomi Syariah. Jika memang SBY dan Boediono saat masih menjabat Gubernur Bank Indonesia mendukung perkembangan ekonomi syariah, mengapa perkembangan market share perbankan syariah masih istiqomah di angka 2 persen? Jadi masih sangat kecil bila dibanding dengan skala usaha perbankan konvensional yang besarnya 97 persen. Mari kita analisa secara seksama.
Pertama, yang perlu kita ketahui bahwa sisipan Koran yang mengangkat tentang profil SBY – Boediono ini adalah bentuk kerjasama tim sukses SBY – Boediono bekerjasama dengan Koran Republika dalam mengendorse SBY – Boediono menjelang pemilihan Presiden 8 Juli 2009 mendatang. Jadi dari sudut pandang saya, tulisan-tulisan yang dimuat murni advertorial karena dalam kesempatan yang lain profil JK-Wiranto dan Mega – Prabowo tidak diangkat oleh media ini.

Kedua, Pemerintahan dianggap mendukung ekonomi syariah namun pangsa pasar perbankan syariah masih dibawah angka 3 persen. Perbankan syariah adalah salah satu instrumen dari sistem moneter yang berlaku di Indonesia. Sehingga keberadaan perbankan syariah itu tidak mempengaruhi apa-apa terhadap kebijakan moneter secara umum. Jadi masih sangat kecil bila dibanding dengan skala usaha perbankan konvensional yang 97 persen. Sehingga perbankan syariah itu tidak mempengaruhi postur terhadap perbankan Indonesia.

Jika dibilang Boediono berperan besar dalam keberadaan perbankan syariah. Tapi kan faktanya tidak seperti itu. Sesungguhnya orang-orang yang berperan besar adalah inisiator dan pelaku perbankan syariah sendiri yang menginginkan Undang - Undang semacam itu, yakni Asosiasi Bank Syariah Indonesia atau Asbsindo.

Dalam posisinya sebagai Gubernur Bank Indonesia, Boediono berposisi sebagai orang yang mau tidak mau harus mengendors atau mengesahkannya. Karena kalau Boediono menolak itu akan menjadi sesuatu yang sangat tidak mengenakan posisinya. Siapapun yang ada di posisinya akan melakukan hal yang sama. Lantaran perbankan syariah sudah menjadi fakta bukan baru gagasan saja. Dan fakta itu makin lama makin membesar dan membutuhkan Undang – undang terpisah dari UU perbankan konvensional.

Ismail Yusanto juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menilai tidak ada yang istimewa dari keberadaan Boediono terkait hal ini. Kecuali kalau Boediono memang dikenal sebagai orang yang mengagas bank syariah. Itu baru melawan arus. Nah baru bolehlah diacungi jempol, ungkap Ismail. Namun faktanya tidak. Bukankah ia juga mengatakan perbankan syariah itu bagus. Apakah ungkapan itu basa-basi? tambahnya dalam sebuah situs resmi HTI.

Boediono secara intelektual sangat paham bahwa bank syariah itu memang bagus. Jadi siapa pun yang menyatakan bank syariah itu bagus sebenarnya itu pernyataan yang biasa. Tidak ada yang istimewa. Karena memang secara intelektual, secara empirik perbankan syariah memang bagus.

Terakhir, perlu kita review ulang rekam jejak serta sepak terjang kedua pasangan ini dalam menurunkan kebijakan-kebijakan ekonominya di Indonesia. Selama kiprahnya SBY- Boediono dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) kondisi ekonomi makro hanya tercermin dari besaran indikator pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan nilai tukar rupiah, relatif cukup stabil, bahkan cenderung terjadi perbaikan dari tahun ke tahun. Namun, pertanyaannya? Berhasilkah Boediono meningkatkan kesejahteraan masyarakat kebanyakan? Wallahua'lam