Jumat, 12 Juni 2009

Transaksi Murabahah di AS

Transaksi murabahah di Amerika Serikat tidak dianggap sebagai jual beli tapi pembiayaan (loan)
 
AWALNYA adalah pertanyaan General Manager United Bank of Kuwait (UBK) Steven T. Thomas kepada District Counsel Comptroller of the Currency (OCC), Jonathan H. Rushdoony pada pertengahan 2007.
Steven tidak berani menjalankan bisnis pembiayaan rumah berakad murabahah di AS sebelum mendapat persetujuan dari otoritas pengawas dan pengendali perbankan nasional negeri Paman Sam tersebut. OCC sendiri berada di bawah Departemen of Treasury AS.

Melalui Interpretive Letter 806 yang dipublikasikan OCC pada December 1997, UBK mendapat persetujuan untuk membiayai pembelian rumah dengan akad murabahah kepada nasabahnya.

Berbeda dengan otoritas moneter di Indonesia yang memandang pembiayaan murabahah adalah transaksi jual beli, OCC justru melihatnya tak ubahnya kredit pemilikan rumah (KPR) biasa yang menjadi produk perbankan yang umum. “UBK’s residential real estate financing proposal is functionally equivalent to or a logical outgrowth of secured real estate lending or mortgage lending, activities that are part of the business of banking”, tulis Jonathan H. Rushdoony, Kepala Distrik OCC untuk wilayah Northeastern yang berpusat di New York.

Sekadar Kosmetik

Karena bukan jual beli, maka OCC melihat kepemilikan bank terhadap property sebelum dimiliki sepenuhnya oleh nasabah hanyalah “cosmetic”. “The Branch does not, and will not, actually hold real estate. It will not operate the property, pay taxes, insurance, and other charges, maintain upkeep of the premises, make repairs when necessary, assume liability for injuries or other accidents on the property, or otherwise exercise dominion and control over the property”, tulis Rushdoony.

Bank baru benar-benar memiliki dan bertanggung jawab (actual possesion) jika si nasabah gagal bayar yang menyebabkan berakhirnya masa pembiayaan dan property tidak jadi dimiliki si nasabah.

Jika dibaca teliti surat tersebut, sejak 1997 sebenarnya otoritas moneter dedengkotnya kapitalisme tersebut sudah menerima ekonomi Islam dengan tangan terbuka. Bahkan dianggap turut membantu warga AS memiliki rumah sendiri. “UBK’s Net Lease proposal responds to the special issues regarding Islamic customers by providing an alternative method for a discrete group to get access to credit without forcing them to choose between their religion and home ownership…Furthermor e, UBK’s Net Lease proposal is consistent with the well-established public policy of encouraging home ownership”.

Surat yang menguatkan ini, sayang tidak jelas ditujukan kepada siapa namun memiliki kekuatan hukum yang sama dikelurkan oleh OCC pada November 1999. “The Murabaha products will be financing products and they will be considered loans for both tax and accounting purposes”, Interpretive Letters No.867. (Ibrahim Aji - Majalah Sharing)

Sumber foto: www.republika.co.id


Tidak ada komentar: