Selasa, 26 Mei 2009

Neoliberalisme Mazhab Baru dalam Kapitalisme

UII, Yogyakarta – Isu Neoliberalisme muncul pasca deklarsi pasangan capres SBY – Boediono. Meskipun pasangan ini mengelak untuk disebut menganut mazhab ekonomi Neoliberalisme, namun dalam perjalanannya Boediono yang pernah menjabat sebagai menteri ekonomi sejak jaman Presiden Megawati banyak menerapkan kebijakan ekonomi Neoliberal. Paham ini ditenggarai banyak pengamat ekonomi berbahaya bagi perekonomian Indonesia.

Hal itu mengemuka dalam sebuah diskusi interaktif bertajuk “ Neoliberalisme dalam Kancah Perpolitikan Indonesia” di Auditorium mahasiswa FIAI UII Jalan Kaliurang, Senin (25/5) kemarin. Hadir sebagai pembicara Dosen Ekonomi Islam UII, Nur Kholis serta hadir pula pegiat Imperialism Watch Forum (IWF), Yoyok Tindyo Prasetyo dan dimoderatori oleh Edo Segara dari Institut Studi Analisa dan Propaganda (INSAP) Yogyakarta.

“Neoliberalisme merupakan mazhab baru dalam ideologi ekonomi Kapitalisme yang diusung ole Milton Friedman dan Frederick Hayek. Dalam perjalanannya ketika Presiden AS Ronald Reagen berkuasa dan disaat yang bersaman Perdana Menteri Inggris Margareth Tacher menjabat, paham ini diadopsi dalam pemerintahan mereka. Konsep awal kapitalisme sebenarnya dimuculkan oleh Karl Marx yang terkenal dengan konsep Low of capital accumulations (hokum akumulasi modal) atau konsep mekanisme pasar bebas,” imbuh Yoyok Tindyo Prasetyo.

Ciri-ciri Neoliberalisme yang diantaranya adalah pertarungan secara terbuka antara pengusaha besar dan kecil, penyerapan dana melalui pasar modal, penguasaan sumber daya alam, penguasaan perusahaan Negara, intervensi pengusaha ke dalam politik (misal, Undang-undang), tumbuhnya perusahaan-perusahaan multinasional, munculnya UU yang membebaskan pihak asing masuk untuk eksplorasi kekakayan alam Indonesia, kebijakan kurs mengambang bebas, swastanisasi pendidikan, intervensi asing dalam UU yang dibuat DPR RI seperti UU Otonomi Daerah oleh World Bank dan UU Migas oleh USAID Amerika.

Sehingga capres yang memiliki kebijakan diatas tidak perlu mengelak kalau disebut Neolib, ujar Yoyok. Ia juga mengemukakan beberapa solusi untuk melawan konsep ini diantaranya dengan mengganti sistem ekonomi yang dianut saat ini dan tentunya ini tergantung siapa pemimpinnya. Menurutnya konsep ekonomi kerakyatan bukan berasal dari ekonomi Islam, konsep tersebut merupakan lahir dari paham sosialis.

Senada dengan pembicara sebelumnya, Nurkholis beranggapan paham ekonomi ini memang tidak bisa dielakkan, karena hampir 99,9 persen sarjana ekonomi lulusan Universitas diajarkan konsep ekonomi ini. Ia juga mengemukakan rusaknya ekonomi Negara Indonesia disebabkan karena pemerintahan sibuk mengurusi orang kaya ketimbang orang miskin. Ekonomi Islam bisa menjadi salah satu solusi untuk melawan konsep Neoliberalisme yang telah gagal mensejahterakan rakyat. Nur Kholis menyayangkan dari ketiga Capres sangat minim dalam menawarkan kebijakan dalam mendukung ekonomi Islam.

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...