Senin, 11 Mei 2009

Memilih Yang Paling Layak (Telaah Konsep Kepemimpinan Ibnu Taimiyah)

“Pengangkatan pemimpin untuk mengurusi perkara kaum Muslimin ini mutlak harus dilaksanakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pilihan yang amat selektif bagi orang-orang yang pantas (al-mustahiqqin) untuk memangku jabatan tersebut.”
[Ibnu Taimiyah]

Pemilu legislatif telah usai dan kini Indonesia menyongsong pemilihan presiden bulan Juli 2009. Menjadi relevan ketika calon-calon pemimpin yang terpilih kelak tahu persis konsep kepemimpinan Islam. Kenapa konsep kepemimpinan Islam menjadi begitu penting? Tidak lain karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Maka sudah selayaknya pengangkatan pemimpin untuk mengurusi perkara kaum Muslimin ini mutlak harus memperhatikan Islam sebagai agama yang agung. Oleh karena itu, perlu dilakukan pilihan yang amat selektif bagi orang-orang yang pantas (al-mustahiqqin) untuk memangku jabatan tersebut. Maka menarik untuk menelaah konsep kepemimpinan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya as-Siyasah Syar’iyyah fi Islahir-ra’i war-Ra’iyyah.

Ada beberapa istilah yang merujuk pada pengertian pemimpin. Pertama, kata umara yang sering disebut juga dengan ulil amri. Hal ini disebutkan dalam Alqur’an surat an-Nisaa’ [4] ayat 59: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. an-Nisaa’ [4]: 59).

Dalam ayat itu dikatakan bahwa ulil amri adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mengurus bawahannya, maka ia tidak layak disebut sebagai pemimpin yang sebenarnya. Dalam sebuah negara, jika ada pemimpin atau presiden yang tidak mengurus kepentingan rakyat, maka dia bukanlah seorang pemimpin.

Kedua, pemimpin sering disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan rakyat. Seorang presiden harus berusaha berpikir cara-cara agar negara yang dipimpinnya maju, sejahtera. Bagi presiden (pemimpin) yang bersikap melayani, maka kekuasaan yang dipimpinnya bukan sekedar kekuasaan yang bersifat formalistik, melainkan sebuah kekuasaan yang melahirkan sebuah power (kekuatan) yang lahir dari kesadaran. Sosok yang bisa menjadi contoh dalam hal ini adalah Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat yang juga pengusaha di zaman Rasulullah SAW. Ia menilai bahwa perusahaannya yang semakin lama semakin besar merupakan hasil dukungan karyawannya yang mencintai pekerjaan mereka.

Yang Layak dan Sesuai (Ashlah)

Pada saat Rasulullah SAW menaklukkan kota Makkah dan menerima kunci Ka’bah dari bani Syaibah, kunci tersebut hendak diminta oleh Abbas bin Abdil Muththalib agar dia memegang dua tugas sekaligus, yakni memberi minum jama’ah haji serta menjadi pelayan Ka’bah. Berkenaan dengan peristiwa itu, surat An-Nisa’ [4] ayat 58-59 diturunkan yang mengindikasikan agar Rasulullah SAW tetap memercayakan kunci itu kepada bani Syaibah.
Dengan demikian, sudah menjadi suatu kewajiban dari pemimpin pemerintahan (waliyul-amri) untuk mengangkat orang yang paling kompeten dan layak yang ia dapati untuk menyandang tugas itu.

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang mengangkat seseorang untuk mengurusi perkara kaum Muslimin, lalu mengangkat orang tersebut, sementara ia mendapatkan orang yang lebih baik, lebih layak dan sesuai daripada orang yang diangkatnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (H.R. Hakim dalam kitab Shahih-nya).
Sebagian ulama meriwayatkan, bahwa hadits diatas adalah ucapan Umar r.a kepada putranya, Abdullah bin Umar. Sementara itu, Umar bin Khaththab sendiri mengatakan: “Siapa saja yang mengangkat seseorang untuk mengangkat seseorang untuk perkara kaum Muslimin, tatkala dia angkat orang tadi karena cinta dan unsur kekerabatan, dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin.”

Jadi, pengangkatan pemimpin untuk mengurusi perkara kaum Muslimin mutlak harus dilaksanakan. Oleh karena itu perlu dilakukan pilihan yang amat selektif bagi orang-orang yang pantas (al-mustahiqqin) untuk memangku jabatan tersebut mulai dari pimpinan yang tertinggi sampai yang terendah. 

Masing-masing pejabat itu hendaknya mendelegasikan tugas atau mengangkat orang yang paling layak, bahkan hal ini seterusnya diterapkan pula dalam mengangkat karyawan sehingga kelak tercipta kepemimpinan Islam yang amanah.

Oleh karena itu, merupakan suatu kewajiban bagi yang akan mempercayakan suatu urusan administratif kaum Muslimin kepada seseorang, untuk menugaskannya kepada orang yang ada ditangannya memenuhi kelengkapan kriteria, yakni orang yang paling tepat (ashlah) dan mampu mengemban tugas, dan tidak menyerahkannya kepada seseorang yang meminta kedudukan (thalaba al-walayat), atau yang mengajukan diri minta kedudukan. Dalam kitab shahih Bukhari-Muslim dari Nabi SAW, bahwasannya suatu kaum datang menemui Nabi Saw. untuk meminta jabatan. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kami tidak akan mengangkat seseorang yang meminta jabatan untuk suatu urusan yang ada pada kami.”

KKN Merupakan Pengkhianatan

Apabila menyerahkan suatu jabatan dari seseorang yang sebenarnya lebih layak dan tepat untuk mendudukinya kepada orang lain karena faktor ikatan kekeluargaan, loyalitas atau persahabatan, atau kesamaan asal daerah, mazhab, satu aliran, satu firqah, satu kelompok atau suku bangsa, atau karena adanya sogokan (suap), ataupun kepentingan-kepentingan tertentu, atau sebab-sebab yang lain, merasa iri terhadap orang yang berhak dan layak menduduki posisi tersebut. Semuanya itu merupakan bentuk pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukminin. Hal ini tergolong larangan sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT: Wahai orang-orang yang beriman, jangnlah kalian berkhianat kepada Allah, Rasul dan berkhianat pada amanat-amanat yang diberikan kepada kalian, padahal kalian mengetahui. Dan ingatlah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu dapat menjadi fitnah bagi kalian. Dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahal yang besar. (QS. Al-Anfal [8]: 27-28). 

Kecintaan seseorang kepada anak terkadang berpengaruh terhadap pemberian wewenang (jabatan) atau sesuatu yang sebenarnya bukanlah menjadi haknya. Maka, di sinilah seseorang telah berkhianat terhadap amanat yang telah diberikan kepadanya. Demikian juga dengan melimpahnya harta atau berlebihnya pengetahuan (hafalan) yang tidak jarang dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mendapatkan yang bukan menjadi haknya, atau mendorongnya untuk lebih berpihak (muhabbah) kepada pengikutnya yang cari muka kepadanya untuk tujuan mencari kedudukan (al-walayat). Sehingga dengan perbuatannya itu dia telah mengkhianati Allah dan rasul-Nya, sekaligus tidak menepati amanatnya.

Sedangkan orang yang melaksanakan amanat sekalipun itu bertentangan dengan hawa nafsunya, maka Allah akan meneguhkannya, menjaga dan memelihara keluarga serta harta bendanya. Sementara terhadap orang yang memperturutkan hawa nafsunya, Allah akan menyiksanya dengan menakdirkan sesuatu yang merupakan kebalikan (naqidh) dari tujuannya, yakni menimpakan kehinaan kepada keluarganya dan sekaligus melenyapkan hartanya.

Kisah-kisah dan segala peristiwa faktual yang terjadi pada zaman sekarang ini maupun yang terekam dari perjalanan sejarah masa lalu, adalah sebuah pelajaran (ibrah) yang amat berharga bagi orang yang mau memikirkannya. Konsep kepempinan ala Ibnu Taimiyah ini bisa menjadi pelajaran bagi para calon presiden Indonesia yang akan bersaing kelak.
Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW juga mengisyaratkan, sesungguhnya jabatan itu adalah sebuah amanah yang harus dilaksanakan sesuai dengan misi yang diembannya, sebagaimana telah kami jelaskan di depan. Hal tersebut selaras dengan sabda Nabi SAW kepada Abu Dzar al-Ghifari r.a berkenaan dengan masalah kepemimpinan (imarah) : “Sesungguhnya ia adalah amanat. Dan pada hari Kiamat ia meruapakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang melaksanakannya sesuai dengan haknya dan melaksanakan yang semestinya.” (H.R. Muslim).

Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila amanah itu disia-siakan, maka tunggulah datangnya kiamat. Dikatakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, apakah maksud menyia-yiakan amanah itu?’ Rasulullah SAW bersabda, “Apabila perkara itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Kiamat (kehancuran)’!”

Terakhir kita berharap calon-calon pemimpin yang kelak terpilih benar-benar terpilih karena ia memang layak dan sesuai. Pemimpin tersebut juga pemimpin yang taat kepada Allah dan menjalankan sunnah-sunnah Rasul dan dapat menjaga amanah sebaik-baiknya sehingga bisa dipertanggungjawabkan dengan baik kepada rakyat dan tentunya kepada Allah SWT. Semoga presiden Indonesia yang terpilih kelak bisa membawa arah perubahan yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Wallahua’lam.

Sumber gambar: www.fajarilmubaru.com

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...