Selasa, 26 Mei 2009

‘Keluarkan Kucing dari Karung...’

Oleh Budi Cahyana
HARIAN JOGJA

DEPOK – Media massa harus memberikan informasi yang utuh dalam peliputan pemilihan Presiden (pilpres), meski demikian, dalam implementasinya, pembaca sering menemukan ketidakberimbangan berita dalam peliputan pilpres.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk “Wajah Media Menuju Pilpres 2009” di Student Center Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Jum’at (15/5) kemarin. Hadir sebagai pembicara Pemimpin Redaksi Harian Jogja, YA Sunyoto, serta pemerhati media dari Institut Studi Analisa dan Propaganda (INSAP) Yogyakarta, Edo Segara.

“Pers berfungsi memenuhi hak tahu masyarakat, termasuk dalam pilpres kali ini. Jangan sampai masyarakat memilih Presiden seperti memilih kucing dalam karung. Jadi, Pers harus berperan mengeluarkan kucing dari karung, supaya masyarakat benar-benar tahu siapa yang akan mereka pilih,” terang YA Sunyoto.

Menurut pria asal rembang, Jawa Tengah itu, hal penting dalam pemberitaan media massa secara utuh adalah mengabarkan sisi positif maupun sisi negatif dari masing-masing kandidat presiden dan wakil presiden.

Dia menegaskan peran pers dalam kehidupan demokrasi sangat vital. Menyitir gagasan Edmund Burke, alumnus Institut Pertanian Bogor itu menerangkan pers berfungsi sebagai pilar keempat dalam demokrasi.

Menurut Sunyoto, pada saat konsep Trias Politika yang membagi kekuasaan menjadi kekuatan legislatif, eksekutif, dan yudikatif yang mandul, pers berperan membongkar kemandekan itu.

Dari konteks lain, Edo Segara berpendapat pemberitaan dalam peliputan seputar Pilpres kadang memihak kepada kelompok tertentu. Selain itu, media kadang mendistorsi fakta yang ada. Berbagai pemberitaan menjelang pilpres, kadang menguntungkan satu kandidat tertentu, ujarnya.

“Media terkadang membesarkan atau mengecilkan data. Padahal, peran media sangat strategis. Konon, semakin pandai wartawannya, maka semakin pandai pula masyarakatnya.”

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...