Minggu, 31 Mei 2009

Fikih Jurnalistik ; Etika dan Kebasan Pers Menurut Islam

Judul : Fikih Jurnalistik.
Penulis : Faris Khoirul Anam.
Halaman : 179 Halaman.
Cetakan : Pertama, Februari 2009.
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur.

PERAN media dalam kehidupan begitu besar dalam mempengaruhi masyarakat. Sebagai wahana informasi, media menjadi agen produksi dan reproduksi informasi. Fungsi informasi ini terkait erat dengan fungsi edukasi. Media mempunyai kekuatan dahsyat dalam mempengaruhi perubahan budaya dan etika masyarakat. Media massa memiliki kekuatan untuk mengendalikan jalan pikir, gaya hidup, keinginan, bahkan seluruh aktifitas manusia sepanjang hidupnya.

Di sisi lain, media fungsi sebagai sarana kontrol sosial. Dalam konteks ini, media dituntut mampu mewartakan dengan baik fakta yang ada. Pers menyediakan dirinya sebagai media kritik yang santun terhadap fakta yang terjadi. Pertanyaan yang muncul, mampukah media bersikap adil, profesional, dan independen? Mampukah pers melaksanakan fungsinya sebagai jurnalisme yang presisi, bukan jurnalisme asal? Seringkali pers melakukan cara-cara tak lazim, seperti fitnah, tidak jujur, menekan orang, bahkan cenderung menabrak kode etik jurnalistik.

Pemberitaan yang vulgar dan sensasional justru menjadi kegemaran para wartawan dalam cara pemberitaan yang disebut crisis news, action news, spot news, dan hard news. Ditambah dengan kebiasaan buruk mengambil angel kejadian yang menegangkan, pemakaian gaya bahasa, cara memilih judul, leads dan cara menerapkan fungsi agenda setting (pilihan waktu dan tempat berita) yang mencemaskan khalayak (audience).

Buku ini penting untuk dibaca oleh kaum jurnalis sebagai pegangan agar karya jurnalistik dibuat sesuai tuntunan. Buku ini menjelaskan tentang pentingnya dakwah bil qalam bagi jurnalis muslim. Buku ini juga memberikan batasan tentang mana yang ’halal’ dan mana yang ’haram’ dalam dunia jurnalistik. Meskipun buku ini belum secara tuntas menjelaskan etika jurnalis muslim namun buku ini mampu memberikan penjelasan yang gamblang tentang berbagai aspek etika Islam dalam dunia pers. 

Sebagai jurnalis Muslim, tentu yang dipegang adalah etika seorang Muslim. Ada anekdot, bahwa semakin pandai para wartawan maka semakin pandai pula masyarakatnya; semakin bodoh wartawannya, semakin bodoh masyarakatnya. Ucapan ini rasanya tidak berlebihan dan pengultusan terhadap komunitas pers. Dalam kenyataannya, lewat media massa masing-masing secara langsung atau tidak langsung, wartawan adalah pendidik masyarakatnya. Jika pendidiknya pandai dan beretika serta menggunakan metode yang cerdas, maka ada harapan masyarakat yang mendapat pengetahuan dari media massa akan menjadi pandai pula. Semoga!


Tidak ada komentar: