Sabtu, 25 April 2009

Koruptor Teriak Korupsi

KIASAN atau peribahasa ’’Maling teriak maling’’ sudah akrab di telinga kita. Artinya, orang-orang yang dinilai baik, pejabat yang dinilai menjalankan tugasnya dengan baik, namun kenyataannya mereka tak ubahnya maling sungguhan. Merekalah maling sesungguhnya, melakukan korupsi atas nama wewenang dan kekuasaan (abuse of power), namun sulit dibuktikan dengan barang bukti karena biasanya mereka sangat licin dalam melepaskan diri dan menjaga citra dirinya di masyarakat.
Maling teriak maling adalah cermin orang-orang munafik yang sesungguhnya dapat dengan mudah dilihat di masyarakat. Lihat saja pertambahan hartanya yang mencolok, gaya hidupnya yang glamour. Mobil bisa lima, rumah di mana-mana, anak-anaknya sekolah di luar negeri.

Persoalan di atas tentunya menjadi sebuah wacana menarik yang terus menjadi buah bibir. Bagaimanapun, persoalan korupsi adalah sebuah persoalan yang tidak bisa dipandang hanya sekadar persoalan mengambil uang kemudian memperkaya diri sendiri namun lebih dari itu yakni betapa (korupsi) itu sudah menjadi virus yang sangat sulit dicari obatnya.

Virus yang kini menjalar hingga ke tulang sumsum hanya karena keinginan membuat masa depan keluarganya hingga tujuh turunan terselamatkan. Walau sebenarnya kalau bisa bercermin wajahnya tentunya akan malu kalau dirinya melakukan kejahatan itu.
Bahkan tak ayal ada seorang koruptor yang meneriaki orang lain korupsi. Kasus Abdul Hadi Jamal anggota DPR-RI dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang menyebut-nyebut anggota DPR lain korupsi. Padahal anggota dewan yang lain tidak terlibat dalam kasus tersebut, dia hanya mencari teman di penjara.
Korupsi tentunya harus diberantas dengan tersistematis karena memang sepertinya banyak orang tidak menyadari apa yang dilakukan adalah sebuah korupsi. Itu dapat dilihat dari aturan dan peraturan yang sudah dibuat ternyata malah ditubruk dengan seenaknya. Inilah yang kemudian menjadi penyebab utama terjadinya korupsi yang tersistematis.

Bila saat ini KPK pada tahapan mengejar koruptor yang dilakukan oleh aparat pemerintahan serta swasta nasional. Namun, hal lain yang juga penting mendapat sorotan adalah kantor-kantor non pemerintah. Ngenet dikantor bukan untuk kepentingan kantor juga menurut saya penyalahgunaan wewenang (korupsi). Telpon kantor yang digunakan untuk kepentingan selain kantor juga korupsi, jadi hati-hati. Jangan-jangan selama ini kita meneriaki koruptor tapi kita sendiri korupsi. Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...