Sabtu, 11 April 2009

Kekacauan Pemilu 2009



PESTA demokrasi telah digelar 9 April kemarin, namun persoalan yang menyelimuti hajatan 5 tahunan ini pun tak kalah banyaknya. Persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) tampaknya menjadi persoalan utama dalam pemilu kali ini. Banyak orang yang ‘dipaksa golput’ karena persoalan administratif. Pihak Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) tampaknya tidak bekerja optimal. Banyak orang yang sudah meninggal masih muncul dalam DPT, sementara yang masih hidup justru tidak terdaftar. Nama-nama yang muncul di DPT pun ada yang double (rangkap). Ini bukti ada kekacauan pengambilan data DPT di KPUD.

Banyak pihak yang sudah mengingatkan KPU terhadap persoalan DPT dan kertas suara yang sudah tercontreng. Termasuk salah satunya adalah Ketua Dewan Pembina Partai GERINDRA, Prabowo Subianto. Prabowo mengusulkan agar Pemilu diundur sampai KPU benar-benar bisa menyelesaikan persoalan DPT. Tetapi hal tersebut sepertinya menjadi angin lalu bagi KPU.

Di Yogyakarta pada hari Rabu (1/4) siang, salah seorang anggota KPU Kota Yogyakarta yang mengurusi soal data dan informasi pemilih, Titok Hariyanto dipukuli oleh sejumlah orang tidak dikenal dikantornya. Anggota KPU tersebut dipukuli sampai lebam matanya, sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Happy Land Jalan Timoho Yogyakarta untuk mendapat perawatan. Kejadian ini terjadi karena merasa KPU Kota Yogyakarta mempersulit pengurusan formulir A-5 atau mutasi pemilih. Pada hari sebelumnya juga sejumlah mahasiswa UGM dan UII mengadukan persoalan masalah mutasi pemilih yang menyulitkan banyak mahasiswa untuk memilih sehingga banyak mahasiswa yang terpaksa golput.

Jika kita invetarisir masalah pemilu kali ini cukup banyak diantaranya adalah, masalah jumlah parpol yang cukup banyak sehingga menyulitkan pemilih apalagi yang lansia, aturan menyoblos menjadi mencontreng, bolpoint untuk mencontreng yang menyulitkan petugas KPPS dan Saksi untuk mengecek pencontrengan, seharusnya KPU memberikan fasilitas spidol besar berwarna merah, masalah DPT dll. Ada wacana beberapa elit parpol menanggapi masalah DPT ini untuk menolak hasil pemilu, jika dalam proses hukum terbukti. Well, inilah uniknya pemilu tahun ini, KPU mengaku sudah bekerja keras tapi nampaknya tidak seperti itu. Semoga Pilpres hal ini tidak terjadi lagi…!

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...