Jumat, 17 April 2009

Jika SBY akhirnya Memilih Akbar



CAPAIAN suara Partai Golkar yang menurun drastis dibanding pemilu 2004 menjadi catatan tersendiri bagi Jusuf Kalla (JK). Bahkan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla sampai colling down tidak melakukan aktifitas apapun untuk sekedar mergevaluasi kekalahan partainya. JK dituding sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kekalahan Golkar. Ia dinilai beberapa elit di Golkar gagal memimpin Partai Golkar. Termasuk salah satunya adalah mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tandjung. Penilaian Akbar Tandjung bukan tanpa pretensi, karena dirinya sangat berambisi untuk kembali ke kancah politik Indonesia. 

Nama Akbar Tandjung muncul disaat JK mendapat kecaman. Dukungan dari beberapa daerah pun muncul untuk mengajukan Akbar Tandjung sebagai pasangan SBY untuk mendongkrak kembali suara Golkar di Pilpres nanti. TV One sempat membuat pooling yang memasangkan SBY – Akbar Tandjung dan hasilnya pasangan ini memenangkan pooling ketimbang pasangan SBY – Hidayat Nurwahid yang berada diurutan kedua. Akbar Tandjung sendiri saat ini terlihat kasak-kusuk silaturahim ke para Kyai-kyai untuk meminta restu dan dukungan.

Akbar Tandjung adalah politisi kawakan Golkar yang namanya sempat tersangkut kasus korupsi. Beberapa kasus yang melilit Akbar Tandjung antara lain pada Juli 2000, Akbar Tandjung dituding menyelewengkan duit negara mencapai Rp 179,9 milyar. Diduga hal tersebut dilakukan saat Akbar menjabat sebagai Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) pada priode April 1993 hingga Maret 1998.

Keseluruhan dana yang diduga disalahgunakan Akbar itu berasal dari Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (Taperum), dimana Akbar menjabat sebagai ketua badan pertimbangan dalam penyelenggaraan tabungan tersebut. Seluruh pegawai negeri dipotong gajinya untuk mendapatkan fasilitas perumahan.

Akbar Tanjung dituduh memasukkan dana tersebut ke beberapa bank yang bunga depositonya terbilang rendah. Misalnya, Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE) yang bunganya hanya 3 persen, Bank Tabungan Negara (BTN) 8 persen, dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) 12 persen. Perumnas juga diberi pinjaman dengan bunga hanya 8 persen. Padahal, saat itu bunga di bank lain mencapai 20 persen setahun. Dari selisih bunga yang tinggi inilah kabarnya yang kemudian ditilap Akbar untuk dijadikan dana kampanye Golkar.

Namun, dengan menyodorkan bukti-bukti yang dimilikinya, Akbar dinilai bukan sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap masalah tersebut. Tahun 2001, Akbar kembali ditimpa masalah. Namun kali ini berhubungan dengan keluarganya, yang terkait penggelapan tanah keluarga di kawasan Srengseng, Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Bahkan dalam kasus korupsi dana nonbujeter Bulog Rp. 40 miliar, Akbar Tandjung sempat menjadi tersangka. Namun setelah mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung terhadap keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang memvonisnya tiga tahun penjara, Akbar Tandjung dinyatakan bebas dan tidak terbukti bersalah pada kasus korupsi tersebut.

Keputusan melepaskan Akbar diduga politis dan campur tangan Megawati saat menjabat sebagai Presiden. Akbar adalah orang bermasalah ditubuh Golkar, apakah SBY tetap mau memilih Akbar Tandjung sebagai pendampingnya? Kita lihat saja nanti, jika ini terjadi saya yakin SBY tidak mampu mempertahankan elektabilitasnya. Salah satunya saya yang dulu memilih SBY di Pilpres 2004, tidak akan memilih lagi di Pilpres 2009 jika SBY jadi berpasangan dengan Akbar Tandjung.

Sumber foto : www.detik.com

Tidak ada komentar: