Senin, 13 April 2009

3 Sebab Kekalahan PKS

RAIHAN suara yang dicapai PKS pada pemilu 2009 tidak begitu optimal jika melihat hasil quick count oleh berbagai lembaga survey ataupun KPU sendiri yang hanya 8,6 persen. Meskipun dari PKS sendiri mengklaim dari penghitungan internal quick count PKS mencapai level 11 persen sampai 13 persen (Republika, 11/4).

Walaupun ada kenaikan dari hasil yang dicapai di tahun 2004, kenaikan ini tidak begitu signifikan jika dibandingan hasil 2004 yang bisa meraih 3 kali lipatnya dari hasil pemilu 1999. 

Banyak kalangan yang menilai mesin politik PKS tidak bekerja secara maksimal. Kerapihan organisasi yang ada di PKS tidak mampu mencapai terget yang dipatok 20 persen untuk bisa mengusung Capres sendiri. Harapan untuk mengusung Capres sendiri pun tampaknya tak terwujud di kalangan elit PKS. Sehingga pilihan untuk koalisi menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dielakkan.

Menurut pengamatan sederhana saya ada 3 hal yang menyebabkan kekalahan PKS, di antaranya adalah:

Pertama, Golput Teknis. Karena banyak yang jelas-jelas kader PKS tidak bisa mencoblos karena permasalah administratif atau tidak terdaftar di DPT. Kampus yang menjadi basis kader PKS banyak yang tidak bisa ikut memilih. Sebagai contoh, sekitar 5000-an mahasiswa kader PKS dari sejumlah kampus di Yogyakarta tidak bisa ikut mencontreng dalam pemilu 2009. Belum lagi ditambah masyarakat yang juga kader PKS tidak terdaftar sebagai DPT. 

Kedua, Golput Internal. Golput ini dilakukan karena kesadaran kader PKS, meskipun mereka terdaftar sebagai DPT. Isu pecahnya PKS yang menjadi dua kubu, kubu Keadilan (Ust. Mashadi, Didin Hafiddhudin, Abu Ridho dkk.) dan kubu Sejahtera (Ustadz Hilmi Aminuddin, Anis Matta, Fahri Hamzah, Zulkieflimansyah dkk.) menjadi catatan sendiri. Dari kubu keadilan menilai banyak elit PKS sudah jauh dari garis perjuangannya, yang tidak lagi mengusung syariat sebagai perjuangan dakwahnya di Parlemen. Meski kubu-kubuan ini sebenarnya dibantah oleh elit PKS. Namun fakta turunnya suara PKS di Jakarta, menjadi bukti yang absah ada faksi tersebut.

Ketiga, Golput Ideologis. Golput ini dilakukan oleh kawan-kawan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Salafi dll., yang dulu suaranya lari ke PKS. Namun imbas dari PKS yang mengusung Partai terbuka dan tidak lagi memperjuangkan syariat memutuskan untuk tidak memilih alias golput. Salah seorang kawan saya di Hizbut Tahrir mengatakan tidak ada satupun syarat yang terpenuhi untuk ikut memilih dalam pemilu 2009 kali ini, karena PKS pun mendewakan demokrasi. 

Ketiga hal ini mestinya menjadi renungan (evaluasi) bagi elit politik PKS. Memilih untuk menjadi Partai Terbuka, tapi ditinggalkan konstituen lamanya atau menjadi partai yang inklusif yang tidak lagi memperjuangkan syariat dalam agenda politiknya demi meraup suara floating mass. Semua pilihan ada di elit PKS. Wallahua'alam

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Tambahan kekalahan PKS adalah:

1. ke-eksklusiv-an" Pks, walalupun mengusung partai terbuka, tak bisa dipungkiri dalam grassroot mereka susah menyatu dengan masyarakat yang bukan kelompok mereka. hampir sebagian besar masyarakat kenal ciri dan perawakan mereka. "ini pasti orang PKS...!

2. rasa mempunyai, minimal menjadi bagian dari ke biasaan masyarakat, tidak dipunyai kader-kader pks di lapangan, sebagai contoh: pengajian yang sudah dilakukan jauh sebelum reformasi oleh masyarakat dan dilakukan bada maghrib mereka tidak hadiri walaupun mesjid itu berada di depan rumah mereka. akan tetapi pengajian selesai dan akan dilaksanakan sholat isya, baru mereka berduyun-duyun datang....mungkin mereka beranggapan, liqo mereka lebih baik dan jauh sempurna.

3. Salahsatu kegagalan PKS di basis terbesar mereka di Depok, Sebagai partai penguasa di depok, "dengan slogan melayani warga depok", seharusnya PKS bisa membuktikan itu, bukan hanya "walikota" tapi seluruh jajaran yang duduk di DPRD, DPD hingga DPRa. tapi sayangnya hanya slogan kosong. contoh: dana kematian, ternyata berbelit-belit dan tidak jarang surat masuk tapi hingga batas waktu berlalu realisasinya engga pernah datang. bahkan isyu yang berkembang, kalau kader partai yang mati atau minimal simpatisan, hari itu juga menerima santunan, dan itu akan dilakukan oleh ketua DPRa-nya secara sungguh-sungguh. jadi jangan berharap kalau bukan kader/simpatisan.

Slogan yang "tidak populis" seperti makan harus dengan tangan kanan. jauh sebelum ada PKS, jauh sebelum Indonesia merdeka. Umat Islam di Depok, walaupun sebagian kecil tidak begitu mendalam ajaran agamanya, mereka sudah memperoleh didikan akhlaq dan adab dari orang tuanya (mereka sebagian besar keturunan betawi yang terkenal keras mendidik anak), apalagi yang datang dari keluarga santri. kebijakan ini adalah kebijakan bodoh "selalu merasa lebih pintar".

Untuk "walikota depok”, setiap kali undang dalam acara apapun oleh masyarakat. selalu mengungkapkan kemajuan Depok, dari segi hitungan matematis, dan selalu tidak pernah menyentuh esensi dari kegiatan yang sedang dilakukan, apalagi untuk mengerti keadaan yang sedang dirasakan masyarakat, apalagi untuk sekedar empati untuk menyerahkan sedikit bantuan untuk kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dari pemerintah. dan satu lagi isi pidato selalu berbentuk pengarahan seperti kepada bawahannya di pemerintah, dengan selalu dibumbui "seperti orang yang paling pintar dan paling mengerti "persis selogan makan dengan tangan kanan.

itu dulu ah, masih banyak sich....tapi mudah-mudahan menjadi renungan. bukan hanya kita, tapi mudah2an para ikhwan dan akhwat, yang tidak pernah menyebut saudara muslim lainya dari bukan kelompoknya dengan ikhwan dan akhwat.