Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

Kasak-kusuk Berebut Kursi Capres dan Cawapres

Gambar
Menjelang Pilpres para petinggi parpol banyak yang kasak-kusuk mencari partner untuk diajak berkoalisi. Jika kita melihat koalisi yang ada, parpol masih mengabaikan kepentingan rakyat. Apa buktinya? Buktinya beberapa parpol berkoalisi hanya untuk alasan kursi RI 1 dan RI 2. Golkar sendiri cerai dari Partai Demokrat hanya karena alasan tidak dipilih oleh SBY sebagai Cawapres.  Peta koalisi yang ada sekarang memang hanya pada 2 blok, blok Megawati dan blok SBY. Megawati dengan PDIP didukung Gerindra, Hanura dan Golkar sedangkan SBY dengan Demokrat didukung oleh PKS dan PKB. Namun tidak menutup kemungkinan blok ini akan bertambah menjadi 3 jika akhirnya Megawati memilih Cawapres dari Partai Golkar. Blok yang akan keluar dari megawati ini akan diusung oleh Prabowo dengan Gerindra didukung oleh PAN, PPP, dan Hanura. Atau Golkar akan memilih berkoalisi dengan Hanura untuk mengusung JK- Wiranto. Karena cawapres pula beberapa partai pecah kongsi serta tarik-menarik dukungan koalisi. PAN misa

Koruptor Teriak Korupsi

Gambar
KIASAN atau peribahasa ’’Maling teriak maling’’ sudah akrab di telinga kita. Artinya, orang-orang yang dinilai baik, pejabat yang dinilai menjalankan tugasnya dengan baik, namun kenyataannya mereka tak ubahnya maling sungguhan. Merekalah maling sesungguhnya, melakukan korupsi atas nama wewenang dan kekuasaan ( abuse of power ), namun sulit dibuktikan dengan barang bukti karena biasanya mereka sangat licin dalam melepaskan diri dan menjaga citra dirinya di masyarakat. Maling teriak maling adalah cermin orang-orang munafik yang sesungguhnya dapat dengan mudah dilihat di masyarakat. Lihat saja pertambahan hartanya yang mencolok, gaya hidupnya yang glamour. Mobil bisa lima, rumah di mana-mana, anak-anaknya sekolah di luar negeri. Persoalan di atas tentunya menjadi sebuah wacana menarik yang terus menjadi buah bibir. Bagaimanapun, persoalan korupsi adalah sebuah persoalan yang tidak bisa dipandang hanya sekadar persoalan mengambil uang kemudian memperkaya diri sendiri namun lebih da

Jika SBY akhirnya Memilih Akbar

Gambar
CAPAIAN suara Partai Golkar yang menurun drastis dibanding pemilu 2004 menjadi catatan tersendiri bagi Jusuf Kalla (JK). Bahkan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla sampai colling down tidak melakukan aktifitas apapun untuk sekedar mergevaluasi kekalahan partainya. JK dituding sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kekalahan Golkar. Ia dinilai beberapa elit di Golkar gagal memimpin Partai Golkar. Termasuk salah satunya adalah mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tandjung. Penilaian Akbar Tandjung bukan tanpa pretensi, karena dirinya sangat berambisi untuk kembali ke kancah politik Indonesia.  Nama Akbar Tandjung muncul disaat JK mendapat kecaman. Dukungan dari beberapa daerah pun muncul untuk mengajukan Akbar Tandjung sebagai pasangan SBY untuk mendongkrak kembali suara Golkar di Pilpres nanti. TV One sempat membuat pooling yang memasangkan SBY – Akbar Tandjung dan hasilnya pasangan ini memenangkan pooling ketimbang pasangan SBY – Hidayat Nurwahid yang berada diurutan

3 Sebab Kekalahan PKS

Gambar
RAIHAN suara yang dicapai PKS pada pemilu 2009 tidak begitu optimal jika melihat hasil quick count oleh berbagai lembaga survey ataupun KPU sendiri yang hanya 8,6 persen. Meskipun dari PKS sendiri mengklaim dari penghitungan internal quick count PKS mencapai level 11 persen sampai 13 persen (Republika, 11/4). Walaupun ada kenaikan dari hasil yang dicapai di tahun 2004, kenaikan ini tidak begitu signifikan jika dibandingan hasil 2004 yang bisa meraih 3 kali lipatnya dari hasil pemilu 1999.  Banyak kalangan yang menilai mesin politik PKS tidak bekerja secara maksimal. Kerapihan organisasi yang ada di PKS tidak mampu mencapai terget yang dipatok 20 persen untuk bisa mengusung Capres sendiri. Harapan untuk mengusung Capres sendiri pun tampaknya tak terwujud di kalangan elit PKS. Sehingga pilihan untuk koalisi menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Menurut pengamatan sederhana saya ada 3 hal yang menyebabkan kekalahan PKS, di antaranya adalah: Pertama , Go

Kekacauan Pemilu 2009

Gambar
PESTA demokrasi telah digelar 9 April kemarin, namun persoalan yang menyelimuti hajatan 5 tahunan ini pun tak kalah banyaknya. Persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) tampaknya menjadi persoalan utama dalam pemilu kali ini. Banyak orang yang ‘dipaksa golput’ karena persoalan administratif. Pihak Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) tampaknya tidak bekerja optimal. Banyak orang yang sudah meninggal masih muncul dalam DPT, sementara yang masih hidup justru tidak terdaftar. Nama-nama yang muncul di DPT pun ada yang double (rangkap). Ini bukti ada kekacauan pengambilan data DPT di KPUD. Banyak pihak yang sudah mengingatkan KPU terhadap persoalan DPT dan kertas suara yang sudah tercontreng. Termasuk salah satunya adalah Ketua Dewan Pembina Partai GERINDRA, Prabowo Subianto. Prabowo mengusulkan agar Pemilu diundur sampai KPU benar-benar bisa menyelesaikan persoalan DPT. Tetapi hal tersebut sepertinya menjadi angin lalu bagi KPU. Di Yogyakarta pada hari Rabu (1/4) siang, salah seoran