Selasa, 24 Maret 2009

Sandiago S. Uno: Menggapai Sukses dengan Bimbingan Allah SWT

"Segala himpitan hidup dijalaninya dengan optimis. Bermodal ilmu, kerja keras, disiplin dan kedekatannya dengan-Nya, ia meraih perstasi puncak di usia muda."

KEHILANGAN pekerjaan yang mapan karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut terhempas krisis tahun 1998, tak membuat laki-laki ini frustasi. Kesulitan hidup ia jalani dengan sikap optimis. Ia kemudian banting setir merintis bisnis menjadi wirausahawan.

Jerih payahnya terlihat hari ini. Sepuluh tahun kemudian, laki-laki ramah ini telah berhasil menjadi entrepreneur sukses dengan omzet usaha mencapai miliaran rupiah. Pada tahun 2008 Enterprise Asia menobatkannya menjadi Entrepreneur of The Year untuk predikat pengusaha terbaik.

Ia adalah Sandiaga Salahuddin Uno. Sandi panggilan akrabnya mengaku menjadi pengusaha karena “kecelakaan”. Sebab, sejak awal ia tak pernah berniat menjadi pengusaha. Cita-cita awalnya adalah menjadi top manager atau direktur di sebuah perusahaan. Namun, jalan hidupnya ternyata berkata lain.

“Saya ini pengusaha by accident. Kalau tak ada krisis mungkin saya tak pernah menjadi entrepreneur,” akunya kepada Sabili saat ditemui di sela-sela acara World Islamic Economic Forum (WIFE) di Ritz Carlton, Jakarta awal Maret 2009.

Berdasarkan pengalamannya itulah pengusaha yang tutur katanya runut ini memercayai bahwa seorang entrepreneur dapat dibentuk. Pengusaha tidak lahir karena keturunan atau warisan keluarga.

“Sebab pada setiap individu memiliki potensi kewirausahaan,” ujar bungsu dari dua bersaudara ini.

Contoh nyata adalah Sandi sendiri. Pengusaha muda jebolan Wichita State University dengan predikat summa cum laude ini tidaklah terlahir dari keluarga pengusaha, melainkan keluarga pendidik. Ayahnya Razif Halik Uno (Henk Uno) adalah seorang pekerja keras di sebuah perusahaan minyak.

Sedangkan ibunya Rachmini Rachman (Mien R Uno), seorang pelopor ilmu kepribadian di Indonesia. Pamannya, DR Arief Rachman juga adalah seorang pakar pendidikan terkemuka di Tanah Air.

“Saya adalah orang pertama di keluarga yang terjun di bisnis,” ujarnya.

Keputusannya bergelut di dunia bisnis tak pernah ia sesali. Sebaliknya memicu semangatnya untuk serius dan total dalam dunia bisnis.

Ketika merintis bisnisnya sepuluh tahun silam, ayah dua anak ini mengaku tidak berpikir yang muluk-muluk. Saat ide muncul, ia segera melangkah dengan modal kepercayaan yang tinggi.

Selanjutnya menjalankan usahanya dengan kerja keras dan berpikir bagaimana menjadi yang terbesar. “Modal saya segera melangkah, kemudian menggantungkan cita-cita setinggi langit. Alhamdulillah, Allah ternyata mengabulkan cita-cita tersebut,” ujar laki-laki yang selalu santun dan ramah dengan istrinya ini.

Seperti halnya tokoh lainnya, Sandi meniti karir bisnis dari bawah. Mulai dari konsultan yang dibayar dengan uang, kemudian bergeser dibayar dengan saham. Pada tahun 1998, bersama Edwin Soeryadjaya, ia mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usaha yang digarap meliputi sektor pertambangan, telekomunikasi dan produk kehutanan.

Dengan modal investor, perusahaannya mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang bermasalah. Kinerja perusahaan tersebut dibenahi. Setelah pulih dan berkembang, aset perusahaan itu dijual dengan harga tinggi. Beberapa diantaranya PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional.

Satu keunikan laki-laki yang gemar olahraga basket ini dibanding pengusaha lainnya adalah kedekatannya dengan kalangan akar rumput. Krisis ekonomi dunia yang terjadi menurut suami Noor Asiah ini, lebih disebabkan praktik riba yang dianut dunia selama ini.

Ekonomi yang dibangun di atas pondasi riba memunculkan ketamakan. Praktik ekonomi semakin tidak sehat karena satu pihak berpikir membunuh pihak lainnya. “Inilah alasannya kenapa riba itu dilarang,” ujarnya.

Karena itu, ia berpendapat ini saatnya dunia Islam mengambil peran penting. Caranya dengan mengubah kiblat ekonomi dunia agar melirik perspektif Islam. Sehingga ekonomi dunia yang berada di ujung tanduk ini terselamatkan.

Berbeda dengan prinsip ekonomi yang dianut saat ini, prinsip ekonomi Islam mendorong lebih banyak investmen (investasi) daripada pinjaman. Investmen akan mendorong para pelaku bisnis memiliki kemampuan untuk berkembang. Sehingga tercipta prinsip kebersamaan.

“Jika prinsip ini dijalankan, maka tidak akan pernah terjadi krisis seperti saat ini,” tandasnya.

Mendorong ekonomi Islam dan UMKM

Sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Sandi juga terlibat aktif mendorong kemajuan UMKM. Ia percaya UMKM mampu menjadi lokomotif perekonomian Indonesia dan dunia ke depannya.

Contohnya terjadi di negeri ini, Indonesia. Saat para konglomerat menggerogoti keuangan rakyat dan hampir menenggelamkan kapal Republik, UMKM tampil sebagai juru selamat perekonomian negeri ini.

Sektor UMKM pula yang menggerakkan ekonomi rakyat dan negara sehingga dapat bertahan menghadapi terpaan krisis.

Karenanya, ia berpendapat sudah selayaknya kepentingan UMKM dibela. “Jika diberi kemudahan, UMKM akan berkembang baik. Selama ini sektor UMKM terlilit pada dua persoalan besar.

Pertama, paradigma masyarakat yang masih sempit memandang bidang usaha.

Kedua, rendahnya sokongan pemerintah kepada mereka,” jelas Sandi.

Dekat dengan Sang Pencipta

Kesibukannya yang luar biasa mengurusi sejumlah perusahaan tak membuat Sandi lupa pada Sang Pencipta, Allah SWT. Di mata Sandi, Allah adalah nomor satu dari yang lain. Itulah sebabnya, meski sebanyak apa pun pekerjaan, ia tidak pernah meninggalkan perintah-Nya dan sunnah Rasulullah SAW.

Tujuh tahun terakhir ini, ia tidak pernah ketinggalan menjalankan shalat Dhuha. Lantaran rutin menjalankannya, shalat Dhuha sudah seperti wajib. Bahkan jika tertinggal menjalankannya, ia merasa ada yang hilang.

Puasa Senin-Kamis juga jadi kegemaran Sandi. Meski ia mengakui cukup berat menegakkannya karena intensitas pekerjaannya yang bertemu dengan banyak rekan bisnis.

Terlebih jika mendapat undangan makan seorang tokoh, sementara saat itu ia sedang berpuasa.

“Amalan itu memberi dorongan yang kuat dalam segala aktivitas saya. Pikiran dan hati ini terbimbing setelah menjalankannya,” katanya.

Ayah Anneesha Atheera Uno dan Amyra Atheefa Uno ini bersyukur memiliki keluarga yang mendorong karirnya. Selain teman berdiskusi, Noor Asiah, istrinya sering sekali bangun tengah malam dan mengajaknya shalat tahajud.

“Ada hikmah kenapa shalat tahajud paling utama setelah shalat fardlu karena perjuangan untuk menegakkanya cukup keras,” terangnya.

Lahir di Rumbai, 28 Juni 1969. Ia terlahir dari keluarga pendidik. Ayah-ibunya Razif Halik Uno-Mien R Uno menempa Sandi dengan pendidikan agama dan disiplin yang tinggi. Harapannya, kelak Sandi menjadi manusia yang berguna untuk orang banyak.

Sandi tumbuh menjadi laki-laki yang cerdas dan bertanggung jawab. Pendidikan di Wichita State University, AS diselesaikannya dengan predikat summa cum laude pada tahun 1990. Tahun 1991, Sandi mendapatkan beasiswa ke George Washington University dan berhasil lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4,00.

Tahun 1994, ia bergabung dengan MP Holding Limited group. Satu tahun kemudian dia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada menjadi Executive Vice President dengan penghasilan sebesar 8.000 dollar AS per bulan. Tahun 1998, bersama Edwin Soeryadjaya, Sandi mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya.

Satu pelajaran berarti dari Sandi, sukses hanya dapat diraih dengan kerja keras dan disiplin yang tinggi. Jika cita-cita itu datang, jangan pernah lupa kepada Sang Pencipta, Allah SWT. (Rivai Hutapea & Dwi Hardianto)

Tidak ada komentar: