Selasa, 31 Maret 2009

Ideologi dan Kebohongan Media




DALAM penggunaan sehari-hari,kata “ideologi” cenderung bermakna negatif, sinonim dengan tipu daya dan kefanatikan. Ideologi juga sering dibedakan dengan pragmatisme dan kebenaran. Ideologi itu mempunyai ragam efek yang lebih konkret termasuk perilaku dan kebijakan yang mengilhami dan membatasi. Faktanya semua media baik media massa atau elektronik memiliki ideologi yang mereka pegang. Dari awak pimpinannya sampai bawahannya.

Berikut beberapa definisi ideologi menurut beberapa pakar. De Tracy adalah pengikut rasional gerakan abad ke-18 yang dikenal sebagai pencerahan – yang kritis terhadap otoritas tradisional dan mistifikasi ajaran agama. De Tracy memandang “Ideologi” sebagai ilmu tentang pikiran manusia (sebagaimana biologi dan zoologi adalah ilmu tentang spesies) yang mampu menunjukkan arah yang benar menuju masa depan. Pengikut De Tracy adalah Napoleon Bonaparte. Menurut Karl Marx, ideologi sebagai konsep yang negatif sangat penting. Marx selalu mengkritik mereka yang berpendapat bahwa peran ide sangat penting dalam sejarah dan kehidupan sosial.

Beberapa contoh ideologi diantaranya adalah: Liberalisme, Konservatisme, Demokrasi Sosial dan Sosialisme Demokratis, Marxisme dan Komunisme, Anarkisme, Nasionalisme, Fasisme, Feminisme, Ekologisme, Islam dan Fundamentalis. Di dalam media juga erat kaitannya dengan ideologi-ideologi diatas. Namun untuk mengklasifikasikan media berideologi apa, sekiranya pembaca bisa menilai sendiri setelah membaca tulisan ini.

Kebohongan dan Distorsi Fakta Media

Bohong bermacam-macam bentuk dan ragamnya. Kebohongan mungkin terdapat dalam kebenaran parsial, fakta yang diseleksi, kutipan dan informasi yang ditempatkan di luar konteksnya, perspektif sejarah yang terpotong-potong, atau fakta yang salah diinterpretasikan. Memanipulasi publik bukan perkara sulit. Jika anda sadar bahwa ada berbagai metode penipuan, sebaiknya anda bersiap diri untuk menyaring propaganda yang hanya menyajikan sedikit fakta, yang tanpa kita sadari dibuat oleh media pemberitaan dan media dengan jangkauan siar yang luas.

Menurut Effendi Ghazali Direktur Institute for Media & Campaign Literacy Universitas Indonesia, ada lima kebohongan media. Pertama, membesar-besarkan atau mengecil-ngecilkan data. Pendeknya, peristiwanya memang ada, cuma disajikan lebih besar, lebih dramatis, atau lebih kecil, atau dianggap tidak terlalu penting untuk diberitakan secara detail.

Kedua, memberitakan yang tidak pernah ada. Jerry D. Gray seorang peneliti media mantan angkatan udara US Air Force dengan sangat baik dalam bukunya “Dosa-dosa Media Amerika” menyebutkan contoh tentang senjata pemusnah massal milik Sadam Hussein yang sesungguhnya tak lebih impian musin semi atau ceritas musim gugur yang dikarang Bush Junior dengan bantuan kaki tangan media yang mendukungnya.

Ketiga, tidak memberitakan kejadian yang memang terjadi dan seyogyanya jika disajikan mungkin bermanfaat bagi publik. Bagi kita penggemar good news sudah terlalu sering merasakan betapa kita didiskriminasi oleh sajian-sajian bad news. Berita baik sudah dianggap tidak lagi memenuhi unsur-unsur jurnalistik mana pun, dan ini pun tentunya suatu kebohongan.

Keempat, membohongi agenda publik dengan sengaja! Artinya media membombardir kita dengan berbagai berita yang kemudian memaksa kita ikut mengakui agenda media itu sebagai hal-hal yang penting dalam hidup kita, yang harus mendapat curahan perhatian.

Kelima, membohongi publik dengan menekankan berkali-kali bahwa mereka, yakni media sebagai institusi maupun orang-orang di belakangnya tidak sedang membohongi anda. Media akan mewawancarai atau meminta para kolumnis atau pengamat berbicara di halaman serta layar mereka guna melengkapi keyakinan publik bahwa media sedang tidak berbohong! Bahkan dengan cara yang lebih canggih dibuatlah sebuah panggung yang seru, penuh dengan adu pendapat, tapi pada ujungnya opini yang mengokohkan sikap suatu media terlihat jelas lebih rasional dan perlu didukung.

Semua kebohongan yang disebut Effendi Ghazali di atas adalah kebohongan dengan senagaja (intentionally), tentu diluar itu ada kebohongan yang tidak dengan sengaja tentang suatu peristiwa. Jurnalis dan editor serta redaktur yang tidak pernah sungguh-sungguh mencari, mengolah dan cinta pada suatu yang akurat, tanpa sengaja bisa berbohong pada kita 365 per tahun, atau setiap kali ia membuat berita (walau ia sungguh-sungguh tidak punya niat jahat terhadap publik). Namun Effendi Ghazali juga mengingatkan tidak semua insan media itu hitam.

Kita sebagai Analis Media

Tugas penting para analis ideologi adalah membedakan inti dengan kulit, menggali makna, dan menggambarkan dinamika konsepsi dan kepercayaan yang berubah. Fakta di media massa hanyalah hasil rekontruksi dan olahan para awak dimeja-meja redaksi. Walaupun mereka telah bekerja dengan menerapkan teknik-teknik jurnalistik yang presisi, tetapi tetap saja kita tidak dapat mengatakan apa yang mereka tulis adalah fakta yang sebenarnya. Selalu saja ada kekurangan dalam setiap sudut pandang dan rekonstruksi peritiwa dan fakta sebenarnya ke dalam fakta media.

Noam Chomsky menunjukkan hal itu dengan menyitir sebuah percakapan bajak laut dapat ditangkap oleh armada pasukan laut. Bajak laut yang tertangkap ngotot tidak mau ditangkap oleh armada. Ini yang dikatakannya: “Mengapa saya kecil disebut perampok, sementara anda yang mengambil upeti dalam jumlah besar disebut pahlawan. Kisah ini adalah ilustrasi yang bagus untuk menunjukkan bagaimana peristiwa yang sama dapat dimaknai secara berbeda. 

Pemaparan Chomski diatas menunjukkan pada kita bahwa media massa juga dapat dijadikan sebagai alat yang ampuh dalam perebutan makna. Siapa yang berhasil membangun citra (image) akan mendapatkan legitimasi publik seperti yang mereka inginkan, atau sebaliknya.

Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses konstruksi. Di sini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu. Peristiwa dipahami dengan bentukan tertentu. Hasilnya, pemberitaan media pada sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu. Semua elemen tersebut tidak hanya bagian dari teknis jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana peristiwa dimaknai dan ditampilkan. Wallahua’lam []

Jumat, 27 Maret 2009

Kemampuan Komunikasi, Modal Dasar Suksesnya Public Relations (PR)

PUBLIC RELATION (PR) atau yang kadang disebut dengan Hubungan Masyarakat memiliki posisi yang sangat penting dalam sebuah organisasi maupun perusahaan, terutama bila organisasi tersebut sering berinteraksi dengan masyarakat luas. Posisi PR sangat menentukan opini publik sebuah organisasi, hal tersebut dikarenakan PR merupakan salah satu front liner penting dalam menentukan citra sebuah organisasi atau perusahaan.

Menurut Reza Rahman (MQ Trainer), saat menyampaikan materi pada acara Public Relation Short Course “Make Your Good Relationship, Get Your True Partnership” pada Rabu, (20/06), di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), seorang PR harus memiliki beberapa skill diantaranya adalah menguasai teknik komunikasi verbal maupun non verbal karena hal itu akan menimbulkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Penguasaan terhadap kemampuan komunikasi tersebut menurut Reza menjadi modal dasar bagi suksesnya seorang PR.

Selain itu, Ia juga mengungkapkan, bahwa seorang PR juga harus mampu memanajemen krisis secara proporsional terhadap berbagai masalah yang dihadapi, hal itu dimaksudkan untuk mendapatkan sebuah solusi yang tidak akan menimbulkan efek negatif bagi berbagai pihak yang bersangkutan.

Sementara itu, Edo Segara, S.E (Marketing Public Relation Mirota Kampus) yang juga hadir sebagai pembicara, mengatakan bahwa yang tak kalah pentingnya bagi seorang PR adalah membangun strategi untuk membentuk citra dan opini publik sebagai target market. Membangun citra menurut Edo merupakan hal yang mudah, yang sulit adalah bagaimana orang-orang didalam perusahaan tersebut mampu memelihara bahkan meningkatkan citra yang sudah dibangun tersebut.

Training yang diadakan oleh Unit Kerohanian Islam Jamaah Al-Anhar (UKI JAA) UMY, ini rencananya akan dilaksanakan selama duan hari hingga Kamis (21/06). Acara tersebut juga akan menghadirkan berbagai pembicara lain yang profesional di bidangnya seperti Yusuf Maulana (Pemerhati dan Praktisi Media) dan juga Tri Hastusi NR, M.Si (Dosen Komunikasi UMY). Selain pemberian materi, training ini menurut Zakiah Rusdan (Ketua Panitia), juga akan diisi dengan worksgroups dan juga fieldtrip.

Sumber: www.umy.ac.id

Rabu, 25 Maret 2009

Capres PKS Gelar Dialog dengan Pengusaha DIY

YOGYAKARTA – Ribuan massa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memadati Stadion Mandala Krida. “Kampanye ini bukan show of force, tapi sudah saatnya masyarakat tahu seperti apa dan bagaimana kader PKS di Yogyakarta,” kata anggota Dewan Syura PKS, Hidayat Nur Wahid.

Pada kampanye yang dihadiri sejumlah penhibur seperti pelawak Tarzan, Ribut Srimulat dan Grup Band Gigi, Hidayat mengatakan PKS akan berusaha maksimal meraih target pemilu 20 persen suara dalam pemilu legislatif kali ini. Jika target terpenuhi, PKS akan mangajukan capres sendiri.

Hidayat mengajak kader dan simpatisan PKS menyukseskan pemilu legislatif. Selain agar PKS bisa mengajukan Capres/Cawapres sendiri, Ketua MPR ini menyatakan terpilihnya wakil rakyat yang berkualitas sangat diperlukan untuk memperbaiki produk legislasi.

Hidayat mengatakan, kampanye terbuka juga bisa menjadi ajang bagi pemilih untuk menilai komitmen parpol, terutama menilai komitmen parpol, terutama komitmen kampanye damai. “Masyarakat bisa menghukum parpol yang tidak komitmen dengan ikrarnya, dengan tidak memilihnya lagi, atau memilih partai lain.”

Sebelum berkampanye di Stadion Mandala Krida, Hidayat bersilaturahim dengan ratusan pengusaha di Yogyakarta di Hotel Shapir Jl. Laksda Adisucipto. Hidayat meyakinkan Indonesia mampu keluar dari krisis global. Tapi dia mengingatkan bahwa Pemilu merupakan salah satu momentum yang tepat untuk mengubah Indonesia. []

Selasa, 24 Maret 2009

Sandiago S. Uno: Menggapai Sukses dengan Bimbingan Allah SWT

"Segala himpitan hidup dijalaninya dengan optimis. Bermodal ilmu, kerja keras, disiplin dan kedekatannya dengan-Nya, ia meraih perstasi puncak di usia muda."

KEHILANGAN pekerjaan yang mapan karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut terhempas krisis tahun 1998, tak membuat laki-laki ini frustasi. Kesulitan hidup ia jalani dengan sikap optimis. Ia kemudian banting setir merintis bisnis menjadi wirausahawan.

Jerih payahnya terlihat hari ini. Sepuluh tahun kemudian, laki-laki ramah ini telah berhasil menjadi entrepreneur sukses dengan omzet usaha mencapai miliaran rupiah. Pada tahun 2008 Enterprise Asia menobatkannya menjadi Entrepreneur of The Year untuk predikat pengusaha terbaik.

Ia adalah Sandiaga Salahuddin Uno. Sandi panggilan akrabnya mengaku menjadi pengusaha karena “kecelakaan”. Sebab, sejak awal ia tak pernah berniat menjadi pengusaha. Cita-cita awalnya adalah menjadi top manager atau direktur di sebuah perusahaan. Namun, jalan hidupnya ternyata berkata lain.

“Saya ini pengusaha by accident. Kalau tak ada krisis mungkin saya tak pernah menjadi entrepreneur,” akunya kepada Sabili saat ditemui di sela-sela acara World Islamic Economic Forum (WIFE) di Ritz Carlton, Jakarta awal Maret 2009.

Berdasarkan pengalamannya itulah pengusaha yang tutur katanya runut ini memercayai bahwa seorang entrepreneur dapat dibentuk. Pengusaha tidak lahir karena keturunan atau warisan keluarga.

“Sebab pada setiap individu memiliki potensi kewirausahaan,” ujar bungsu dari dua bersaudara ini.

Contoh nyata adalah Sandi sendiri. Pengusaha muda jebolan Wichita State University dengan predikat summa cum laude ini tidaklah terlahir dari keluarga pengusaha, melainkan keluarga pendidik. Ayahnya Razif Halik Uno (Henk Uno) adalah seorang pekerja keras di sebuah perusahaan minyak.

Sedangkan ibunya Rachmini Rachman (Mien R Uno), seorang pelopor ilmu kepribadian di Indonesia. Pamannya, DR Arief Rachman juga adalah seorang pakar pendidikan terkemuka di Tanah Air.

“Saya adalah orang pertama di keluarga yang terjun di bisnis,” ujarnya.

Keputusannya bergelut di dunia bisnis tak pernah ia sesali. Sebaliknya memicu semangatnya untuk serius dan total dalam dunia bisnis.

Ketika merintis bisnisnya sepuluh tahun silam, ayah dua anak ini mengaku tidak berpikir yang muluk-muluk. Saat ide muncul, ia segera melangkah dengan modal kepercayaan yang tinggi.

Selanjutnya menjalankan usahanya dengan kerja keras dan berpikir bagaimana menjadi yang terbesar. “Modal saya segera melangkah, kemudian menggantungkan cita-cita setinggi langit. Alhamdulillah, Allah ternyata mengabulkan cita-cita tersebut,” ujar laki-laki yang selalu santun dan ramah dengan istrinya ini.

Seperti halnya tokoh lainnya, Sandi meniti karir bisnis dari bawah. Mulai dari konsultan yang dibayar dengan uang, kemudian bergeser dibayar dengan saham. Pada tahun 1998, bersama Edwin Soeryadjaya, ia mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usaha yang digarap meliputi sektor pertambangan, telekomunikasi dan produk kehutanan.

Dengan modal investor, perusahaannya mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang bermasalah. Kinerja perusahaan tersebut dibenahi. Setelah pulih dan berkembang, aset perusahaan itu dijual dengan harga tinggi. Beberapa diantaranya PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional.

Satu keunikan laki-laki yang gemar olahraga basket ini dibanding pengusaha lainnya adalah kedekatannya dengan kalangan akar rumput. Krisis ekonomi dunia yang terjadi menurut suami Noor Asiah ini, lebih disebabkan praktik riba yang dianut dunia selama ini.

Ekonomi yang dibangun di atas pondasi riba memunculkan ketamakan. Praktik ekonomi semakin tidak sehat karena satu pihak berpikir membunuh pihak lainnya. “Inilah alasannya kenapa riba itu dilarang,” ujarnya.

Karena itu, ia berpendapat ini saatnya dunia Islam mengambil peran penting. Caranya dengan mengubah kiblat ekonomi dunia agar melirik perspektif Islam. Sehingga ekonomi dunia yang berada di ujung tanduk ini terselamatkan.

Berbeda dengan prinsip ekonomi yang dianut saat ini, prinsip ekonomi Islam mendorong lebih banyak investmen (investasi) daripada pinjaman. Investmen akan mendorong para pelaku bisnis memiliki kemampuan untuk berkembang. Sehingga tercipta prinsip kebersamaan.

“Jika prinsip ini dijalankan, maka tidak akan pernah terjadi krisis seperti saat ini,” tandasnya.

Mendorong ekonomi Islam dan UMKM

Sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Sandi juga terlibat aktif mendorong kemajuan UMKM. Ia percaya UMKM mampu menjadi lokomotif perekonomian Indonesia dan dunia ke depannya.

Contohnya terjadi di negeri ini, Indonesia. Saat para konglomerat menggerogoti keuangan rakyat dan hampir menenggelamkan kapal Republik, UMKM tampil sebagai juru selamat perekonomian negeri ini.

Sektor UMKM pula yang menggerakkan ekonomi rakyat dan negara sehingga dapat bertahan menghadapi terpaan krisis.

Karenanya, ia berpendapat sudah selayaknya kepentingan UMKM dibela. “Jika diberi kemudahan, UMKM akan berkembang baik. Selama ini sektor UMKM terlilit pada dua persoalan besar.

Pertama, paradigma masyarakat yang masih sempit memandang bidang usaha.

Kedua, rendahnya sokongan pemerintah kepada mereka,” jelas Sandi.

Dekat dengan Sang Pencipta

Kesibukannya yang luar biasa mengurusi sejumlah perusahaan tak membuat Sandi lupa pada Sang Pencipta, Allah SWT. Di mata Sandi, Allah adalah nomor satu dari yang lain. Itulah sebabnya, meski sebanyak apa pun pekerjaan, ia tidak pernah meninggalkan perintah-Nya dan sunnah Rasulullah SAW.

Tujuh tahun terakhir ini, ia tidak pernah ketinggalan menjalankan shalat Dhuha. Lantaran rutin menjalankannya, shalat Dhuha sudah seperti wajib. Bahkan jika tertinggal menjalankannya, ia merasa ada yang hilang.

Puasa Senin-Kamis juga jadi kegemaran Sandi. Meski ia mengakui cukup berat menegakkannya karena intensitas pekerjaannya yang bertemu dengan banyak rekan bisnis.

Terlebih jika mendapat undangan makan seorang tokoh, sementara saat itu ia sedang berpuasa.

“Amalan itu memberi dorongan yang kuat dalam segala aktivitas saya. Pikiran dan hati ini terbimbing setelah menjalankannya,” katanya.

Ayah Anneesha Atheera Uno dan Amyra Atheefa Uno ini bersyukur memiliki keluarga yang mendorong karirnya. Selain teman berdiskusi, Noor Asiah, istrinya sering sekali bangun tengah malam dan mengajaknya shalat tahajud.

“Ada hikmah kenapa shalat tahajud paling utama setelah shalat fardlu karena perjuangan untuk menegakkanya cukup keras,” terangnya.

Lahir di Rumbai, 28 Juni 1969. Ia terlahir dari keluarga pendidik. Ayah-ibunya Razif Halik Uno-Mien R Uno menempa Sandi dengan pendidikan agama dan disiplin yang tinggi. Harapannya, kelak Sandi menjadi manusia yang berguna untuk orang banyak.

Sandi tumbuh menjadi laki-laki yang cerdas dan bertanggung jawab. Pendidikan di Wichita State University, AS diselesaikannya dengan predikat summa cum laude pada tahun 1990. Tahun 1991, Sandi mendapatkan beasiswa ke George Washington University dan berhasil lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4,00.

Tahun 1994, ia bergabung dengan MP Holding Limited group. Satu tahun kemudian dia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada menjadi Executive Vice President dengan penghasilan sebesar 8.000 dollar AS per bulan. Tahun 1998, bersama Edwin Soeryadjaya, Sandi mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya.

Satu pelajaran berarti dari Sandi, sukses hanya dapat diraih dengan kerja keras dan disiplin yang tinggi. Jika cita-cita itu datang, jangan pernah lupa kepada Sang Pencipta, Allah SWT. (Rivai Hutapea & Dwi Hardianto)