Selasa, 11 November 2008

Membangun Citra Corporate

“All business in a democratic country begins with public permission and exists by public approval”
(Arthur W. Page)



Membicarakan citra sama halnya dengan pekerjaan bagaimana anda membangun image atau persepsi organisasi/perusahaan dibenak khalayak. Image adalah persepsi yang paling menonjol. Organisasi/lembaga profit maupun non profit yang memiliki citra baik dimata konsumen, produk dan jasanya relatif lebih bisa diterima konsumen dari pada perusahaan yang tidak memiliki citra.

Citra lembaga tidak bisa direkayasa. Citra positif akan terbentuk jika performa lembaga benar-benar seperti yang apa diberitakan oleh lembaga tersebut. Citra akan terbentuk dengan sendirinya dari upaya yang kita tempuh sehingga komunikasi dan keterbukaan lembaga merupakan salah satu kunci penting untuk mendapat citra yang positif.

Dampak positif lain citra yang baik adalah terhadap karyawannya lembaga itu sendiri. Karyawan yang bekerja pada perusahaan yang citranya baik dan positif akan memiliki rasa bangga sehingga dapat memicu motivasi mereka untuk bekerja lebih produktif. Dengan demikian, pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan akan meningkat. Selain itu, citra lembaga yang baik juga menjadi incaran para investor yang otomatis akan semakin yakin terhadap daya saing dan kinerja sebuah lembaga/perusahaan. 

Memahami bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya tergantung pada mutu produk dan jasanya tapi juga kepiawaan membangun citra perusahaan. Maka seharusnya setiap perusahaan perlu mengetahui citranya di masyarakat. Sayangnya masih sedikit perusahaan yang sungguh-sungguh berupaya membangun citra. 

Ketidaksungguhan mereka dalam membangun citra terlihat dari tidak adanya tim khusus yang bertugas untuk mengevaluasi citra perusahaan serta minimnya alokasi dana untuk kegiatan tersebut. Ditambah lagi jika pengukuran dilakukan tidak secara sistematis kesadaran terhadap perlunya membangun citra perusahaan sulit ditumbuhkan.

Tugas opini publik dalam kaitannya membangun citra disebuah lembaga atau bagian yang melayani dan memperjelas sesuatu yang dihadapi sebuah lembaga atau organisasi disebut Public Relations (PR) atau humas dan bagian marketing. Mereka ini menjadi penghubung antara lembaga perusahaan dan khalayak. Dengan harapan penjelasan pesan-pesan tersebut akan dapat mengubah citra publik terhadap institusi atau perusahaan melalui media massa

Membentuk dan Mempertahankan Citra

Upaya mengenalkan diri kepada khalayak merupakan strategi komunikasi yang mutlak dilakukan. Memperoleh pengikut bukanlah persoalan yang mudah, sebab dewasa ini orang menyamakan dirinya dengan orang lain atau pihak lain tidak semata-mata mengikuti aspek “kebutuhan nyata”, tetapi lebih berperan dalam keputusannya adalah “rasa membutuhkan.” Mungkin dalam kenyataannya mereka membutuhkan produk itu tetapi kalau tidak ada rasa membutuhkan, mereka tidak akan mendekatinya.

Tugas penting dari organisasi/perusahaan adalah bagaimana merumuskan nilai-nilai penting yang bisa mendekatkan, produk dan insitusinya kepada segmen pasar. Membentuk citra baru lebih mudah dilakukan bagi produk-produk baru yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat luas. Apalagi produk tersebut tidak mempunyai pesaing yangberarti. Tugas komunikasi hanyalah begaimana menciptakan aktivitas komunikasi secara teratur, berkesinambungan, dan menggandakan pemakaian saluran komunikasi yang digunakan. Tugas public relation bagaimana agar pengetahuan baru bisa diterima khalayak.

Lalu bagaimana dengan mempertahankan citra? Mempertahankan citra lebih sulit ketimbang membangun citra, mengapa? Karena ketika citra sudah terbangun, biasanya akan mengundang pesaing berkompetisi. Pada saat itu muncullah ujian, mempertahankan citra yang sudah mapan dengan pola kerja yang lama, dan sudah terbentuk pengikut yang setia/fanatic. Ketika memutuskan untuk mengubah citra, risikonya harus membangun strategi komunikasi dari awal lagi yang berarti membutuhkan cost tambahan yang tidak sedikit.

Dalam hal mempertahankan citra, yang perlu diperhatikan, bagaimana menyusun pesan, tidak terkesan ambisius,mengundang konflik (mencari musuh). James Lull menyatakan agar dipertimbangkan unsur budaya. Lull mengambil contoh “suasana nasional” di Amerika Serikat seusai perang Teluk menggambarkan dengan jelas bagaimana struktur nilai yang berdasarkan pada budaya dapat digunakan untuk menjual produk.

Memperbaiki dan Menguatkan Citra yang Buruk

Apa yang bisa dilakukan ketika citra lembaga kita menjadi buruk? Hampir-hampir tidak ada yang bisa dilakukan, karena ketidakpercayaan publik terhadap lembaga kita menuntut kita tidak melakukan apapun. Setiap tindakan yang dilakukan tidak akan mengundang simpati, malah sebaliknya yaitu mengundang antipati.

Dalam situasi citra terpuruk, pembelaan diri tidak ada gunanya. Meskipun format bahasa yang halus, argumentasi yang kuat, bahkan data pendukung sekalipun. Prasangka negatif publik, tidak bisa memaksakan diri mengatakan warna yang sebenarnya, karena memang mereka tidak dapat lagi membedakan warna satu sama lain. Yang bisa dilakukan adalah evaluasi internal alias perbaikan internal, setelah itu baru menyusun strategi untuk memperbaiki citra.

Tindakan diam juga tindakan yang paling tepat untuk ditempuh perusahaan. Minimal membiarkan opini publik menurunkan tensinya, karena publik mempunyai titik kejenuhan dalam mengikuti opini publik tertentu. Ketika publik sudah jenuh, bahkan sudah melupakan dan beralih ke opini publik lain, barulah strategi berkomunikasi dengan publik mulai disusun.
Citra juga bisa menurunkan popularitas, karena kuatnya citra pesaing. Situasi semacam ini dapat merugikan organisasi. Kalau organisasi ini merupakan organisasi bisnis, maka penurunan keuntungan berakibat lesunya penjualan. Seringkali dampak yang dilakukan dalam situasi persaingan cenderung emosional, dan semakin merusak citra. Respon emosional makin memperparah citra. Wallahua’lam []

2 komentar:

eshape waskita mengatakan...

citra memang memegang peranan penting, tapi sering hanya diinginkan saja dan bukan dibentuk sedikit demi sedikit supaya menjadi baik [maunya instan]

btw cantolannya ada era muslim, tapi belum mencantolkan warnaislam ya mas

silahkan lihat salah satu artikel di warnaislam

http://www.warnaislam.com/umum/kisah/2008/11/11/26940/GURU_BANGSA_Suharto.htm

salam

Anonim mengatakan...

bagaimana dengan manajemen citra?
apa ada literaturnya?