Jumat, 28 November 2008

Surat Wasiat Imam Samudera

"Saudara, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh umat Islam yang telah mengazzamkan dirinya kepada jihad dan mati syahid untuk terus berjihad dan bertempur melawan setan akbar, Amerika dan Yahudi laknat.

Saudaraku, jagalah selalu amalan wajib dan sunnah harian antum semua. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita semua dari bahaya futur dan malas hati.

Saudaraku, jagalah salat malammu kepada Allah Azza Wajalla. Selalulah isi malam-malammu sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum semua sepenuhnya kepada kekuasaannya. Ingatlah saudaraku, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.

Kepada antum semua yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belum usai. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah dibelakang kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir, sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, adalah Islam atau kafir.

Saudaraku, jadilah hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap dengan orang-orang kafir. Bukanlah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya. Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum semua menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh saudaraku, predikat itu lebih baik bagi kita daripada predikat seorang muslim, tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia daripada gelar ulama. Namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran." []

Selasa, 11 November 2008

Membangun Citra Corporate

“All business in a democratic country begins with public permission and exists by public approval”
(Arthur W. Page)



Membicarakan citra sama halnya dengan pekerjaan bagaimana anda membangun image atau persepsi organisasi/perusahaan dibenak khalayak. Image adalah persepsi yang paling menonjol. Organisasi/lembaga profit maupun non profit yang memiliki citra baik dimata konsumen, produk dan jasanya relatif lebih bisa diterima konsumen dari pada perusahaan yang tidak memiliki citra.

Citra lembaga tidak bisa direkayasa. Citra positif akan terbentuk jika performa lembaga benar-benar seperti yang apa diberitakan oleh lembaga tersebut. Citra akan terbentuk dengan sendirinya dari upaya yang kita tempuh sehingga komunikasi dan keterbukaan lembaga merupakan salah satu kunci penting untuk mendapat citra yang positif.

Dampak positif lain citra yang baik adalah terhadap karyawannya lembaga itu sendiri. Karyawan yang bekerja pada perusahaan yang citranya baik dan positif akan memiliki rasa bangga sehingga dapat memicu motivasi mereka untuk bekerja lebih produktif. Dengan demikian, pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan akan meningkat. Selain itu, citra lembaga yang baik juga menjadi incaran para investor yang otomatis akan semakin yakin terhadap daya saing dan kinerja sebuah lembaga/perusahaan. 

Memahami bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya tergantung pada mutu produk dan jasanya tapi juga kepiawaan membangun citra perusahaan. Maka seharusnya setiap perusahaan perlu mengetahui citranya di masyarakat. Sayangnya masih sedikit perusahaan yang sungguh-sungguh berupaya membangun citra. 

Ketidaksungguhan mereka dalam membangun citra terlihat dari tidak adanya tim khusus yang bertugas untuk mengevaluasi citra perusahaan serta minimnya alokasi dana untuk kegiatan tersebut. Ditambah lagi jika pengukuran dilakukan tidak secara sistematis kesadaran terhadap perlunya membangun citra perusahaan sulit ditumbuhkan.

Tugas opini publik dalam kaitannya membangun citra disebuah lembaga atau bagian yang melayani dan memperjelas sesuatu yang dihadapi sebuah lembaga atau organisasi disebut Public Relations (PR) atau humas dan bagian marketing. Mereka ini menjadi penghubung antara lembaga perusahaan dan khalayak. Dengan harapan penjelasan pesan-pesan tersebut akan dapat mengubah citra publik terhadap institusi atau perusahaan melalui media massa

Membentuk dan Mempertahankan Citra

Upaya mengenalkan diri kepada khalayak merupakan strategi komunikasi yang mutlak dilakukan. Memperoleh pengikut bukanlah persoalan yang mudah, sebab dewasa ini orang menyamakan dirinya dengan orang lain atau pihak lain tidak semata-mata mengikuti aspek “kebutuhan nyata”, tetapi lebih berperan dalam keputusannya adalah “rasa membutuhkan.” Mungkin dalam kenyataannya mereka membutuhkan produk itu tetapi kalau tidak ada rasa membutuhkan, mereka tidak akan mendekatinya.

Tugas penting dari organisasi/perusahaan adalah bagaimana merumuskan nilai-nilai penting yang bisa mendekatkan, produk dan insitusinya kepada segmen pasar. Membentuk citra baru lebih mudah dilakukan bagi produk-produk baru yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat luas. Apalagi produk tersebut tidak mempunyai pesaing yangberarti. Tugas komunikasi hanyalah begaimana menciptakan aktivitas komunikasi secara teratur, berkesinambungan, dan menggandakan pemakaian saluran komunikasi yang digunakan. Tugas public relation bagaimana agar pengetahuan baru bisa diterima khalayak.

Lalu bagaimana dengan mempertahankan citra? Mempertahankan citra lebih sulit ketimbang membangun citra, mengapa? Karena ketika citra sudah terbangun, biasanya akan mengundang pesaing berkompetisi. Pada saat itu muncullah ujian, mempertahankan citra yang sudah mapan dengan pola kerja yang lama, dan sudah terbentuk pengikut yang setia/fanatic. Ketika memutuskan untuk mengubah citra, risikonya harus membangun strategi komunikasi dari awal lagi yang berarti membutuhkan cost tambahan yang tidak sedikit.

Dalam hal mempertahankan citra, yang perlu diperhatikan, bagaimana menyusun pesan, tidak terkesan ambisius,mengundang konflik (mencari musuh). James Lull menyatakan agar dipertimbangkan unsur budaya. Lull mengambil contoh “suasana nasional” di Amerika Serikat seusai perang Teluk menggambarkan dengan jelas bagaimana struktur nilai yang berdasarkan pada budaya dapat digunakan untuk menjual produk.

Memperbaiki dan Menguatkan Citra yang Buruk

Apa yang bisa dilakukan ketika citra lembaga kita menjadi buruk? Hampir-hampir tidak ada yang bisa dilakukan, karena ketidakpercayaan publik terhadap lembaga kita menuntut kita tidak melakukan apapun. Setiap tindakan yang dilakukan tidak akan mengundang simpati, malah sebaliknya yaitu mengundang antipati.

Dalam situasi citra terpuruk, pembelaan diri tidak ada gunanya. Meskipun format bahasa yang halus, argumentasi yang kuat, bahkan data pendukung sekalipun. Prasangka negatif publik, tidak bisa memaksakan diri mengatakan warna yang sebenarnya, karena memang mereka tidak dapat lagi membedakan warna satu sama lain. Yang bisa dilakukan adalah evaluasi internal alias perbaikan internal, setelah itu baru menyusun strategi untuk memperbaiki citra.

Tindakan diam juga tindakan yang paling tepat untuk ditempuh perusahaan. Minimal membiarkan opini publik menurunkan tensinya, karena publik mempunyai titik kejenuhan dalam mengikuti opini publik tertentu. Ketika publik sudah jenuh, bahkan sudah melupakan dan beralih ke opini publik lain, barulah strategi berkomunikasi dengan publik mulai disusun.
Citra juga bisa menurunkan popularitas, karena kuatnya citra pesaing. Situasi semacam ini dapat merugikan organisasi. Kalau organisasi ini merupakan organisasi bisnis, maka penurunan keuntungan berakibat lesunya penjualan. Seringkali dampak yang dilakukan dalam situasi persaingan cenderung emosional, dan semakin merusak citra. Respon emosional makin memperparah citra. Wallahua’lam []

Selasa, 04 November 2008

Mahasiswa Pragmatis Vs Heroisme Kelompok Aksi

Kepada para mahasiswa 
Yang merindukan kejayaan  
Kepada rakyat yang kebingungan  
Di persimpangan jalan  

Kepada pewaris peradaban  
Yang telah menggoreskan  
Sebuah catatan kebanggaan  
Di lembar sejarah manusia  

Wahai kalian yang rindu kemenangan 
Wahai kalian yang turun ke jalan  
Demi mempersembahkan jiwa dan raga  
Untuk negeri tercinta.
 
MAHASISWA memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan. Dimana mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan. Mahasiswa di kenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Gerakan mahasiswa dalam hal ini adalah jalan yang paling mungkin untuk mengubah ketidakadilan menjadi keadilan, mengubah hegemoni penguasa yang menyengsarakan rakyat serta menghapuskan tirani yang ada.

Mahasiswa menyandang banyak sekali gelar yakni kaum intelektualitas serta sebagai agen perubahan sosial. Bahkan Soekarno mendiang pemimpin kita dahulu berkata: “beri kami sepuluh orang pemuda maka akan kuguncang dunia”. Pemuda yang dimaksud adalah mahasiswa yang mempunyai kulaitas spesifik tampil sebagai satu lapisan masyarakat yang vocal, berorientasi ke depan sehingga menjadi idealis dan tentu saja akhirnya memiliki suatu posisi social tertentu di masyarakat dan bahkan menentukan perubahan di dalamnya.

Pada kebanyakan Negara-negara tiran dan despotik, mahasiswa selalu menjadi pemicu dan pembawa mainstream perubahan. Kesadaran politik dan sosial mahasiswa adalah kesadaran subjektif yang diinternalisasikan dari realitas obyektif yang berkembang disekitarnya. Terkadang ia dibentuk oleh ketimpangan sosial yang mempengaruhi kesadarannya, atau oleh system politik yang tidak adil, atau pula oelh kesadaran ideologis. Sehingga sebagai creative minority, menurut Cak Nur (panggilan akrab Alm. Nurcholish madjid), tugas gerakan mahasiswa adalah menggugah pribadi masayarakat yang tulus tetapi diam atau bersama klise (silent majority), dan memberikan rasa aman kepada mereka untuk berani.

Kehidupan mahasiswa tentu saja tidak terbatas pada studi dan kegiatan-kegiatn politik. Malah bagian terbesar tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik. Mahasiswa merupakan suatu golongan yang sedang mempersiapkan diri untuk dapat menerima tanggung tanggung jawab sebagai orang-orang dewasa sepenuhnya. Dalam masa menjadi mahasiswa, masing-masing mengalami perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan yang meskipun dapat dibedakan satu sama lain. Dengan sendirinya perkembangan yang dialami masing-masing mahasiswa ini bukan tanpa masalah; mereka senantiasa berhadapan dengan masalah-masalah, kecil maupun besar.

Masalah yang dihadapi mahasiswa saat ini memang semakin rumit. Belakangan ini banyak kampus makin sepi, tak hanya dari sepi aktivitas tapi juga sepi sikap kritis mahasiswanya. Kondisi mahasiswa saat ini menghadapi masalah yang lebih kompleks dimana gelombang liberalisasi tidak hanya terjadi pada wilayah ekonomi tapi juga terjadi pada wilayah jasa khususnya pendidikan. Ya, liberalisasi pendidikan menjadi salah satu hambatan mahasiswa yang menjadikan mereka menjadi semakin pragmatis. Sikap apatis mahasiswa terhadap gerakan mahasiswa saat ini terjadi karena akibat dari liberalisasi pendidikan yang mengharuskan mereka harus cepat-cepat keluar dari kampus karena biaya yang mahal.

Tak anyal penelitian yang dijadikan skripsi strata 1 mahasiswa banyak yang menjiplak dari skripsi yang sudah ada. Topik-topik yang belum pernah diangkat biasanya hanya digarap oleh para mahasiswa yang aktif di kampus (red.aktifis). Untuk memulai topic yang baru memang berat karena keterbatasan wawasan mahasiswa. Biasanya yang memilih topik idealis adalah mahasiswa aktifis, karena mereka biasa berargumentasi. Mahasiswa non-aktifis rata-rata cenderung memilih topik-topik yang sudah banyak teliti dengan alasan topik itu dirasa mahasiswa lebih mudah dan cepat diselesaikan sehingga nisa lulus cepat dengan waktu yang ditargetkan, sungguh sangat pragmatis.

Soe Hok Gie menilai, kebobrokan di lingkungan kecil setingkat kampus, sebenarnya merupakan pencerminan adanya keboborokan pada lingkaran lebih luas; masyarakat dan pemerintahan. Gie, mengkritik bahwa mahasiswa-mahasiswa kita sekarang sekarang sangat berorientasi pada pemuasan kepentingan diri sendiri, tidak peka lagi pada masalah-masalah kemasyarakatan ditanah air.

Menegakkan dan meneguhkan idealisme menjadi barang langka pada era mahasiswa sekarang yang lebih terkenal dengan budaya hedonisnya. Secara umum, kegiatan mahasiswa tetap berjalan namun peminat budaya hedonis dan study oriented lebih banyak ketimbang bergabung dengan lembaga kemahasiswaan. Nampaknya atmosfer pragmatisme menjadi udara yang biasa kita hirup setiap saat dikampus-kampus Indonesia era sekarang. Sehingga penyakit yang menjangkiti mahasiswa sekarang adalah penyakit PRAGMATIS!

GATS Implikasi Liberalisasi Pendidikan

Sejak Pemerintah RI menandatangani kesepakatan dengan General Agreement on Trade In Services (GATS) pada Desember 2005, maka gelombang liberalisasi pendidikan mulai masuk ke dalam negara Indonesia. Dalam kesepakatan ini, disepakati kerjasama terbuka dalam hal education (pendidikan) dan jasa sebagai perdagangan (trade) di Pasar Indonesia. Sehingga implikasi dari kesepakatan ini memberi tuang bebas kepada Negara-negara lain untuk berjualan perguruan tinggi di Negara Indonesia. Tentunya akan bermunculan perguruan-perguruan tinggi asing di Indonesia. Efek lain dari kesepakatn ini adalah banyak universitas (perguruan tinggi) yang berbenah diri untuk memperbaiki dapurnya, lagi-lagi yang dibebankan adalah biaya pendidikan (SPP) mahasiswa.

Biaya kuliah yang mahal menjadikan sedikit rakyat Indonesia yang dapat mencicipi kuliah dan punya kesempatan memperoleh perndidikan hingga ke jenjang ini karena sistem perekomian di Indonesia yang kapitalis serta biaya pendidikan yang begitu mahal sehingga kemiskinan menjadi bagian hidup rakyat ini.

Otonomisasi pendidikan “otonomi finansial”, dimaknai oleh pejabat-pejabat perguruan tinggi sebagai pengalihan tanggung jawab dari negara kepada masyarakat yang berimplikasi pada mahalnya biaya kuliah (SPP). Biaya kuliah (SPP) yang mahal memberikan dampak yang serius kepada mahasiswa selaku instrumen gerakan demokrasi yang penting. Mahasiswa dipaksa untuk “tidak berlama-lama” dikampus. Mahasiswa dikondisikan untuk cepat lulus, karena mahalnya biaya yang harus ditanggung. Belum lagi perampingan SKS yang 3,5 tahun mahasiswa bisa keluar dari kampus menjadi Sarjana bahkan ada kampus yang menerapkan non-skripsi (tidak mengerjakan skripsi tidak apa-apa).

Disamping itu dengan “otonomi finansial” kampus akan disibukkan dengan pancarian sumber-sumber finansial dari berbagai arah, dimulai dengan pembukaan program-program seperti diploma, ekstensi, swadaya, dan paradigma riset yang mengarah pada kebutuhan pasar, dengan tanpa memperhatikan kualitas, jati diri, budaya dan kemanfaatannya bagi negeri sendiri. Ukuran-ukuran kompatibilitas seorang mahasiswa kemudian diukur dari tingginya indeks prestasi kumulatif dan pendeknya masa studi, dan bukan pada ukuran moral dan kontribusinya pada masyarakat.

Mahasiswa dituntut untuk kuliah yang intensif, disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang ‘seabreg’ agar cepat lulus. Mahasiswa seperti ini terfokus pada satu misi yakni, bagaimana caranya mendapatkan nilai bagus (tidak peduli dengan cara apapun), cepat lulus, senang-senang (hedonis) dan bagaimana bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan. Sehingga tidak heran jika kita melihat aktifitas kelembagaan mahasiswa sebagai wadah perjuangan social-politik mahasiswa kurang diminati. Keadaan seperti ini jelas akan menjadikan mahasiswa mengabaikan kehidupan social serta tidak kritis terhadap permasalahan social-politik yang terjadi sekelilingnya.

Budaya Barat Menggerus Mahasiswa

Keadaan mahasiswa saat ini terfokus pada orientasi kuliah, mendapatkan nilai tinggi dan bersenang-senang. Sistem pendidikan di kampus juga ikut berperan menjadikan mahasiswa seperti ini. Dengan SKS yang ramping dan seruan untuk lulus cepat menjadikan mahasiswa kita tidak peduli dengan social-politik yang terjadi baik disekitarnya atau lebih luas bangsa Indonesia. Selain itu massifnya budaya barat menjadikan mahasiswa kita semakin hedonis dan pragmatis.

Massifnya serangan budaya pop-culture yang berasal dari budaya orang-orang barat kini kian menghemapaskan sisi-sisi heroisme, perlawanan dan idealisme mahasiswa. Sampai-sampai “Student Government” di kampus-kampus ‘kebingungan’ menghadapi pola mahasiswa yang demikian. Student Government kehilangan bargaining dalam menghadapi relaitas dunia kampus dan situasi sosio-politik yang semakin rumit.

Budaya ini (red.pop culture) merupakan hasil penyerapan anak-anak muda di Indonesia terhadapa pengaruh Barat. Pengaruh tersebut masuk dan diterima lewat banyak jalur , baik media elektronik ataupun media cetak. Begitu derasnya informasi-informasi tersebut sehingga sadar atau tidak sadar, menjadikan bahan dasar dalam membangun cara pola berfikir kita. Uniknya bangunan cara berfikir dan quot; dikepala kita yang bahan dasarnya banak dari barat itu kemudian diadu dengan kondisi kehidupan nyata kita sehari-hari. Sebuah bentuk kenyataan sehari-hari yang khas di Indonesia bisa dipastikan sangat berbeda dengan kehidupan di Barat. Bukan hanya soal kehidupan kota besar yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit seperti di New York, tapi juga soal hubungan antar manusia, keluarga, orientasi hidup, dan sebagainya.

Budaya modern = Materialis nampaknya cocok sebagai efek globalisasi menghadapkan kita pada budaya materialis. Efek yang terjadi adalah menegasikan sisi-sisi perjuangan , perlawanan dan idealisme mahasiswa saat ini. Influence dari arus modernisasi ini tentunya menjadikan mahasiswa semakin pragmatis dan hedonis. Budaya hura-hura,  free sex, drugs menjadi konsumsi mahasiswa-mahasiswa seperti ini. Lebih luas ini akan menjadikan masyarakat kita kian pragmatis dan materialis. Sehingga tidak heran kalau mencari kekayaan dengan cara-cara yang tidak baik seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Paham materialistik juga mengendap pada banyak kalangan mahasiswa. Ada dua pengertian materialis. Pertama, berarti orang yang senang kepada materi, yakni orang yang senang pada kekayaan. Materialis seperti ini diperbolehkan dalam agama sekalipun, namun harus ditempuh dengan cara-cara yang baik dimana penghasilan tergantung apa yang dikorbankan, tidak dengan cara-cara yang instant seperti korupsi.

Kedua, berarti orang yang dapat menerima sesuatu sebagai kebenaran bila sesuatu itu didukung dengan data empirik. Paham materialis seperti ini yang benar hanyalah yang empirik. Tatkala kita katakan padanya bahwa surga itu ada, maka ia akan menjwab bahwa ia percaya ada surga apabila ada buktinya secara empiris. Salah satu ideologi yang menganut paham seperti ini adalah iedologi komunis. Paradigma sains modern yang mengatakan bahwa yang benar ialah yang logis dan empiris.

Melihat kondisi budaya mahasiswa yang mulai bergeser seperti saat ini, tentunya menjadi keprihatinan bagi kita semua. Kita harus menyadarkan kepada seluruh mahasiswa di seluruh nusantara bahwa saat ini mereka sedang ‘bermimpi’. Sehingga kita harus mengingatkan kembali tugas dan peran mereka dimana mahasiswa sebagai kaum intelektual dalam waktu mendatang bukanlah pembentukan sebuah budaya baru secara abstrak tanpa memperhitungkan ketiadaan dasar bagi ini semua. Tetapi lebih pada penentuan budaya secara tepat, yaitu dalam bentuk penanaman yang kritis, berencana dan sistematis kepada masyarakat yang terbelakang.

Peran Mahasiswa

Mamad Ismail (2004) memetakan empat peran mahasiswa yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang akan di pikul, diantaranya:  

Pertama, Peran Moral mahasiswa. yang dalam kehidupanya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar . Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hedonisme ( hura - hura dan kesenanggan) maka berarti telah berada persimpangan jalan . Jika mahasiswa hari ini lebih suka mengisi waktu luang mereka dengan agenda rutin pacaran tanpa tahu dan mau ambil tahu tentang peruban di negeri ini ,jika hari ini mahasiswa lebih suka dengan kegiatan festival musik dan kompetisi (entertaiment) dengan alasan kreatifitas ,dibanding memperhatikan dan memperbaiki kondisi masyarakat dan mengalihkan kreatifitasnya pada hal - hal yang lebih ilmiah dan menyentuh kerakyat maka mahasiswa semacam ini adalah potret “generasi yang hilang “yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasiswa.

Kedua, Peran social. Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa - jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial . Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok ,namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan . Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain , tidak bisa melihat poenderitan rakyat , tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja . Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Sebagai contoh di Kalimantan Barat pada tahuan 1998 s.d 2000 pernah terjadi gelombang pengungsian besar - besaran akibat konflik sosial di daerah ini maka mahasiswa musti ikut memperhatikan masalah ini dengan memberikan bantuan baik secara moril maupun meteril serta pemikirannya serta ikut mencarikan solusi penanganan bencana kemanusiaan ini , Betapa peran sosial mahasiswa jauh dari pragmatisme ,dan rakyat dapat merasakan bahwa mahasiswa adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dari rakyat , walaupun upaya yang sistimatis untuk memisahkan mahasiswa dari rakyat telah dan dengan gencar dilakukan oleh pihak - pihak yang tidak ingin rakyat ini cerdas dan sadar akan problematika ummat yang terjadi.

Ketiga, Peran Akademik. Sesibuk apapun mahasiswa,turun kejalan ,turun ke rakyat dengan aksi sosialnya ,sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu ,untuk mengukir masa depan yang cerah . Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita , dan inilah yang membedakan kita dengan komonitas yang lain ,peran ini menjadi simbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit ,”nasi sudah jadi bubur maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi “ bubur ayam spesial “. Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit seta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah dunia dan akhirat .

Keempat, Peran politik. Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini . Pada masa ordebaru di mana daya kritis rakyat itu di pasung , siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung di cap sebagai makar dan kejahatan terhadap negara. Pemerintahan Orba tidak segan - segan membumi hanguskan setiap orang - orang yang kritis dan berseberangan dengan kebijakan pemerintah .

Dalam dunia kampus pada tahun 1984 lewat mentri pendidikan Daud Yusuf pemerintah mengeluarkankebijakan NKK/BKK (Normalisasis kehidupan kampus).Yang melarang keras mahasiswa beraktifitas politik. Dan kebijakan ini terbukti ampuh memasung gerakan - gerakan mahasiswa yang membuat mahasiswa sibuk dengan kegiatan rutinjtas kampus sehinngga membuat mahasiswa terpenjara oleh system yang ada. Mahasiswa adalah kaum terpelajar dinamis yang penuh dengan kreativitas. Mahasiswa adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari rakyat. Sekarang mari kita pertanyaan pada diri kita yang memegang label Mahasiswa, sudah seberapa jauh kita mengambil peran dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara.