Senin, 20 Oktober 2008

Jurnalisme Damai, Apa Mungkin?

“JURNALISME damai atau menyelesaikan persoalan yang saya ingin bangun di media ini pak,” dengan semngat berapi-api menjawab wawancara seorang pemilik salah satu media Islam. “Jangan sampai media ini mengangkat tulisan-tulisan yang menyulut konfrontasi. Media massa dalam pemberitaan hendaknya dalam lebih menyejukkan pikiran, bukannya membakar emosi audiens, apalagi lawan-lawan yang bersebrangan. Seperti pemberitaan non-Muslim di media ini, menurut saya hanya menyulut perpecahan yang lebih luas, tambah saya.

Ya, itulah sekilas ringkasan jawaban saya dalam sebuah wawancara untuk menjadi reporter di sebuah media Islam yang cukup lama dan konon orang bilang cukup radikal. Tapi, nyatanya ide saya tersebut justru menjadi penyebab gagalnya saya masuk menjadi reporter di media tersebut. Padahal menurut informan seorang teman yang lebih dulu menjadi wartawan dimedia tersebut, nilai saya masuk 3 besar. Karena yang akan direkrut untuk masa percobaan adalah 3 orang. Atau mungkin juga karena bahasa inggris saya yang kurang bagus? Mungkin juga, tapi wallahua’lam. Hanya si pewawancara itu yang tau.

Ide jurnalisme damai tidak sekedar guyonan atau asal ngomong, ketika saya sampaikan saat wawancara pada saat itu. ‘Peace Journalism’ rasanya menjadi langka di negeri ini. Saya melihat masih banyak media pers yang menyulut emosi audiens dalam pembuatan berita-beritanya. Padahal jurnalis harusnya bisa membuat berita yang menyejukkan. Apa memang tugas media membuat sensasi? Atau memang justru yang kontroversi itu yang menarik? Ah, memangnya media gossip.

Ide jurnalisme damai ini ditolak mentah-mentah oleh seorang kawan yang bekerja di media. Menurutnya wartawan hanya menulis fakta yang ada, bukan tugas media menyelesaikan sebuah persoalan yang ada di negeri ini. Ya, mungkin juga benar apa yang dikatakan kawan saya ini. Tapi bukankah peran media harusnya memberi pendidikan, pencerahan dan informasi yang baik buat para audiensnya? Lalu apa salahnya dengan ide jurnalisme damai ini?

Jika saja standar profesi jurnalistik dan etika pers benar-benar diaplikasikan, saya yakin akan tercipta sebuah jurnalisme yang damai. Celakanya lagi standar profesi jurnalisme seperti syarat-syarat untuk menjadi wartawan dan penerbit pers tidak ada dalam Undang-Undang Pers. Konsep-konsep jurnalisme accurate reporting (akurat dan teliti), objective reporting (tidak memihak), fair reporting (jujur dan tidak bias), balance reporting (pemberitaan yang berimbang dan proporsional), dan true reporting (benar) banyak diabaikan para wartawan.

Pemberitaan yang vulgar dan sensasional justru menjadi kegemaran para wartawan dalam cara pemberitaan yang disebut crisis news, action news, spot news, dan hard news. Ditambah dengan kebiasaan buruk mengambil angel kejadian yang menegangkan, pemakaian gaya bahasa, cara memilih judul, leads dan cara menerapkan fungsi agenda setting (pilihan waktu dan tempat berita) yang mencemaskan khalayak (audience).

Di dalam buku “Komunikasi Islam” yang ditulis oleh Andi Abdul Muis, dalam dokumen-dokumen sejarah pers barat yang memaparkan tipologi pers memang ada masalah keberpihakan dalam melaksanakan fungsi jurnalistiknya terutama sebagai saluran komunikasi politik. Ada yang disebut partisan press, ada party –directed press dan party-bound press.

Disamping itu menurut A. Muis, pers barat juga mewariskan kepada para jurnalis di Negara-negara lain, tipe-tipe berita yang disebut berita kekerasan dan konflik (action news), berita kegemparan (crisis news), kejadian-kejadian panas (spot news) dan berita-berita yang menakutkan (hard news). Cara pemberitaan demikian memang sangat mempengaruhi jurnalis di dimedia-media pers Indonesia. Kesubjektifan media massa atau jurnalis pada sebuah kelompok, sebenarnya mengganggu sebuah jurnalisme damai yang dicita-citakan dan justru menciptakan ‘war jounalism’ yang semu. Wallahua’lam

*) Tulisan ini didedikasikan buat teman-teman yang bekerja di media.





1 komentar:

Natalia Santi mengatakan...

mohon izin aku masukkan di notes FB-ku. supaya gampang klo ingin baca lagi. tulisan ini bagus dan inspiratif buat wartawan yang ingin mengembangkan jurnalisme damai. salam damai.