Selasa, 12 Agustus 2008

Para Pejuang Itu pun Berpuasa

“Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah (fi sabilillah), niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.”
(HR. Imam Bukhari).

TANGGAL 17 Ramadhan 2 H yang berrtepatan dengan tahun 623 M mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa sejarah Islam yang menakjubkan. Sebuah peristiwa `Perang Badar’, dimana perang ini terjadi karena pertempuran antara Kaum Muslimin melawan orang-orang kafir Quraisy di sebuah wilayah yang disebut dengan Badr. Mengapa perang ini begitu istimewa? Pertama, karena Rasulullah beserta pasukannya mengalami kemenangan meskipun dengan jumlah 317 orang (terdiri dari 86 Muhajirin, 61 dari suku Aus dan 170 dari suku Kharaj) dan mereka hanya memiliki dua ekor kuda dan 70 ekor unta, bahkan satu ekor dinaiki dua sampai tiga orang.

Bandingkan dengan kekuatan pasukan kaum kafir Quraisy yang mencapai 1000 orang. Semua pembesar kaum kafir Quraisy ikut dalam perang ini. Semua perkampungan Quraisy, kecuali Bani Ady, ikut dalam peperangan ini. Beberapa kabilah Arab juga turut serta. Pasukan kafir Quraisy memiliki 100 ekor kuda dan 600 baju besi. Dalam satu hari mereka bisa menyembelih sembilan hingga sepuluh ekor unta yang mereka bawa. Bisa dibayangkan, 317 pasukan dengan senjata seadanya melawan 1000 pasukan dengan senjata dan perbekalan lengkap. Sebuah perbandingan yang sangat tidak seimbang.

Namun apakah pada waktu itu kaum Muslimin gentar menghadapi kaum kafir Quraisy? Tidak. Ini dibuktikan dengan perkataan al-Miqdad bin Amir yang berbicara penuh semangat dan keberanian kepada Rasulullah menjelang perang berlangsung: “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana bani Israel berkata kepada Musa: Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja. Tetapi pergilah engkau bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau.”

Saad bin Muadz dari kaum Anshar pun tak mau kalah ikut memberikan semangat kepada Rasulullah. Dengan lantang pula Muadz mengatakan pada Rasulullah:

“Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau.

Tak seorang pun diantara kami yang akan mundur. Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhya kami dikenal sebagai orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah.”

Dalam perang Badar ini diceritakan, meskipun pedang Ukasyah hanya sepotong kayu akar pohon yang diberikan Rasullah, namun Ukasyah dengan semangat dan tanpa pesimis selalu membawa pedang kayu tersebut dalam setiap perang yang diikutinya, hingga beliau syahid terbunuh dalam perang Riddah, dan saat itu pun pedang tersebut masih tetap bersamanya. Ukasyah adalah termasuk dari sekian banyak sahabat yang mendapat kabar gembira sebagai penghuni surga kelak. Tatkala Rasul bersabda: “Ada tujuh puluh ribu umatku yang masuk surga dalam rupa bulan purnama.” lalu Ukasyah memohon kepada beliau untuk berdoa kepada Allah, agar dia dijadikan golongan ini. Maka sabda beliau: “Engkau termasuk golongan mereka.”

Perang Badar ini begitu Istimewa karena perang ini terjadi di saat bulan Suci Ramadhan. Para pejuang-pejuang tersebut yang berjanji setia kepada Allah dan Rasul-Nya dengan gagah berani terus bertempur sampai titik darah penghabisan, meskipun mereka sedang berpuasa.

Para pejuang terdahulu meyakini bahwa puasa adalah madrasah bagi ruh (jiwa) mereka. Bahwa ada kehidupan abadi di sisi Allah meskipun dalam keadaan perang sekalipun. Mereka mengangkat tinggi-tinggi kalimat la ilaaha illallaah dengan pedang. Nabi Muhammad Saw. Bersabda: “Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.” Barang siapa berpuasa sehari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim (tahun). Para pejuang-pejuang tersebut memahami bahwa, “berpuasa dijalan Allah” maknanya: “engkau memerangi musuh, berperang di jalan Allah, dan engkau persembahkan ruhmu secara ikhlas di jalan Allah.”

Alhasil, meskipun pasukan kaum Muslimin kalah jumlah dengan kaum Quraisy, perang ini usai dengan kemenangan di pihak kaum Muslimin, meskipun 14 orang pejuang kaum Muslimin mati syahid dalam perang ini (6 orang dari Muhajirin dan 8 orang dari kaum Anshar). Sedangkan di pihak kaum musyrikin sebanyak 70 orang terbunuh dan 70 orang berhasil ditawan, kebanyakan justru pemuka dan pemimpin kaum Quraisy. Abu Jahal, salah satu orang yang paling memusuhi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin, berhasil terbunuh dalam perang ini.

Kemenangan ini menjadi nyata karena dukungan dan pertolongan Allah bagi orang-orang Muslim. Allah perlu menyebutkan hal ini, agar mereka tidak terbuai dengan kehebatan dan keberanian diri sendiri, sehingga jiwa mereka tidak tenggelam dalam kesombongan, tetapi mereka justru tawakkal kepada Allah serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Momen yang paling mengesankan adalah karena Idul Fitri pertama yang dijalani Kaum Muslimin dalam hidup mereka adalah Idul Fitri pada bulan Syawal 2 Hijriyah, setelah mereka memperoleh kemenangan yang gemilang di Perang Badar. Betapa mengesankan Idul Fitri yang penuh kebahagiaan, setelah Allah menyematkan kemenangan dari keperkasaan kepada mereka. Begitu mengagumkan shalat Idul Fitri yang mereka lakukan pada saat itu, setelah mereka keluar dari rumah dengan menyerukan suara takbir, tahmid dan tauhid. Hati mereka mekar dipenuhi kecintaan kepada Allah meskipun menjalani Ramadhan disaat berperang.

Bulan Ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk mengenang dan meneladani keberanian dan semangat pejuang Perang Badar. Lihatlah para pejuang-pejuang tersebut, bagaimana mereka menyerahkan sepenuhnya diri dan jiwa dengan ikhlas untuk Allah. Teladan tersebut saat ini dapat kita terapkan dalam menjalani ibadah dan menjalani kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita ikhlaskan setiap langkah, napas, dan ibadah kita untuk Allah? Wallahua'lam []

Tidak ada komentar: