Sabtu, 23 Agustus 2008

Ramadhan, Bulan Al-Qur'an

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 185)

DALAM sejarah peradaban manudia, tidak ada perubahan yang demikian radikal sebagaimana perubahan yang terjadi setelah turunnya Alqur’an. Turunnya Alqur’an bisa mengubah kondisi manusia menjadi lebih baik dan beradab. Hal ini dikarenakan kitab yang mulia ini bukanlah kitab yang sembarangan. Alqur’an memiliki keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibandingkan kitab-kitab suci sebelumnya. Alqur’an adalah sebaik-baik kitab suci, yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan bagi umat manusia dengan syari’at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

Alqur’an adalah kitab ilahi, kitab suci yang menjadi mukjizat yang dijamin pemeliharaannya serta keautentikannya. Alqur’an kitab yang digambarkan oleh Allah sebagai kitab yang sangat dahsyat. Dalam surat Al-Hasyr [59] ayat 21: Kalau sekiranya kami menurunkan Alqur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. Sesungguhnya Alqur’an diturunkan tidak lain untuk satu tujuan yang agung, yakni: agar diperhatikan, sebagai pelajaran, sebagai landasan perilaku dan sebagai landasan hukum.

Alqur’an diturunkan untuk dibaca, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi pemberi syafa’at baginya pada hari Kiamat. Allah SWT menjamin bagi siapa yang membaca Alqur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Thaaha [20] ayat 123: Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Ramadhan, Bulan Alqur’an

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alqur’an. Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Alqur’an, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 185: Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).

Ramadhan adalah bulan dilipatgandakan pahala amal kebajikan. Sebagai seorang muslim yang mengharap rahmat Allah SWT dan takut akan siksa-Nya, tentu kita akan berupaya untuk memperbanyak membaca Alqur’an di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya.

Dalam upaya mewarnai hari-hari kita dengan membaca Alqur’an baik itu di bulan Ramadhan maupun dibulan lainnya, hendaknya membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, kemudian melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangannya. Jika kita menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka semoga kita pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka kitapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika kita menjumpai ayat rahmat, kita memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya atau menjumpai ayat adzab, kita berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Di samping itu, di dalam Alqur’an juga terdapat banyak inspirasi-inspirasi dan petunjuk-petunjuk bagi kita untuk menggunakan potensi akal kita, untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Allah berfirman dalam surat Shaad [38] ayat 29: lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai akal mendapatkan pelajaran. 

Dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, digambarkan Rasulullah bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Alqur’an. Dalam hadits Ibnu Abbas menunjukkan mudarasah (kajian) antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Alqur’andi bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah dalam QS. Al-Muzzammil ayat 6: Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Namun begitu, bukan berarti membaca dan mengkaji Alqur’an di siang hari tidak mendatangkan berkah.

Jangan Berpaling dari Alqur’an

Kondisi generasi awal umat Islam digambarkan bagaimana mereka terus berinteraksi terhadap Alqur’an sehingga mengubah kehidupan mereka dengan amat drastis dan revolusioner. Salah satu contohnya adalah sahabat Umar ibn Khaththab. Alqur’an telah merubah perilaku Beliau dari perilaku jahiliyah menuju kesucian Islam serta mengeluarkan Umar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Sikap ini juga diikuti oleh para generasi tabi’in. Melalui mereka kemudian tercipta suatu tatanan masyarakat Islam yang baru, di atas prinsip-prinsip keadilan dan kebaikan serta peradaban ilmu dan iman.

Sampai kemudian datang suatu generasi umat Islam yang tidak lagi berinteraksi dengan Alqur’an secara baik. Mungkin masih membacanya bahkan mungkin masih menghafalnya namun tidak lagi memperhatikan ajarannya dengan arti sebenarnya, apalagi mengamalkannya. Mereka tidak lagi memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Alqur’an. Tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Alqur’an dan tidak menganggap kecil apa yang dianggap kecil oleh Alqur’an. Di antara mereka ada yang beriman hanya dengan melaksanakan sebagian isinya dan meninggalkan sebagian yang lain. 

Padahal Allah memberi peringatan bagi orang yang berpaling dari Alqur’an dalam surat Thaaha [20] ayat 100: Barang siapa yang berpaling dari Alqur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Serta di ayat yang lain: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS: Thaaha [20]: 124).

Saat ini, lebih banyak umat Islam yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja. Berikut adalah ungkapan kegelisahan seorang penyair tentang kondisi umat Islam:
    “Di antara mereka ada yang hanya membacanya saat bulan Ramadhan.”
    “Di antara mereka ada yang mengenalnya hanya saat ada kematian.”
    “Di antara mereka ada yang hanya menjadikannya sebagai jimat.”
    “Di antara mereka ada yang hanya menjadikan Alqur’an sebagai hiasan di rumah-rumah mereka.”
    “Di antara mereka ada yang hanya melagukannya diiringi dengan lagu-lagu dalam kaset-kaset pada perayaan-perayaan tertentu.”
Allah SWT telah memuliakan umat ini dengan Alqur’an yang didalamnya terdapat berita tentang peristiwa yang terjadi sebelumnya, peristiwa yang akan terjadi dan yang juga merupakan sumber hukum. Barangsiapa meninggalkannya dengan kesombongan, Allah akan mengahncurkannya. Barangsiapa meninggalkan petunjuk yang ada di dalamnya, maka Allah akan menyesatkannya. Dalam keadaan umat Islam seperti ini akan sulit meraih kejayaannya kembali jika tidak diikuti dengan orientasi kembali kepada Alqur’an. 

Dengan demikian, marilah kita terus-menerus berinteraksi dengan Alqur’an khususnya di bulan Ramadhan ini, dan di bulan-bulan lainnya dengan berupaya membaca dan mempelajarinya, berupaya untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, dengan niat yang ikhlas untuk mengharap ridha Allah SWT. Wallahu’alam []

Tidak ada komentar: