Sabtu, 23 Agustus 2008

Ramadhan, Bulan Al-Qur'an

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 185)

DALAM sejarah peradaban manudia, tidak ada perubahan yang demikian radikal sebagaimana perubahan yang terjadi setelah turunnya Alqur’an. Turunnya Alqur’an bisa mengubah kondisi manusia menjadi lebih baik dan beradab. Hal ini dikarenakan kitab yang mulia ini bukanlah kitab yang sembarangan. Alqur’an memiliki keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibandingkan kitab-kitab suci sebelumnya. Alqur’an adalah sebaik-baik kitab suci, yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan bagi umat manusia dengan syari’at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

Alqur’an adalah kitab ilahi, kitab suci yang menjadi mukjizat yang dijamin pemeliharaannya serta keautentikannya. Alqur’an kitab yang digambarkan oleh Allah sebagai kitab yang sangat dahsyat. Dalam surat Al-Hasyr [59] ayat 21: Kalau sekiranya kami menurunkan Alqur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. Sesungguhnya Alqur’an diturunkan tidak lain untuk satu tujuan yang agung, yakni: agar diperhatikan, sebagai pelajaran, sebagai landasan perilaku dan sebagai landasan hukum.

Alqur’an diturunkan untuk dibaca, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi pemberi syafa’at baginya pada hari Kiamat. Allah SWT menjamin bagi siapa yang membaca Alqur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Thaaha [20] ayat 123: Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Ramadhan, Bulan Alqur’an

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alqur’an. Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Alqur’an, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 185: Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).

Ramadhan adalah bulan dilipatgandakan pahala amal kebajikan. Sebagai seorang muslim yang mengharap rahmat Allah SWT dan takut akan siksa-Nya, tentu kita akan berupaya untuk memperbanyak membaca Alqur’an di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya.

Dalam upaya mewarnai hari-hari kita dengan membaca Alqur’an baik itu di bulan Ramadhan maupun dibulan lainnya, hendaknya membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, kemudian melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangannya. Jika kita menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka semoga kita pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka kitapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika kita menjumpai ayat rahmat, kita memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya atau menjumpai ayat adzab, kita berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Di samping itu, di dalam Alqur’an juga terdapat banyak inspirasi-inspirasi dan petunjuk-petunjuk bagi kita untuk menggunakan potensi akal kita, untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Allah berfirman dalam surat Shaad [38] ayat 29: lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai akal mendapatkan pelajaran. 

Dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, digambarkan Rasulullah bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Alqur’an. Dalam hadits Ibnu Abbas menunjukkan mudarasah (kajian) antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Alqur’andi bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah dalam QS. Al-Muzzammil ayat 6: Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Namun begitu, bukan berarti membaca dan mengkaji Alqur’an di siang hari tidak mendatangkan berkah.

Jangan Berpaling dari Alqur’an

Kondisi generasi awal umat Islam digambarkan bagaimana mereka terus berinteraksi terhadap Alqur’an sehingga mengubah kehidupan mereka dengan amat drastis dan revolusioner. Salah satu contohnya adalah sahabat Umar ibn Khaththab. Alqur’an telah merubah perilaku Beliau dari perilaku jahiliyah menuju kesucian Islam serta mengeluarkan Umar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Sikap ini juga diikuti oleh para generasi tabi’in. Melalui mereka kemudian tercipta suatu tatanan masyarakat Islam yang baru, di atas prinsip-prinsip keadilan dan kebaikan serta peradaban ilmu dan iman.

Sampai kemudian datang suatu generasi umat Islam yang tidak lagi berinteraksi dengan Alqur’an secara baik. Mungkin masih membacanya bahkan mungkin masih menghafalnya namun tidak lagi memperhatikan ajarannya dengan arti sebenarnya, apalagi mengamalkannya. Mereka tidak lagi memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Alqur’an. Tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Alqur’an dan tidak menganggap kecil apa yang dianggap kecil oleh Alqur’an. Di antara mereka ada yang beriman hanya dengan melaksanakan sebagian isinya dan meninggalkan sebagian yang lain. 

Padahal Allah memberi peringatan bagi orang yang berpaling dari Alqur’an dalam surat Thaaha [20] ayat 100: Barang siapa yang berpaling dari Alqur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Serta di ayat yang lain: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS: Thaaha [20]: 124).

Saat ini, lebih banyak umat Islam yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja. Berikut adalah ungkapan kegelisahan seorang penyair tentang kondisi umat Islam:
    “Di antara mereka ada yang hanya membacanya saat bulan Ramadhan.”
    “Di antara mereka ada yang mengenalnya hanya saat ada kematian.”
    “Di antara mereka ada yang hanya menjadikannya sebagai jimat.”
    “Di antara mereka ada yang hanya menjadikan Alqur’an sebagai hiasan di rumah-rumah mereka.”
    “Di antara mereka ada yang hanya melagukannya diiringi dengan lagu-lagu dalam kaset-kaset pada perayaan-perayaan tertentu.”
Allah SWT telah memuliakan umat ini dengan Alqur’an yang didalamnya terdapat berita tentang peristiwa yang terjadi sebelumnya, peristiwa yang akan terjadi dan yang juga merupakan sumber hukum. Barangsiapa meninggalkannya dengan kesombongan, Allah akan mengahncurkannya. Barangsiapa meninggalkan petunjuk yang ada di dalamnya, maka Allah akan menyesatkannya. Dalam keadaan umat Islam seperti ini akan sulit meraih kejayaannya kembali jika tidak diikuti dengan orientasi kembali kepada Alqur’an. 

Dengan demikian, marilah kita terus-menerus berinteraksi dengan Alqur’an khususnya di bulan Ramadhan ini, dan di bulan-bulan lainnya dengan berupaya membaca dan mempelajarinya, berupaya untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, dengan niat yang ikhlas untuk mengharap ridha Allah SWT. Wallahu’alam []

Jumat, 22 Agustus 2008

Khutbah Rasulullah Menjelang Ramadhan

WAHAI manusia! sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doa diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rabb-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shaum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

Kenanglah rasa lapar dan hausmu sebagaimana kelaparan dan kehausan pada hari Kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orangtuamu. Sayanglah yang muda. Sambungkanlah tali persaudaraan. Jaga lidahmu.Tahan pandangan dari apa yang tidak halal kamu memandangnya. Dan tahan pula pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.

Kasihinilah anak-anak yatim, niscaya anak-anak yatim akan dikasihini manusia. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa di waktu salatmu karena saat itulah saat yang paling utama ketika Allah Azza Wajalla memandang hamba-hamba-Nya,Dia menyambut ketika mereka memanggil-Nya, dan Dia mengabulkan doa-doa ketika mereka bermunajat kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri kalian tergadai karena amal-amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban dosamu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah, Allah Swt. bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang bersujud, tidak mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul'alamin.

Wahai manusia! Barangsiapa di antaramu memberi makan untuk berbuka kepada kaum mukmin yang melaksanakan shaum di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. Para sahabat bertanya, "Kami semua tidak akan mampu berbuat demikian". Lalu Rasulullah melanjutkan khotbahnya. Jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan setitik air.

Wahai manusia! Barangsiapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, dia akan berhasil melewati shiraatalmustaqiim, pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya dan membantunya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pemeriksaannya di hari Kiamat.

Barangsiapa yang menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya di hari berjumpa dengan-Nya, dan barangsiapa yang menyambungkan tali silaturahmi di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari dia berjumpa dengan-Nya. Dan barangsiapa yang memutuskan silaturahmi di bulan ini, Allah akan memutuskan dia dari rahmat-Nya.

Siapa yang melakukan salat sunat di bulan Ramadhan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa yang melakukan salat fardu, baginya ganjaran seperti 70 salat fardu di bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu mereka tertutup maka mohonkanlah kepada Rabb-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini". Rasul yang mulia menjawab: "Ya Abul Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Swt."

*) Khotbah ini diriwayatkan Imam Ali R.A

Sabtu, 16 Agustus 2008

Berlomba-lomba Merebut Pasar UMKM

BERNAS, JOGJA - Bisnis perbankan 2008 masih diwarnai perebutan pasar antara Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan bank umum yang terjun ke sektor mikro dan kecil. Namun, sejumlah bankir BPR yakin kondisi bisnis tahun ini tetap lebih baik.

Direktur Utama BPR Swadharma Artha Nusa (SAN) Yogyakarta, Sulistyani mengatakan, BPR dan Bank Umum seolah berebut pasar sector mikro dan kecil. BPR sudah sejak lama membina sektor itu, tetapi belakangan banyak yang diserobot Bank umum. 

“Apa boleh buat, ya harus kita sikapi, kemudian menurunkan bunga. Kita mesti jalan 1 persen, 0,99 persen, hampir sama dengan bank umum. Yang harus jelas harus mulai mencari pasar baru yang enggak dimasuki bank umum. Banyak nasabah yang diserobot, orang kita juga diserobot, orang kita juga diserobot,” ujarnya sembari menyebutkan salah satu bank umum yang gencar menggarap sector mikro dan kecil.

Namun, dia yakin BPR cukup tangguh menghadapi serbuan bank umum dengan komitmen ikut membantu rakyat kecil. Sehinggga dia optimis kondisi tahun ini membaik.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (PERBARINDO) DIY, Tedy Alamsyah mengatakan, pasar bagi industri BPR masih terbuka lebar, banyak ceruk yang bisa dimasuki. Namun, mestinya BPR konsisten menangani kredit sector mikro, kecil dan menengah.

Dia tidak menampik aktivitas bank umum yang ikut menggarap sektor itu memberikan tekanan tidak sedikit kepada BPR. Namun dia yakin industri BPR tetap akan bertahan dan berkembang, karena lebih gesit mendekati masyarakat untuk terus menumbuhkan dana pihak ketiga (DPK) maupun kredit.

Terpisah Staff Marketing BPR Syariah Barokah Dana Sejahtera (BDS), Edo Segara lebih senang menyebut persaingan bisnis dikalangan perbankan syariah dengan istilah berlomba-lomba dalam pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut sah-sah saja dan malah menguntungkan masyarakat yang kemudian memiliki lebih banyak pilihan jasa lembaga keuangan syariah.

Klasifikasi BPR Syariah dengan Bank Umum Syariah jelas jauh. Misalnya BDS menetapkan batas pembiayaan untuk 1 orang sebesar Rp 200 juta, atau 20 persen dari modal awal. Sehingga pembiayaan yang diberikan BDS berkisar antara Rp 5 juta sampai Rp 200 juta.
Nasabah BDS yang ingin memperoleh pembiayaan di atas Rp 200 juta, dengan mekanisme sindikasi, bisa dilempar ke bank syariah. Sedangkan nasabah yang ingin mendapatkan kredit di bawah Rp 5 juta, melalui mekanisme yang sama, dialihkan ke Baitul Mal wat Tamwil (BMT).

Jadi enggak bakal rebutan, enggak ada saling caplok. Nasabah mau yang mana, silahkan saja. Meskipun tetap harus ada perbaikan dari sindikasi di Bank Umum Syariah, BPR Syariah, dan Koperasi Syariah (BMT),” tambah Edo Segara. (fir)

Sumber: BERNAS JOGJA, 29 Februari 2008

Selasa, 12 Agustus 2008

Para Pejuang Itu pun Berpuasa

“Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah (fi sabilillah), niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.”
(HR. Imam Bukhari).

TANGGAL 17 Ramadhan 2 H yang berrtepatan dengan tahun 623 M mengingatkan kita kepada sebuah peristiwa sejarah Islam yang menakjubkan. Sebuah peristiwa `Perang Badar’, dimana perang ini terjadi karena pertempuran antara Kaum Muslimin melawan orang-orang kafir Quraisy di sebuah wilayah yang disebut dengan Badr. Mengapa perang ini begitu istimewa? Pertama, karena Rasulullah beserta pasukannya mengalami kemenangan meskipun dengan jumlah 317 orang (terdiri dari 86 Muhajirin, 61 dari suku Aus dan 170 dari suku Kharaj) dan mereka hanya memiliki dua ekor kuda dan 70 ekor unta, bahkan satu ekor dinaiki dua sampai tiga orang.

Bandingkan dengan kekuatan pasukan kaum kafir Quraisy yang mencapai 1000 orang. Semua pembesar kaum kafir Quraisy ikut dalam perang ini. Semua perkampungan Quraisy, kecuali Bani Ady, ikut dalam peperangan ini. Beberapa kabilah Arab juga turut serta. Pasukan kafir Quraisy memiliki 100 ekor kuda dan 600 baju besi. Dalam satu hari mereka bisa menyembelih sembilan hingga sepuluh ekor unta yang mereka bawa. Bisa dibayangkan, 317 pasukan dengan senjata seadanya melawan 1000 pasukan dengan senjata dan perbekalan lengkap. Sebuah perbandingan yang sangat tidak seimbang.

Namun apakah pada waktu itu kaum Muslimin gentar menghadapi kaum kafir Quraisy? Tidak. Ini dibuktikan dengan perkataan al-Miqdad bin Amir yang berbicara penuh semangat dan keberanian kepada Rasulullah menjelang perang berlangsung: “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana bani Israel berkata kepada Musa: Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja. Tetapi pergilah engkau bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua, dan sesungguhnya kami akan bersama kalian berdua. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau.”

Saad bin Muadz dari kaum Anshar pun tak mau kalah ikut memberikan semangat kepada Rasulullah. Dengan lantang pula Muadz mengatakan pada Rasulullah:

“Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau.

Tak seorang pun diantara kami yang akan mundur. Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhya kami dikenal sebagai orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah.”

Dalam perang Badar ini diceritakan, meskipun pedang Ukasyah hanya sepotong kayu akar pohon yang diberikan Rasullah, namun Ukasyah dengan semangat dan tanpa pesimis selalu membawa pedang kayu tersebut dalam setiap perang yang diikutinya, hingga beliau syahid terbunuh dalam perang Riddah, dan saat itu pun pedang tersebut masih tetap bersamanya. Ukasyah adalah termasuk dari sekian banyak sahabat yang mendapat kabar gembira sebagai penghuni surga kelak. Tatkala Rasul bersabda: “Ada tujuh puluh ribu umatku yang masuk surga dalam rupa bulan purnama.” lalu Ukasyah memohon kepada beliau untuk berdoa kepada Allah, agar dia dijadikan golongan ini. Maka sabda beliau: “Engkau termasuk golongan mereka.”

Perang Badar ini begitu Istimewa karena perang ini terjadi di saat bulan Suci Ramadhan. Para pejuang-pejuang tersebut yang berjanji setia kepada Allah dan Rasul-Nya dengan gagah berani terus bertempur sampai titik darah penghabisan, meskipun mereka sedang berpuasa.

Para pejuang terdahulu meyakini bahwa puasa adalah madrasah bagi ruh (jiwa) mereka. Bahwa ada kehidupan abadi di sisi Allah meskipun dalam keadaan perang sekalipun. Mereka mengangkat tinggi-tinggi kalimat la ilaaha illallaah dengan pedang. Nabi Muhammad Saw. Bersabda: “Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.” Barang siapa berpuasa sehari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim (tahun). Para pejuang-pejuang tersebut memahami bahwa, “berpuasa dijalan Allah” maknanya: “engkau memerangi musuh, berperang di jalan Allah, dan engkau persembahkan ruhmu secara ikhlas di jalan Allah.”

Alhasil, meskipun pasukan kaum Muslimin kalah jumlah dengan kaum Quraisy, perang ini usai dengan kemenangan di pihak kaum Muslimin, meskipun 14 orang pejuang kaum Muslimin mati syahid dalam perang ini (6 orang dari Muhajirin dan 8 orang dari kaum Anshar). Sedangkan di pihak kaum musyrikin sebanyak 70 orang terbunuh dan 70 orang berhasil ditawan, kebanyakan justru pemuka dan pemimpin kaum Quraisy. Abu Jahal, salah satu orang yang paling memusuhi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin, berhasil terbunuh dalam perang ini.

Kemenangan ini menjadi nyata karena dukungan dan pertolongan Allah bagi orang-orang Muslim. Allah perlu menyebutkan hal ini, agar mereka tidak terbuai dengan kehebatan dan keberanian diri sendiri, sehingga jiwa mereka tidak tenggelam dalam kesombongan, tetapi mereka justru tawakkal kepada Allah serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Momen yang paling mengesankan adalah karena Idul Fitri pertama yang dijalani Kaum Muslimin dalam hidup mereka adalah Idul Fitri pada bulan Syawal 2 Hijriyah, setelah mereka memperoleh kemenangan yang gemilang di Perang Badar. Betapa mengesankan Idul Fitri yang penuh kebahagiaan, setelah Allah menyematkan kemenangan dari keperkasaan kepada mereka. Begitu mengagumkan shalat Idul Fitri yang mereka lakukan pada saat itu, setelah mereka keluar dari rumah dengan menyerukan suara takbir, tahmid dan tauhid. Hati mereka mekar dipenuhi kecintaan kepada Allah meskipun menjalani Ramadhan disaat berperang.

Bulan Ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk mengenang dan meneladani keberanian dan semangat pejuang Perang Badar. Lihatlah para pejuang-pejuang tersebut, bagaimana mereka menyerahkan sepenuhnya diri dan jiwa dengan ikhlas untuk Allah. Teladan tersebut saat ini dapat kita terapkan dalam menjalani ibadah dan menjalani kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita ikhlaskan setiap langkah, napas, dan ibadah kita untuk Allah? Wallahua'lam []