Senin, 23 Juni 2008

Riba Termasuk Dosa Besar

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang kamu telah dilarang (melakukannya), niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu(dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu pada tempat yang mulia (surga)."
(
Qs. An-Nisa': 31)

SYAIKH Asy-sya’rawi mensitir pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat di atas adalah salah satu dari delapan ayat yang terdapat dalam surah An-Nisa’ yang menjadi pangkal kebaikan bagi umat ini sepanjang hari karena ayat tersebut memberikan rambu-rambu yang harus diperhatikan setiap muslim supaya mereka dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah swt dan selalu berpegang teguh pada manhaj Allah. Jika seandainya manusia bisa selamat dan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah maka sikap inilah yang menjadi pangkal kebaikan bagi setiap manusia. Oleh karena itu sangatlah tepat jika Allah menjamin mereka akan dihapus kesalahan-kesalahannya (dosa-dosa kecilnya) dan akan dimasukkan di surga Allah SWT.
Di samping ayat di atas, Allah Ta'ala berfirman,"Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar serta perbuatan-­perbuatan keji, dan jika mereka marah, mereka memaafkan." (As­-Syura: 37).

Allah Ta'ala berfirman lagi,"(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan­-perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil, sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya." (An-Najm: 32). Rasulullah saw bersabda,"Shalat yang lima waktu dari Jum'at ke Jum'at lain, dan dari Ramadhan ke Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa selama dosa-dosa besar dijauhi. Dan bagi kita rincian dosa-dosa besar itu telah jelas, agar orang-orang Islam menjauhinya. "

Kata “ijtinab” bukan bermakna’tidak melakukan sesuatu kemaksiatan’, namun ia bermakna ’tidak mendekatkan diri kepada faktor-faktor yang dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu perbuatan kemaksiatan. Dengan berlaku seperti itu, seseorang muslim dapat membentengi dirinya dari godaan nafsu dan kemaksiatan.

Apa itu Dosa Besar (Al-Kabaa’ir)?

Kata al-kabaa'ir adalah bentuk plural dari kata kabiirah ' dosa besar'. Dan, jika ada kabiirah' dosa besar' berarti ada shagiirah ' dosa keci1' dan ashgar' dosa paling kecil'. Dosa yang lebih rendah dari kabiirah ' dosa besar' tidak semata shagiirah ' dosa keci1' saja, namun juga termasuk dosa yang lebih kecil dari dosa keci1 itu, yaitu al-lamam kelalain dan kekhilafan'.

Allah SWT berfirman:
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil). 

"As-sayyi'aat'dosa-dosa keci1' "berkaitan dengan pelanggaran terhadap hal-hal yang ringan atau yang paling ringan. Namun tentang hal ini, para ulama memberikan catatan penting, yakni hal itu tidak berarti Allah SWT membolehkan manusia untuk melakukan dosa-dosa keci1 itu, selama mereka menjauhkan diri dari dosa besar. Karena, perbuatan dosa keci1 yang dilakukan secara terus-menerus dan dengan kesengajaan, juga termasuk bagian dari dosa besar. Oleh karena itu, jangan engkau lakukan perbuatan dosa keci1 karena Allah SWT hanya menghapuskan dosa kecil yang dilakukan dengan tidak sengaja atau karena kekhilafan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman:"Sesungguhnya, tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera..“ (QS, 4:17)

Para ulama berbeda pendapat tentang dosa besar dan apa saja yang dikategorikan sebagai dosa besar. Namun mereka menyepakati bahwa dosa besar itu harus dijauhi. Di antara mereka ada yang mengatakan tujuh. Dalil yang me­nguatkan pendapat ini adalah sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan." Ditanyakan kepada beliau, 'Apa saja ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa (manusia) yang dilarang Allah selain dengan dasar yang dibenarkan (oleh agama), memakan harta anak yatim, memakan riba, berpaling mundur di saat perang, dan menuduh zina terhadap wanita-wanita terhormat; mereka tidak tahu­ menahu dan mereka wanita-wanita beriman." (Muttafaq Alaihi).

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, "Dosa-dosa besar itu tujuh puluh, jumlah ini mendekati kebenaran daripada tujuh. "

Hadits di atas bukannya membatasi dosa-dosa besar dengan jumlah tujuh, sebenamya pengertiannya adalah bahwa barangsiapa melakukan dosa-dosa ini, di mana pada dosa-dosa tersebut terdapat hukuman hudud di dunia; sebagaimana membunuh, zina, dan mencuri. Atau ter­ancam siksaan dan murka di akhirat atau pelakunya mendapatkan laknat melalui lisan Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam dan itu semua merupakan kabaa’ir (dosa-dosa besar).

Dari Sa'id bin Jubair bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, "Dosa-dosa besar itu ada tujuh." Ibnu Abbas berkata "Dosa-dosa besar itu ada tujuh ratus, jumlah ini lebih mendekati kebenaran dari pada tujuh. " Para ulama lantas menghitungnya dan ternyata jumlahnya mencapai tujuh puluh bahkan lebih banyak lagi.

Mestinya disepakati pula bahwa sebagian dosa besar ada yang lebih besar dari yang lain, bukankah Anda melihat bahwa Nabi saw mengkategorikan syirik kepada Allah termasuk dosa besdsar? Padahal pelakunya jelas kekal di dalam neraka dan tidak akan pernah diampuni selama-Iamanya? Allah Ta'ala berfirman:Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika Dia disekutukan dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa saja yang dikehendaki­.." (An-Nisa': 48).

Pentahqiq kitab Al-Kabaa’ir karangan Syaikh Adz-Dzahabi memberikan rincian seputar kabaa’ir (dosa-dosa besar) , ia adalah semua jenis kemaksiatan yang padanya berlaku hukum hudud di dunia atau ancarnan di akhirat. Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah menambahkan, bahwa yang dimaksud dengan ancaman adalah ditia­dakkannya keimanan, terdapat laknat baginya, dan lain-lain, yang benar adalah dibedakannya dosa-dosa menjadi dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil. Dalam dosa-dosa besar terdapat keterpautan kadarnya satu sama lain. Ibnu Abdussalam Asy-Syafi'i mengatakan bahwa tidak ada patokan untuk menentukan hakikat dosa-dosa besar. Sementara patokan yang dikatakan oleh Syaikhul Islam dan lainnya, yang di antaranya ada hu­kum hudud, ancaman, laknat, pelepasan diri, dan tiadanya keimanan adalah patokan paling relevan.

Riba Merupakan Dosa Besar

'Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan." Ditanyakan kepada beliau, 'Apa saja ya Rasulullah?" Nabi menjawab, "Syirik terhadap Allah, sihir, membunuh jiwa (manusia) yang dilarang Allah selain dengan dasar yang dibenarkan (oleh agama), memakan harta anak yatim, memakan riba, berpaling mundur di saat perang, dan menuduh zina terhadap wanita-wanita terhormat; mereka tidak tahu­ menahu dan mereka wanita-wanita beriman." (Muttafaqun Alaihi).

Dari penjelasan diatas disebutkan bahwa Riba tergolong dalam kategori dosa besar. Dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah bersabda: “Riba adalah tujuh puluh dosa, dosanya yang paling ringan adalah sama dengan dosa orang yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibnu Majah). Ijma’ Ulama memutuskan keharaman riba dan memutuskan bahwa riba adalah satu dosa besar (kaba’ir) (Lihat Kitab Al-Nawawi, Al-Majmu syarh al-muhadzdzab

Dalam surat al-Baqarah ayat 278, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa-sisa riba jika engkau benar-benar beriman. Jadi dua kalimat beriman itu ditegaskan oleh Allah. Bahkan dalam ayat selanjutnya, Allah akan memerangi pemakan riba.” 

Dalam sejarahnya, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerangi orang yang berzina dan mencuri. Namun orang yang memakan riba dan tidak membayar zakat tidak segan-segan untuk diperangi, karena semua ini berkaitan dengan ekonomi. Karena masalah ekonomi itu tidak hanya merusak diri , tapi juga merusak masyarakat dan implikasinya sangat luas. Karena itu, kini saatnya menghentikan riba, sebagai seorang yang meyakini Islam sebagai agamanya kita harus berani menyetop riba. Wallahua’lam []

Tidak ada komentar: