Senin, 05 Mei 2008

Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Liberal

DALAM buku tentang Fiqh Maqashid Syariah; Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Liberal ini, Qaradhawi memberikan pencerahan yang luar biasa bagi terciptanya pemahaman dan pengalaman ajaran Islam sebagai agama yang sempurna dan rahmatan lil alamin dalam buku ini. Di jelaskan secara gamblang oleh Qaradhawi, bahwa Islam adalah agama yang senantiasa eksis dan sesuai dengan perkembangan dengan segala kondisi yang dihadapi umatnya. Qaradhawi telah membuktikan kedalaman ilmunya dan penguasaannya terhadap maksud-maksud nash-nash syariat yang luhur, sejalan dengan semangat keadilan dan kemajuan.

Qaradhawi dalam buku ini, juga menjelaskan dan mengajak kepada kita semua agar bersikap dan berdiri dalam barisan orang-orang yang secara tegas mengambil jalan tengah, jalan orang-orang yang memiliki pemahaman kaffah, tidak sombong dengan pendapat kelompoknya, terbuka dengan perbedaan, menolak ekstrimisme, dan anti liberalisme.

Syeikh Yusuf Qaradhawi, menerangkan dibuku tersebut agar kita tidak terjebak dan terpengaruh dengan model-model pemahaman ekstrim yang sempit dari kaum tekstual, dan juga tidak terseret dengan pemahaman liar dari kaum liberal yang sering melampaui batas. Qaradhawi mampu mengombinasikan teks-teks partikular dengan maksud-maksud global, menyambungkan tuntunan syariat dengan realita kehidupan, serta terbuka dan toleran dengan perkembangan zaman dalam batas-batas yang tidak bertentangan dengan nash syariat.

Qaradhawi mengajak umat Islam untuk mampu menebarkan rahmat bagi segenap penghuni alam. Menjadi umat yang sejuk dan teduh, jauh dari wajah angker yang menakutkan atau pun wajah lembek yang selalu menuruti kemauan orang lain. Qaradhawi ingin mengajak umat Islam memiliki kemampuan memahami teks syariat dalam bingkai konteksnya dan mengamalkan ajaran agamanya secara cermat dan proporsional.

Yusuf Qaradhawi memberi nasehat agar umat Islam tidak terjebak dalam manhaj orang-orang tekstual yang sering memahami nash-nash agama hanya terfokus pada zhahir dan literalnya, dan cenderung kurang melihat kepada subtansi dan hakekatnya. Qaradhawi juga berharap kita umat Islam tidak terbawa pada model pemahaman orang-orang sekular dan liberal, yang suka memahami dan mengimplementasikan ajaran agamanya cenderung semaunya dan hanya mengandalkan logika belaka.

Mengenal Dr. Yusuf Qaradhawi

Dr. Yusuf Qaradhawi lahir di Desa Shafth, Turab, Provinsi Manovia, Mesir, pada 1926 ini pemikirannya telah banyak dikenal di Indonesia. Sekitar 70-an bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sudah lebih dari 125 judul buku dia tulis untuk menjawab berbagai persoalan terkini yang dihadapi umat. Tak hanya dikenal, fatwa-fatwa Qaradhawi juga mudah dicerna dan diterima berbagai lapisan umat.

Qaradhawi dikenal sebagai ulama yang selalu menampilkan Islam secara santun dan moderat. Hal ini membuat berbagai pemikirannya mampu menengahi persoalan-persoalan kontroversial yang kerap menghadirkan titik-titik ekstrem dalam pemikiran Islam. Pandangannya juga tidak terpatok pada satu mazhab pemikiran tertentu.

Pandangan yang seperti itu membuat umat Islam menjadi mudah dalam menjalankan agamanya. Pada hakikatnya, Islam memang agama yang memudahkan umat dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Hal inilah yang terus diterjemahkan Qaradhawi melalui berbagai fatwanya yang sangat mudah dicerna.

Tak hanya persoalan besar yang dibahas dalam buku-buku Qaradhawi. Hal-hal kecil yang kerap mengundang pertanyaan pun tak pernah lepas dari pemikirannya. Persoalan seperti jabat tangan pria-wanita, menonton televisi, hukum memotret, dan sebagainya, dibahas secara lugas dalam bukunya 'Fatwa-fatwa Kontemporer'.

Sedang dalam buku 'Halal Haram dalam Islam', Qaradhawi banyak memberi penjelasan tentang kedua hukum tersebut. Selain dengan makanan, persoalan halal dan haram dalam buku tersebut juga dikaitkan dengan pakaian, rumah, perdagangan, dan sebagainya. Semuanya dibahas sangat rinci dengan pandangan yang menengahi.

Adalagi bukunya yang juga banyak dijadikan rujukan, yakni 'Hukum-hukum Zakat'. Dalam buku ini, Qaradhawi memberi banyak penjelasan mengenai zakat profesi. Beberapa waktu lalu, zakat profesi sempat menjadi persoalan yang cukup dibicarakan keabsahannya. Dengan ruukan hadis yang sangat lengkap, penjelasannya soal zakat profesi ini menjadi sangat argumentatif. Persoalan zakat ini memang telah lama menjadi concern dia. Untuk mendapatkan gelar doktor pada 1972, dia menyusun disertasi berjudul 'Zakat dan Dampaknya dalam Penanggulangan Kemiskinan'. Disertasi ini kemudian disempurnakan menjadi Fikih Zakat.

Selain dikenal moderat, ulama yang pernah aktif dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin ini juga bersikap sangat tegas terhadap kesewenang-wenangan Barat terhadap dunia Islam. Dia ikut menyerukan untuk memboikot produk-produk AS, karena pemerintahan negara tersebut yang banyak berbuat sewenang-wenang terhadap dunia Islam.

Eksekusi hukuman gantung terhadap Saddam Hussein juga dikecamnya. Dalam khutbah yang dikutip Gulf Times, dia mengatakan eksekusi yang berlangsung bersamaan dengan perayaan Idul Adha tersebut sangat mengerikan dan sama sekali tidak Islami. ''Saya tidak pernah menjadi pendukung Partai Baath atau pendukung Saddam. Tapi saya tidak bisa terima cara yang ditempuh untuk mengeksekusi Saddam,'' tutur ayah tujuh anak itu. Dia menilai, kematian tersebut telah membuat Saddam menang dalam merebut hati dan simpati umat manusia.

Sebagai ulama yang sangat moderat, dia juga membebaskan putra-putrinya dalam menempuh pendidikan. Salah seorang putrinya berhasil meraih doktor dalam bidang nuklir dari perguruan tinggi di Inggris. Putrinya yang lain juga meraih gelar doktor kimia dari kampus di Inggris. Ada juga anaknya yang menempuh pendidikan di AS. Ini menjadi bagian dari sikapnya yang tidak membedakan antara ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Dia menganggap pembedaan itu menjadi salah satu penghambat kemajuan dunia Islam.

Makna Maksud-Maksud Syariat (maqashid syari'ah)

“Maksud-maksud syariat” adalah tujuan yang menjadi target teks dan hokum-hukum-hukum particular untuk direalisasikan dalam kehidupan manusia. Baik berupa perintah, larangan dan mubah. Untuk individu, keluarga, jamaah, dan umat.

“Maksud-maksud” juga bisa disebut dengan hikmah-hikmah yang menjadi tujuan diterapkannya hukum. Baik yang diharuskan atau tidak.karena dalam setiap hukum yang disyariatkan Allah untuk hamba-Nya pasti terdapat hikmah. Ia bisa diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya dan tidak diketahui orang yang tidak mengetahuinya. Karena, Allah suci untuk membuat syariat yang sewenang-wenang, sia-sia, atau kontradiksi dengan sebuah hikmah.

Maksud-maksud syariat bukanlah ‘illat yang disebutkan oleh para ushul fikih dalam bab qiyas dan didefenisikan dengan sifat yang jelas, tetap, dan sesuai dengan hukum.

‘Illat tersebut sesuai dengan hukum , tetapi ia bukan maksud bagi hokum tersebut. Sebagaimana pendapat mereka tentang rukhsah (alasan adanya keringanan) ketika safar. Baik dalam bentuk jama’ qashar dalam sholat atau berbuka ketika shaum ramadhan. Illat dalam rukshah tersebut adalah safar, bukan kesusahan yang dirasakan oleh seorang musafir di dalam safarnya. Karena, yang terakhir adalah hikmah dibalik rukhsah, bukan ‘illat.

Para ahli ushul fikih tidak menyatukan antara hukum dan hikmah dikarenakan hikmah sulit untuk diterapkan. Menyatukan hukum terhadap hikmah akan menyebabkan kekacauan dan kebingungan, dan kesusahan. Jika kita berpendapat, bahwa seorang musafir yang sedang safar itu di-rukhsah-kan karena semata ia ada merasakan ada kesusahan, yaitu dengan bolehnya melakukan jama’ qashar di dalam shalat, dan tidak shaum, kita akan mendapatkan dua macam manusia yang berbeda. Ada yang merasa kesusahan dalam kadar yang tinggi, tetapi karena rasa wara’ yang ada dalam dirinya dia berkata, “Saya tidak akan merasakan sedikit pun!” ada juga orang yang berkata, “Saya sangat merasa kesusahan.”

Hal yang menakjubkan adalah ketika kita mendapatkan para ahli fikih tidak memasukkan hikmah dalam berbuka shaum ketika safar. Namun, mereka justru memasukkan illat, yaitu safar itu sendiri. Dalam hal yang lain, kita justru mendapatkan mereka memasukkan hikmah dan bukan illat, yaitu orang yang sakit yang tidak bisa shaum. Mereka tidak berpendapat bahwa orang yang sakit bisa tidak shaum dengan sakit apa pun. Bahkan, dalam hal sakit, mereka justru memasukkan sakit parah yang akan bertambah parah atau sulit sembuh dengan shaum.

Jika hikmah jelas, Qaradhawi cenderung mengambil hikmah di dalam hukum. Qaradhawi berpendapat bahwa kita bisa menyebut maksud-maksud syariat dengan hikmah syariat, yaitu tujuan luhur yang ada dibalik hokum.

Hikmah terkadang tampak dalam keadaan yang sangat jelas dan bisa diketahui dengan penelitian biasa. Sebagaimana hikmah wanita dan anak laki-laki yang menerima harta warisan dengan laki-laki dewasa dari harta peninggalan keluarga mereka yang meninggal. Berbeda dengan tradisi Arab yang membatasi warisan kepada orang yang bisa mengangkat senjata dan mampu membela kabilah saja. Menurut orang Arab, orang seperti itu sajalah yang berhak menerima harta warisan. Dengan demikian, mereka tidak memberikan harta warisan kepada wanita. Karena, wanita tidak bisa perang dan melindungi. Demikian juga dengan laki-laki yang masih kecil. Mereka tidak bisa membela kabilah, orang lain, dan diri mereka sendiri.

Namun, Al-qur’an datang dan mengajarkan bahwa semua orang bisa menerima waris. Baik dari bapak, ibu, istri, dan keluarga yang lain. Tentang hal ini, Allah SWT berfirman:

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (Qs. An-Nisaa’ : 7)

Tiga Sudut Pandang Kelompok


Syeikh Yusuf Qaradhawi mengungkapkan ada tiga madrasah atau sudut pandang pemahaman setiap kelompok dalam memahami teks-teks nash-nash syariat. Menurut Qaradhawi, setiap madrasah mempunyai sudut pandang dan cara sendiri.

Pertama; Madrasah yang bergantung kepada teks-teks partikular, memahaminya dengan pemahaman literal dan jauh dari maksud-maksud syariat yang ada dibelakangnya. Mereka adalah orang-orang literal yang dari semenjak dulu saya sebut dengan ”zhahirriyah baru.” Mereka adalah pewaris zhahiriyyah zaman dahulu yang mengingkari adanya ta’lil di dalam hukum, menghubungkannya dengan hikmah dan maksud, dan juga qiyas. Bahkan mereka berpendapat bahwa Allah bisa saja memerintahkan kita dengan hal yang Dia larang kepada kita, serta melarang kita dengan hal yang Dia perintah pada kita. Bahkan, bisa saja Dia memerintahkan syirik dan melarang tauhid kepada kita.

Orang–orang seperti itu mewarisi literalisme dan kejumudan zhahiriyyah zaman dahulu. Meskipun mereka tidak mewarisi keluasan ilmunya, terutama yang berhubungan dengan hadits-hadits atsar. Madrasah ini memiliki karakteristik, landasan, produk fikih dan sikap terhadap kehidupan manusia.

Diantara hasil fikih ini adalah: mereka menggugurkan harga uang kertas, menganulir zakat perdagangan, zakat fitrah hanya dikeluarkan dari makanan saja, dan mengharamkan foto.

Kedua; Madrasah yang bersebrangan dengan madrasah di atas. Madrasah ini mengklaim bahwa mereka lebih bergantung kepada maksud-maksud syariat dan ruh agama dengan menganulir teks-teks partikular di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka memandang bahwa agama adalah subtansi bukan simbol, isi bukan bentuk. Jika dihadapkan kepada teks-teks muhkamat mereka berpaling, dan mereka menolak hadits shahih. Padahal, dalam kenyataannya mereka tidak mengetahui hadits shahih dan dhaif. Mereka menakwil Al-Qur’an dengan berlebihan, mengubah firman Allah dari tempatnya, memegang mutasyabihat, dan menolak muhkamat. Mereka adalah orang-orang yang selalu menyeru pembaruan. Padahal dalam kenyataannya mereka adalah penyeru westernisasi dan kerusakan.

Orang-orang sekuler, orang-orang yang di-Baratkan, para liberalis yang tidak memahami syariat Islam, adalah murid-murid dari madrasah ini. Padahal, diantara mereka ada yang belum bisa membaca Al-Qur’an dan hadits dengan benar.

Hal yang aneh adalah klaim mereka bahwa guru mereka dalam hal ini adalah Umar bin Khatab, yang menganulir teks-teks Al-Qur’an dan As-Sunnah yang kontradiksi dengan kemaslahatan. Padahal, klaim yang ditujukan kepada umar tersebut tidaklah benar – Allah melindungi Umar dalam hal itu. Karena, umar telah melakukan hal yang sesuai dengan Al-Qur’an.

Qaradhawi menyebut orang-orang yang menyerang syariat dan fikih dengan nama ”para penganulir baru” (al-mu’athilah al-judud). Madrasah ini pun memiliki karakteristik, ciri, landasan, produk, dan hasil-hasil pemikiran di dalam kehidupan, masyarakat, dan manusia.

Diantara hasil fiqih madrasah ini adalah membuang teks qath’i dan mengambil teks mutasyabihat, melawan hukum Islam dan hudud atas nama kemaslahatan, munculnya pemikiran yang keliru dari seorang ahli hukum.

Ketiga; Madrasah moderat yang tidak melupakan teks-teks partikular dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi dalam satu waktu juga tidak memisahkannya dari maksud-maksud global. Bahkan teks-teks partikular tersebut dipahami dalam bingkai maksud-maksud global. Madrasah ini mengembalikan furu’ kepada ushul, partikular pada global, mutaghayyirat kepada tsawwabit, dan mutasyabihat kepada muhkamat. Ia memegang teks-teks qath’i baik dari segi tsubut atau dilalah-nya dengan sangat teguh. Juga memegang teguh ijma’ yang telah disepakati oleh umat Islam secara yakin dan benar, serta menjadi jalan orang-orang berimana yang tidak boleh dilanggar.[1]

Penutup


Book review ini saya tutup dengan mengutip surat Al-Baqarah ayat 143: ”Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat Islam, uamt yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblamu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Penyayang kepada manusia.”

Semoga kita menjadi umat Islam yang kaffah dengan wajah moderat dan toleran. Menempati shaf tengah, antara pemahaman kaku orang-orang ekstrim yang sering mengklaim atas nama agam, dan pemahaman liar orang-orang sekuler dan liberal yang suka mengumbar akal dan menolak dalil agama. Wallahua’lam []

Referensi

Al-Qur’an al-Karim.

Yusuf Al-Qaradhawi, Fiqh Maqashid Syariah; Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Aliran Liberal. Penerbit Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur.

http://www.republika.co.id/.

Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Nashirudin Al-Bany, edisi terjemahan, Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu jilid-1, cetakan Gema Insani Press.



[1] Isyarat kepada firman Allah dalam surat An-Nisaa’ : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Neraka Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (An-Nisaa’ : 115). Para ahli ushul fiqih menggunakan ayat ini sebagai argumentasi ijma’.

Tidak ada komentar: