Senin, 05 Mei 2008

Menuju Dinar: Menciptakan Blok Ekonomi Baru

DALAM beberapa tahun terakhir, sejumlah kalangan menyerukan kepada masyarakat Muslim akan pentingnya memberlakukan kembali pengunaan mata uang dinar dan dirham. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ide ini telah berubah menjadi sebuah gerakan. Tak kurang dari eks. Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad menegaskan perlunya penerapan implementasi dinar kembali dikalangan masyarakat dan negara Muslim. Dengan sistem ini masyarakat tidak perlu takut dirugikan karena emas dan perak memiliki nilai intrinsik. Sistem keuangan berbasis emas dan perak juga merupakan bagian dari syariat Islam.

Di Indonesia, Zaim Saidi termasuk orang yang paling getol menganjurkan pentingnya penggunaan dinar dan dirham dalam transaksi keuangan. Bahkan penggunaan uang tersebut telah dikaji oleh Bank Indonesia (BI) sebagai cara pembayaran alternatif disamping rupiah. Penggunaan uang ini sebenarnya telah dimulai di sejumlah negara Islam meski dalam ukuran yang masih terbatas. Sejak dicetak ulang di Granada pada tahun 1992, penggunaan dinar semakin luas. Malaysia, Iran dan Brunei telah menggunakan uang ini dalam perdagangannya dengan sejumlah negara-negara Islam. Dinar telah digunakan di 22 negara Islam dan akan digunakan di 4 negara lainnya.[1]

Pihak-pihak yang menyerukan penggunaan dinar dan dirham memiliki alasan yang relatif sama. Meskipun beberapa kalangan aktifis gerakan Islam berkeyakinan penggunaan dinar merupakan bagian dari syariat Islam, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) misalnya. Selain tujuan politis, tujuan di balik penggunaan mata uang dinar-dirham ini dengan tegas dijelaskan Zaim Saidi bahwa, disamping akan mengurangi inflasi sampai ke tingkat nol persen, ia dapat digunakan untuk melawan dominasi dolar amerika yang merajai pasar uang dunia.

Sistem mata uang yang digunakan dewasa ini, menjadikan uang tidak memiliki nilai intrinsik yang mengakibatkan ketidakpastian ekonomi. Uang dijadikan komoditas yang diperjual-belikan dan dispekulasikan harganya sehingga melahirkan sistem ekonomi yang berbasis pada riba. Padahal praktik riba merupakan praktik yang dipandang haram dalam konsep Islam. Penggunaan emas dan perak, menurut Zaim Saidi, akan menciptakan blok ekonomi Negara-negara Muslim yang memiliki daya tawar tinggi terhadap kekuatan ekonomi Barat. Dengan besarnya cadangan minyak dunia yang dimiliki Negara-negara Muslim, ia memperkirakan lahirnya blok ini hanya tinggal waktu saja.[2]

Daya Tahan Gold-Dinar


Disamping alasan ekonomis dan politis, kenyataan menunjukkan bahwa sampai sekarang emas masih menjadi unsur penting dalam kegiatan ekonomi. Masih banyak anggota masyarakat yang menyimpan kekayaannya dalam bentuk emas. Bahkan ketika angka inflasi tinggi, masyarakat lebih suka membeli emas daripada pergi ke bank. Mereka menyadari kelemahan sistem uang yang ada sekarang ini. Krisis ekonomi yang mendera negara-negara Asia Tenggara pada tahun 1997 memberi pelajaran yang sangat berharga, bahwa nilai uang bisa berubah kapan saja.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia didera devaluasi besar-besaran, dimana uang Rp. 1.000,- menjadi Rp. 1,-. Begitu pula pada masa era orde baru Presiden Soeharto, rupiah mengalami devaluasi beberapa kali terhadap dolar. Dan terakhir, ketika pemerintah memutuskan untuk mengubah sistem kurs tetap menjadi sistem kurs mengambang, orang yang memiliki deposito rupiah merasa dirugikan karena harga rupiah merosot tajam. Sebaliknya orang yang menyimpan deposito dolar, dalam waktu sekejap untung berlipat ganda tanpa usaha.

Dengan melihat fakta diatas, sebenarnya masyarakat Muslim sebenarnya tidak punya alasan untuk menolak penggunaan emas sebagai mata uang. Emas merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Muslim sehari-hari. Bahkan ada sebagian kalangan yang menggunakan emas untuk menentukan nisab zakat mereka. Jadi sebenarnya, penggunaan dinar-dirham sebagai alat tukar merupakan keniscayaan. Justru orang yang menolak penggunaan dinar-dirham yang tidak bisa menerima kenyataan.

Lawan Dominasi Dolar AS

Dewasa ini dolar Amerika menguasai 25 persen pasar uang dunia[3]. Akibat dominasi ini, Amerika tinggal uncang-uncang kaki menikmati keuntungan dari uangnya. Pemakai dolar diseluruh dunia terus mendongkrak nilainya. Ini jelas tidak adil. Sebenarnya keinginan untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada dolar sudah lama dirasakan. Hingga sekarang baru Uni Eropa saja yang mampu mewujudkan hal itu. Kemunculan mata uang Euro merupakan keputusan ekonomi dan politik yang sangat penting. Kesadaran untuk menciptakan sistem ekonomi yang mandiri seharusnya dimiliki oleh masyarakat Muslim. Penggunaan uang emas bisa menjadi alat untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap belas kasih Amerika. Bila hal ini terjadi, diperkirakan ekonomi Amerika akan semaput dalam waktu singkat.

Meskipun dunia sekarang menggunakan sistem keuangan yang tidak berbasis emas, tapi emas merupakan unsur penting dalam cadangan moneter dunia. Negara-negara seperti Amerika, Jepang, Inggris, dan Jerman diam-diam terus melakukan pengawan terhadap cadangan emas mereka. Perusahaan-perusahaan Amerika di seluruh dunia terus melakukan penambangan emas untuk menumpuk cadangan emas mereka. Di Indonesia terdapat Newmont dan Free Port, namun sayang kekayaan Indonesia terus dieksploitasi oleh Barat. Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa emas merupakan unsur penting untuk menjamin keberadaan uang yang beredar. Di samping itu, mereka pun menyatakan tidak akan menjual atau menyewakan cadangan emas mereka ke negara lain karena akan diperkirakan dunia akan kembali menggunakan sistem uang berbasis emas.

Ide untuk kembali menggunakan dinar-dirham sebenarnya tidak hanya bergulir dikalangan Muslim. Di kalangan Non-Muslim pun ide ini berkembang. Sejumlah ahli ekonomi memperkirakan, cepat atau lambat emas akan kembali menjadi mata uang. Hal ini jelas merupakan ancaman besar atas kepentingan negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Ada musuh yang terus mengintai. Pemerintah (baca: Amerika Serikat) mencoba menentang rencana ini. Namun, pada akhirnya keniscayaan emas yang akan unggul. Menurut istilah David Petch, emas pada akhirnya akan menang karena ia adalah mata uang asli atau sesungguhnya.

Fred Dungan, mengkritik penggunaan fiat money lebih pedas lagi. Sistem uang yang digunakan sekarang menurutnya tidak lebih dari pembodohan dan selama ini masyarakat dibohongi oleh uang kertas.Tapi cepat atau lambat semua orang pasti akan menyadarinya. Dalam tulisannya Fred Dungan mengutip kata-kata Abraham Lincoln.”it’s true that you may fool all people some of time; you can even fool some of the people all of the time; but you can’t fool the people all the time.”[4] Penggunaan uang kertas merupakan pengalaman pahit yang harus disadari oleh setiap orang. Pemerintah telah memanipulasi masyarakat. Disetiap lembar dolar tertulis “In God we Trust” untuk mengesankan bahwa uang merupakan barang sakral. Semua orang tertipu termasuk Dungan. Namun sekarang Dungan menyadari tidak ada gunanya percaya pada pemerintah.[5]

Keraguan sejumlah pihak yang khawatir dengan ketidakcukupan cadangan emas dunia tidaklah beralasan. Pertama, sampai hari ini bumi tidak pernah kering memberikan emas kepada manusia. Kedua, yang penting bukanlah mencetak uang yang banyak, tapi bagaimana agar uang memiliki daya beli yang tetap. Bila uang memiliki daya beli yang tetap dengan sendirinya kegiatan perekonomian akan lancar. Uang dibuat sebanyak volume barang dan jasa. Bila hal ini terpenuhi, uang tidak perlu lagi dibuat karena akan mengakibatkan penurunan harga (under valued). Demikian pula sebaliknya bila jumlah uang yang beredar dibawah volume barang dan jasa, maka akan terjadi kenaikan harga (over valued). Dalam sistem mata uang berbasis emas, jumlah uang harus sama banyak dengan barang dan jasa yang ada agar harganya tetap. Wallahua’alam []


[1] Umar Ibrahim Valido, The Return of the Dinar, 13 November 2002, www.jamiat.org.za/news/dinar.htm
[2] Zaim Saidi, Menggagas Blok Perdagangan Islam, www.bmtlink.web.id/wacana020202.htm
[3] David Petch, A Corny Concerto, http://www.gold-eagle.com/editorials_03/petch032802.html
[4] Fred Dungan, The Money is No Good, http://www.fdungan.com/money.html
[5] Ibid.

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...