Rabu, 21 Mei 2008

Islamic Marketing Values pada Lembaga Keuangan Syariah

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 16 Desember 2003 mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank termasuk dalam kategori riba yang dikukuhkan pada 6 Januari 2004. Fatwa tentang bunga bank adalah riba bukanlah wacana baru bagi umat Islam. Di Indonesia, MUI telah beberapa kali mencetuskan wacana tersebut, masing – masing pada tahun 1990 yang diikuti dengan berdirinya bank syariah pertama yaitu Bank Muamalat Indonesia, kemudian pada tahuan 2000 Dewan Syariah Nasional mengeluarkan fatwa bahwa penerapan suku bunga bank bertentangan dengan syariah Islam. Istilah bank syariah mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Lahirnya bank ini juga berawal dari adanya kehendak sebagian masyarakat untuk melaksanakan transaksi perbankan sejalan dengan nilai prinsip syariah, khususnya bebas riba. 

Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang saat ini berjumlah 85 bank akan bertambah lagi menjadi 89 bank, yaitu dengan rencana pendirian BPRS di empat kota, yaitu Cilegon, Madura, Purbalingga, dan Jakarta. Menurut data Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) tiga tahun terakhir (2001-2002) perkembangan dari segi total aset, pembiayaan, serta dana pihak ketiga yang dimiliki oleh bank syariah cukup baik serta menunjukkan peningkatan. Perkembangan BPRS, dari segi aset, dana pihak ketiga, maupun pertambahan jumlah bank juga akan meningkat sekitar seratus persen dalam satu sampai dua tahun ke depan.

Aset total yang dimiliki oleh seluruh BPRS saat ini berjumlah Rp 165 miliar (Desember 2002). Angka ini naik sekitar Rp 3 miliar dari angka tahun 2001. Sedangkan total dana pihak ketiga yang terhimpun sampai Desember 2002 berjumlah sekitar Rp 100 miliar. Jika dibandingkan dengan total aset atau dana pihak ketika yang dimiliki oleh BPR konvensional, angka ini masih kecil. Namun para pelaku perbankan BPR Syariah meyakini ke depannya akan bertambah hingga 100 persen.

Keyakinan ini didasarkan pada data per Desember 2002 yang dimiliki oleh BPRS, yaitu memiliki aset tertimbang menurut risiko (capital adequacy ratio/CAR) 25,44 persen, rasio kredit terhadap simpanan pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) 124 persen, serta rasio kredit bermasalah terhadap total kredit (nonperforming loan/NPL) 2,9 persen. Dengan data ini, BPRS merupakan bank yang aman serta relatif tahan terhadap kondisi kritis. 

Salah satu isu yang cukup kontroversial dalam syariah marketing adalah pembagian segmen pasar syariah menjadi dua segmen besar yaitu pasar emosional dan pasar rasional. Pasar Emosional diartikan sebagai kumpulan nasabah yang datang ke perusahaan atau lembaga keungan syariah karena pertimbangan halal dan haram, didorong oleh kekhawatiran praktik riba dan konsiderasi ukhrowi lainnya. Pasar ini tidak atau kurang memperhatikan harga dan kualitas pelayanan, demikian juga tersedianya network yang memadai. Dengan kata lain, pasar ini benar-benar emosional religius: “asal halal”. Di sisi lain adalah pasar rasional. Pasar ini secara umum adalah mereka yang sangat sensitif terhadap perbedaan harga, varietas produk, bonafiditas lembaga atau bank, demikian juga kualitas pelayanan. Secara umum pasar ini berpendapat “boleh syariah dan halal asal kompetitif, jikalau tidak, terpaksa saya mencari yang lain”.

Menurut Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, M. Ec, demarkasi seperti ini jelas ada plus-minusnya, dan beliau termasuk yang pertama kali menyatakan ketidaksetujuan. Agak sulit untuk menerima asumsi bahwa mereka yang datang karena konsiderasi spiritual adalah blindly emotional. Beliau melihat yang terjadi justru sebaliknya. Mereka yang disebut financially rational justru financially emotional. Pasar ini akan hijrah ke lembaga atau bank lain begitu return deposito yang mereka terima berbeda dengan kisaran angka 0,5% atau 1% sekalipun. Mereka juga kurang memperhatikan pre-determined return yang diberikan bank konvensional yang terkadang menyelimuti ketidakstabilan likuiditas pengelolaan aset dan liabilitasnya. Pasar rasional juga menjadi kurang “rasional” setelah melihat bahwa sistem interest-based lending telah meluluhlantakkan industri perbankan nasional sepanjang tahun 1997-2000 dengan dilikuidasinya lebih dari 70 bank dan menghabiskan uang negara kurang dari Rp 650 triliun melalui BLBI dan obligasi rekap. Pasar ini juga kurang tanggap terhadap sistem profit and loss sharing, terutama saat cost of fund membumbung tinggi dan ekonomi sedang mengalami stagnasi. Dengan perkembangan konsep ekonomi syariah, membuka wajah segmen baru dalam dunia pemasaran, yaitu segmen masyarakat ekonomi syariah.

Disamping itu, penerapan prinsip-prinsip syariah secara murni (futuh) masih perlu ditanyakan, hal ini dibuktikan dengan masih enggannya masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim untuk mengalihkan dananya dari bank konvensional ke bank syariah. Salah satu penyebabnya adalah rasa takut jika bank syariah tersebut belum benar-benar menerapkan prinsip-prinsip syariah, atau dengan kata lain bank syariah dengan bank konvensional sama saja. Tinjauan penerapan prinsip-prinsip syariah pada bank syariah bisa dilihat dari segi keuangan serta pemasaran yang kemudian akhir-akhir ini dikenal dengan istilah Syariah Marketing. Dari sisi Syariah Marketing inilah yang kemudian masih jarang dilakukan kajian yang mendalam sebagai parameter untuk menilai apakah suatu bank syariah tersebut telah menerapkan prinsip-prinsip syariah secara murni ditinjau dari aspek pemasaran. Disamping itu bank merupakan instansi ekonomi yang memberikan jasa kepada nasabahnya, sehingga mempunyai kaitan yang erat dengan prinsip-prinsip marketing dan terlebih lagi perlu ditinjau bagaimana penerapan syariah pada marketing (pemasaran).

BPR Syariah sebagai bank syariah berskala mikro, mempunyai tantangan yang mendasar apakah penerapan syariah benar-benar syariah seperti yang ada pada benak konsumen, terutama pada aspek pemasaran yang dimana merupakan disiplin ilmu yang langsung kaitannya dengan konsumen. Ini menjadi penting karena tidak bisa dipungkiri bahwa perusahaan yang berwawasan pada konsumenlah yang akan eksis dan tetap hidup. Ketika pelanggan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan maka profit yang maksimal akan dengan sendirinya tercapai. Konsumen pada instansi syariah mempunyai keunikan. Berbeda dengan konsumen konvensional (non-syariah), konsumen syariah menilai segala sesuatunya dengan nlai-nilai syariah yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, tak terkecuali prinsip-prinsip pemasaran yang diterapkan.

Kata “syariah” (al-syariah) telah ada dalam bahasa Arab sebelum turunnya Al-Quran. Kata yang semakna dengannya juga ada dalam taurat dan Injil. Kata syaria’at dalam bahasa Ibrani disebutkan sebanyak 200 kali, yang selalu mengisyaratkan pada makna “kehendak Tuhan yang diwahyukan sebagai wujud kekuasaan-Nya atas segala perbuatan manusia”. Dalam Al-Quran kata syari’ah disebutkan hanya sekali, yaitu pada surat Al-Jatsiyah, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS AL-Jatsiyah [45]: 18). Kata syariah berasal dari kata syara’al al-syai’a yang berarti ‘menerangkan’ atau ‘menjelaskan sesuatu’. Atau berasal dari kata syir’ah dan syari’ah yang berarti ‘suatu tempat yang dijadikan sarana untuk mengambil air secara langsung sehingga orang yang mengambilnyatidak memerlukan bantuan alat lain’. 

Sedangkan Pemasaran didefinisikan oleh Profesor Philip Kotler sebagai “sebuah proses sosisal dan manajerial di mana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk-produk atau value dengan pihak lain”. Menurut World Marketing Association (WMA), definisi pemasaran yang telah diajukan oleh Hermawan Kertajaya dan sudah dipresentasikan di World Marketing Conference di Tokyo pada April 1998 dan telah diterima oleh anggota dewan WMA, adalah sebagai berikut: “Pemasaran adalah sebuah disiplin bisnis strategi yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari satu inisiator kepada stake holder-nya”.

Maka syariah marketing adalah sebuah disiplin bisnis strategi yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari satu inisiator kepada stake holder-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad prinsip-prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam. Ini berarti dalam syaraiah marketing, seluruh proses – baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (value) – tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami.

Syariah Marketing mempunyai 4 karakteristik yang dapat menjadi panduan bagi para pemasar, yaitu: Teistis (rabbaniyah), Etis (akhlaqiyah), Realistis (al-waqi’iyyah), Humanistis (insaniyyah). Syariah marketing dibangun di atas sendi-sendi keadilan, kejujuran, profesionalisme, tanggung jawab. Pada syariah marketing, segala aktivitas sehari-hari, menempatkan Tuhan sebagai stakeholder utama. Inilah yang menjadikan perbedaan yang paling mendasar dan pokok antara spiritual marketing dan marketing konvensional. Syariah marketing mempunyai tujuan jangka panjang yang tidak hanya berorientasi pada duniawi tetapi juga berorientasi pada ukhrowi, sehingga kegiatan syariah marketing senantiasa berlandaskan niatan ibadah. Sedangkan marketing konvensional hanya berorientasi duniawi atau materiil, yang mana tujuan akhir adalah untuk mencapai profit yang maksimal, sehingga cara apapun akan digunakan untunk mencapai keuntungan yang maksimal.

Pembahasan masalah topik syariah marketing baru muncul akhir-akhir ini, yang dipelopori oleh Bapak Pemasaran Indonesia, Hermawan Kertajaya dan Muhammad Syakir Sula, dalam buku mereka yang berjudul “Syariah Marketing”. Munculnya topik ini seirama dan relevan dengan mulai pesatnya perkembangan syariah pada penerapan di instansi-instansi ekonomi, seperti, bank, asuransi, hotel, pembiayaan, dan mungkin akan berkembang lagi. Dengan perkembangan ekonomi syariah yang begitu pesat maka perlu untuk menyesuaikan prinsip-prinsip marketing yang sesuai dengan syariah, sehingga penerapan pada ekonomi syariah tidak parsial, tetapi secara kaffah (menyeluruh) dan syummul (sempurna). Ini artinya intansi syariah akan berjalan sesuai dengan nilai-nilai syariah yang murni. Wallahua’lam []

2 komentar:

Ridwan Tan Malaka mengatakan...

lagi googling tentang syariah marketing lembaga keuangan syariah malah ketemu blognya mas edo. paling atas lagi di hasil pencariannya. lumayan bwat bahan skripsi. bantuin dunk, masih blum dapat ide nih mo diarahkan kemana skripsiku, rencananya mo seputar syariah marketing pada lembaga keuangan mikro syariah

Vietha mengatakan...

Hi edo..salam kenal:) Tulisan kamu di blog ini bagus juga. Kebetulan aku juga baca bukunya hermawan n syakir sula tentang marketing spiritual, tapi sayangnya unit2 lembaga keuangan syariah yang sekarang lagi ngejamur di Indonesia belum sepenuhnya menerapkan marketing syariah dalam usaha-nya mencari bisnis (pemasarannya). Masih banyak yang mehalalkan berbagai macam cara, even itu yang bertentangan dengan syar'i sekalipun. Para marketer itu ngakunya jual produk syariah, tapi marketing strategic mereka gak ngikutin syar'i. Sedih bgt ngeliat keadaan yg kaya gini:( Aku rasa peran Company dalam meng-educate para marketer-nya penting bgt ya.. Beberapa Company hanya focus memberikan training tentang product knowledge or training yang temanya common bgt buat para marketer (biasanya how to build your motivation to achieve the target..or..how to get your customer attention about your product, etc) tapi mereka lupa kasih training tentang Marketing Syariah..gimana mendapatkan bisnis dengan santun dan halal..gimana menerapkan etika bisnis Islami or biar kesannya lebih general kita sebut aja etika bisnis spiritual kali yaa..karena aku yakin agama lain pasti juga mengajarkan kebaikan dalam bermuamalah. Truss manajemen perusahaan, khususnya culture di unit syariah itu sendiri juga harus-nya pelan2 di develop secara syariah. Jadi jangan pernah setengah2 kalo pengen ngebangun bisnis syariah, karena ini menyangkut Company image. Ideal-nya kalo suatu perusahaan sudah mendeklarkan dirinya sebagai suatu perusahaan syariah, maka seluruh komponen manajemen, oparasional sampai ke human resource-nya harus di didik supaya punya mindset syar'i. Kalo kata pak Riawan..THE CALESTIAL MANAGEMENT gituu deh.. ^_^
Btw sorry comment-nya kepanjangan niyh, sekalian curhat soalnya hehehe.. ;)