Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2008

Islamic Marketing Values pada Lembaga Keuangan Syariah

Gambar
MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 16 Desember 2003 mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank termasuk dalam kategori riba yang dikukuhkan pada 6 Januari 2004. Fatwa tentang bunga bank adalah riba bukanlah wacana baru bagi umat Islam. Di Indonesia, MUI telah beberapa kali mencetuskan wacana tersebut, masing – masing pada tahun 1990 yang diikuti dengan berdirinya bank syariah pertama yaitu Bank Muamalat Indonesia, kemudian pada tahuan 2000 Dewan Syariah Nasional mengeluarkan fatwa bahwa penerapan suku bunga bank bertentangan dengan syariah Islam. Istilah bank syariah mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Lahirnya bank ini juga berawal dari adanya kehendak sebagian masyarakat untuk melaksanakan transaksi perbankan sejalan dengan nilai prinsip syariah, khususnya bebas riba.  Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) yang saat ini berjumlah 85 bank akan bertambah lagi menjadi 89 bank, yaitu dengan renc

Ekonomi Kerakyatan dan Ekonomi Islam

Gambar
“Kalau kita sungguhh-sungguh mencintai Indonesia yang makmur, yang bersatu, tidak terpecah belah, berdaulat adil dan makmur, marilah kita bercermin sebentar, kembali kepada cita-cita dahulu yang begitu suci dan mengembalikan pemimpin yang jujur berpadu dengan semangat yang siap melakukan pengorbana. Rakyat kita masih tetap miskin bahkan lebih miskin daripada sebelumnya, ditengah-tengah kekayaan alam yang melimpah ruah. Paling baik kita merenungkan keadaan rakyat kita sekarang, yang sungguh-sungguh berhak mendapatkan nasib yang lebih baik, nasib yang sesuai dengan tujuan kita semula.” (Pidato Bung Hatta, tahun 1958)   DALAM sebuah kesempatan diskusi dikelas seorang mahasiswa mempresentasikan sebuah jawaban dari salah pertanyaan mahasiswa yang lain tentang apakah sama ekonomi Islam dengan ekonomi kerakyatan. Si mahasiswa menjawab bahwa Ekonomi Islam sudah mencakup ekonomi kerakyatan dan ekonomi kerakyatan belum tentu mencakup ekonomi Islam. Benarkah jawaban dari mahasiswa t

Menuju Dinar: Menciptakan Blok Ekonomi Baru

Gambar
DALAM beberapa tahun terakhir, sejumlah kalangan menyerukan kepada masyarakat Muslim akan pentingnya memberlakukan kembali pengunaan mata uang dinar dan dirham. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ide ini telah berubah menjadi sebuah gerakan. Tak kurang dari eks. Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad menegaskan perlunya penerapan implementasi dinar kembali dikalangan masyarakat dan negara Muslim. Dengan sistem ini masyarakat tidak perlu takut dirugikan karena emas dan perak memiliki nilai intrinsik. Sistem keuangan berbasis emas dan perak juga merupakan bagian dari syariat Islam. Di Indonesia, Zaim Saidi termasuk orang yang paling getol menganjurkan pentingnya penggunaan dinar dan dirham dalam transaksi keuangan. Bahkan penggunaan uang tersebut telah dikaji oleh Bank Indonesia (BI) sebagai cara pembayaran alternatif disamping rupiah. Penggunaan uang ini sebenarnya telah dimulai di sejumlah negara Islam meski dalam ukuran yang masih terbatas. Sejak dicetak ulang di Grana

Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Liberal

Gambar
DALAM buku tentang “ Fiqh Maqashid Syariah; Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Liberal ” ini, Qaradhawi memberikan pencerahan yang luar biasa bagi terciptanya pemahaman dan pengalaman ajaran Islam sebagai agama yang sempurna dan rahmatan lil alamin dalam buku ini. Di jelaskan secara gamblang oleh Qaradhawi, bahwa Islam adalah agama yang senantiasa eksis dan sesuai dengan perkembangan dengan segala kondisi yang dihadapi umatnya. Qaradhawi telah membuktikan kedalaman ilmunya dan penguasaannya terhadap maksud-maksud nash-nash syariat yang luhur, sejalan dengan semangat keadilan dan kemajuan. Qaradhawi dalam buku ini, juga menjelaskan dan mengajak kepada kita semua agar bersikap dan berdiri dalam barisan orang-orang yang secara tegas mengambil jalan tengah, jalan orang-orang yang memiliki pemahaman kaffah, tidak sombong dengan pendapat kelompoknya, terbuka dengan perbedaan, menolak ekstrimisme, dan anti liberalisme. Syeikh Yusuf Qaradhawi, menerangkan dibuku tersebut agar