Jumat, 07 Maret 2008

Noel J. Coulson: Kesatuan dan Keragaman (2)

DALAM pembahasan di bab kedua ini, Noel J. Coulson ingin mendiskusikan prinsip konflik tentang kesatuan dan keragaman dalam hukum yurispendensi Islam. Noel J. Coulson menganggap bahwa konflik kesatuan dan keragaman dalam doktrin hukum Islam adalah alami dan merupakan konsekuensi logis dari dua elemen pokok dari hukum Islam yakni, wahyu dan akal. Bagi Noel, wahyu Tuhan menunjukkan faktor yang pasti dan konstan namun akal manusia menunjukkan faktor yang berubah-ubah. Demikian juga didalamnya ada konflik antara sesuatu yang ideal dengan keadaan yang sebenarnya.

Noel mencoba menguggat konflik kesatuan dan keragaman dengan sebuah diktum yang berasal dari Nabi Muhammad Saw. mengenai “Perbedaan pendapat dikalangan umatku adalah rahmat dari Allah.” Diktum ini bagi Noel menjelaskan dan menjustifikasi yurispendensi Islam bahwa adanya pandangan yang sangat bervariasi dalam ajaran fiqh yang dirumuskan oleh para fuqaha.

Noel mengambil contoh perbedaan mazhab dalam mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Menurut Noel, masing-masing mazhab ini mempunyai keadaan asal yang khas. Noel menilai ada fenomenan perbedaan antara mazhab Hanafi dan Maliki dengan mazhab Syafi’i dan Hanbali.

Noel menilai mazhab Hanafi dan Maliki bercirikan pemakaian bebas akal manusia untuk mengatur kasus-kasus yang secara khusus tidak ditentukan dengan Al-Qur’an atau keputusan Nabi. Mazhab Hanafi dan Maliki merefleksikan tradisi dan lingkungan sosial yang khusus dari dua lokasi yang berbeda. Berbeda dengan maszhab Syafi’i dan Hanbali, mereka berdua berdiri kokoh dibelakang prinsip akan pentingnya Sunnah Nabi yang menurut mereka telah dikalahkan oleh bentuk-bentuk penggunaan akal oleh mazhab-mazhab sebelumnya.

Namun Noel menjelaskan dibuku tersebut, bahwa sejak abad ke-9, keempat mazhab tersebut mendukung satu teori umum yang secara prinsip sama menyangkut sumber hukum. Dengan adanya tujuan umum yang sama dikalangan mereka, menjadikan persaingan awal diantara mereka lambat laun semakin memudar. Perbedaan local geografis atau prinsip yuridis menghilang dan mazhab-mazhab tersebut saling menganggap kumpulan doktrin mereka sama-sama sah untuk menetapkan hukum Tuhan dan sama-sama versi yang sah dari syari’ah Islam.

Noel menilai kondisi yang membuat harmonis diantara mazhab-mazhab tersebut adalah doktrin consensus atau ijma. Doktrin Ijma ini mewakili criteria pokok otoritas hukum dalam Islam dan menopang seluruh struktur teori hukum. Ini adalah prinsip bahwa persetujuan secara bulat dari para fuqaha yang berwenang mengeluarkan pendapat memiliki otoritas yang mengikat dan absolut. Seluruh proses Yurispendensi Islam, dari definisi tentang sumber hukum, hingga cara-cara penetapan hukum yang didasarkan yang didasarkan pada sumber hukum tersebut merupakan usaha pemikiran manusia. Yang demikian itu telah menjadi ijma, dan ijma itu sendiri yang memberikan otoritas terhadap proses yang demikian. Sebab, pada akhirnya ijma itulah yang menjamin keontetikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai materi dari wahyu Tuhan.

Inti dari bab kedua yang ingin dibahas oleh Noel J. Coulson ingin menegaskan bahwa sebenarnya fenomena perbedaan antar madzhab fiqh pun (yurespendensi hukum) adalah suatu yang lumrah terjadi. Seperti dalam pepatah Arab mengatakan, Li Kulli Ro'sin Ro'yun (Lain kepala lain pendapat).

Karena itu, sebuah hadits ini (sebagaian orang menyebut dho'if) mengatakan, "Ihktilafu ummati rohmatun" artinya, "Perbedaan umatku adalah rahmat ". Karena itu, perbedaan yang muncul merupakan sunnatullah bagi manusia. Masalah, perbedaan seperti apa yang dibolehkan atau dilarang?

Imam al-Baidlowi dalam tafsirnya menyebut perpecahan yang dilarang Allah sebagaimana dikutip dalam (QS. Ali Imron : 105 ). Sebenarnya perbedaan yang dimaksud adalah masalah furu' bukan masalah ushul. Masalah furu’ tidak perlu kita perdebatkan, namun masalah ushul sangat kontekstual sesuai masanya, maka harus senantiasa dikembangkan agar bisa menjawab persoalan-persoalan kontemporer hukum Islam.

Nabi Muhammad SAW mengatakan, "Man Ijthada Wa Ashoba Falahu Ajroni, Wa Man ijtahada Wa Akhto'a Falahu Ajrun". (Barang siapa yang berijtihad dan ia benar maka ia mendapatkan dua pahala, sedangkan yang berijtihad lalu ia salah maka ia (hanya ) memperoleh satu pahala (HR. Imam Bukhori). Wallahu’alam []

Referensi

Al-Qur’an al-Karim.


Konflik Dalam Yurispendensi Islam, Noel J. Coulson Penerbit Navila.


Kaset Rekaman Seminar Dr. M. Said Romadhan al-Buthi dengan judul al-Madzahib al-Arba'ah.


Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Nashirudin Al-Bany, edisi terjemahan, Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu jilid-1, cetakan Gema Insani Press.

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...