Kamis, 14 Februari 2008

”Ngaji Untuk Jadi Pengusaha”

TERLIHAT pagi-pagi sekali para santri selepas mengaji sibuk menata barang-barang sembako di warung mereka. Adapula santri yang sibuk membawa pamflet publikasi penjualan hewan Qurban untuk ditempel dikampusnya masing-masing saat kuliah. Maklum, dalam waktu dekat ini mereka akan membuka stand penjualan kambing mereka di tengah kota. ”Rencananya dibuka tanggal 21 mas, di daerah Timoho dekat kantor Walikota Jogyakarta,” ujar Adi, salah seorang pengurus yang mengelola usaha kambing di pesantren ini.

Slogan ”Mengaji Menuju Santri Enterpreuner” ternyata bukan hanya isapan jempol bagi Pesantren Pesantren Ekonomi Islam Terpadu Daarul Falah (PEIT DAFA). Pesantren yang baru berumur satu setengah tahun ini membuktikan dengan beberapa unit usaha yang berhasil didirikan oleh para santri dan pengelola. Terbukti pesantren ini sudah memiliki BMT, balai pengobatan, warung sembako, usaha musiman penjualan hewan Qurban, jasa pengiriman barang dan beberapa unit usaha dalam upaya diwujudkan.

Pesantren yang terletak di Desa Nglaren, Jogyakarta ini menarik untuk ditelusuri, karena memiki konsep pendidikan yang unik ketimbang pesantren pada umumnya. Ide pesantren yang mempunyai visi untuk membentuk para entrepreneur ini lahir dari beberapa alumni pesantren mahasiswa sebelumnya. “Cita-cita membangun sebuah format baru intitusi pendidikan Ekonomi Islam dan wirausaha secara terpadu memang sudah sangat lama sekali ingin direalisasikan,” tutur Farij, salah satu alumni Daaru Hira’, cikal bakal PEIT DAFA. Tapi yang terjadi adalah wacana yang terbentur kendala-kendala teknis yang kontraproduktif, tambah Farij.

Namun seiring waktu berjalan gagasan ini banyak disampaikan ke banyak pihak. Salah satunya disampaikan pada Priyonggo Suseno Alumni Universitas Lougborough University, Inggris dan Direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam disebuah PTS tertua di Jogyakarta. Priyonggo sangat senang dengan gagasan cemerlang dari para alumni Pondok Pesantren Mahasiswa Daaru Hira’ – sebelum menjadi Pesantren Darul Falah – untuk memadukan konsep pendidikan Ekonomi Islam dan dengan penguatan aspek Dirosah Islam dalam sebuah bingkai Pesantren yang secara real mengajarkan antara sisi teori dan praktek secara langsung. Sehingga output yang diharapkan adalah mencetak sosok alumni santri yang amanah, beretika dalam menjalankan kehidupan berekonomi. Selain kokoh dalam perencanaan dan aktivitas usahanya, dimana terformat sebagai entrepreuner sejati dan disamping itu pula berbagai tawaran konsep dan gagasan lainnya.

Menurut Priyonggo, betapa sulit untuk mencari pengusaha-pengusaha yang yakin dengan kejujuran bahwa usahanya akan berhasil. “Dengan latar belakang itulah kami dan teman-teman memberanikan diri untuk bersama-sama berusaha membangun PEIT DAFA, tepat pada tanggal 1 Oktober 2005. Dimana fokus pesantren ini adalah sisi Ekonomi Islam dan wirausaha.

Priyonggo melanjutkan, “Implementasi ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan semakin mendapat perhatian masyarakat. Kajian dan praktek ekonomi yang berlandaskan syariah Islam sudah menjadi tuntutan sebagian masyarakat yang sudah mulai membaca praktek-praktek ekonomi yang mengabaikan aspek moral,” ujar Direktur PEIT DAFA yang juga menjabat sebagai Ketua Ahli Ikatan Ekonomi Islam Yogyakarta.

Andi mahasiswa PTN terkenal di Jogja yang nyantri di pondok ini sangat antusias saat ditemui terkait tanggapannya dengan pesantren ini, karena menurut Andi di Jogyakarta cuma Pesantren ini yang punya konsep perpaduan ilmu agama dan ekonomi. “Sejauh ini para santri juga punya usaha sendiri, karena memang di pesantren ini oleh pengelola di motivasi terus,” tambahnya.

Rijal yang juga santri PEIT DAFA, menuturkan tentang kesuksesan usaha pakaian batiknya. Saat ini ia menangani Bursa Butik Indonesia Timur (BBIT). Rijal menjadi penyuplai batik-batik dari Jogja untuk daerah Indonesia timur. “Lumayan mas keuntungannya, setiap transaksi saya bisa beli HP baru,” ujar Rijal. Ia menuturkan dorongan usaha ini memang berasal dari Pesantrennya sekarang ini. Ia juga mengaku ke depan dia akan kuliah di Al-Azhar Kairo, sehingga dari sekarang harus belajar usaha. “Gak mungkin mengandalkan orang tua saja, biaya disana kan lumayan mahal,” tambah Rijal.

Selain mendapatkan teori saat mengaji di kelas, santri juga mendapatkan diskusi rutin forum bisnis. Dimana forum tersebut menjadi ajang sharing tentang bisnis bahkan setiap santri diharuskan presentasi tentang Bussines Plan-nya. “Harapannya forum-forum seperti ini bisa terus memotivasi para santri untuk memiliki usaha yang matang dan terencana,” ujar Farid, pengelola PEIT DAFA.

Sambutan masyarakat terhadap pesantren ini juga sangat baik sekaligus mereka juga menyambut baik sistem ekonomi alternatif yang berbasis pada nilai-nilai Islam, karena lebih adil dan tentram, tutur salah seorang warga yang tinggal di sekitar pondok pesantren. Usaha sektor riil juga telah menuju kepada penerapan nilai-nilai Islam. Berkembang beberapa perhotelan yang berbasis nilai Islam – bebas dari minuman, prostitusi, dan beretika, bisnis retail seperti supermarket, rumah makan dan pertokoan serta rumah sakit Islam.

Perkembangan bisnis syariah ini jelas memerlukan kesiapan sistem yang kokoh dan sumberdaya manusia yang handal. Saat ini sudah saatnya masyarakat mempersiapkan sumberdaya manusia yang siap dalam mengaruhi bisnis yang semakin kompetitif dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur –Islam. Lembaga pendidikan, baik formal ataupun non-formal, perlu mempersiapkan sejak dini sumberdaya-sumberdaya manusia yang berkarakter nubuwwah sebagaimana yang diharapkan oleh setiap perekonomian: memiliki kemampuan dan keahlian yang memadai (fathonah), memiliki integritas terhadap penegakan kebenaran (shiddiq), memiliki kepekaan terhadap perubahan keadaan, informatif dan komunikatif (tabligh) dan memegang teguh komitmen yang telah direncanakan dan disepakati (amanah).

Pesantren yang didukung pula oleh Wakil Bupati Sleman, Bpk. Sri Purnomo ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat mempersiapkan sumberdaya mahasiswa yang memiliki keahlian dan komitmen untuk menerapkan ilmunya secara benar, adaptif dan bisa dipercaya ummat. Dalam sela-sela waktu kuliahnya, mahasiswa perlu mendapatkan suntikan ruhani dan keahlian terkait dengan bagaimana mempraktekkan ilmunya dalam masyarakat secara benar, beretika Islam. Siapa yang tertarik untuk nyantri sekaligus jadi pengusaha? Silakan datang saja ke pesantren ini. []

1 komentar:

Farida Umi Inayati mengatakan...

alamat lengkapnya dimana tuh? jadi pingin berkunjung...