Minggu, 10 Februari 2008

Akuntansi Syariah Jiplakan Akuntansi Konvensional

PADA saat ini banyak kalangan memandang akuntansi hanya sebagai dari pencatatan dan pelaporan. Dimana perusahaan hanya mencatatkan laba sebanyak-banyaknya. Subtansi ekonomi konvensional lebih pada self Interest. Ini dikuatkan oleh Soros bahwa Akuntansi syariah berprinsip pada self interest atau sekularisme dalam akuntansi. Realitas ekonomi yang cenderung kapitalisme dengan karakteristik KKN, sarat dengan ciri otoritas kepentingan peribadi (self interest). Akibat dari rasionalitas konsumsi yang lebih mendukung individualisme dan self interest, maka keseimbangan umum tidak dapat dicapai. Maka yang terjadi adalah munculnya berbagai ketimpangan dalam berbagai persoalan sosio-ekonomi.

Ekonomi yang dipandu oleh keserakahan melalui peraihan mekanisme nilai tambah yang tak terhingga, semakin menjauh dari keridhoan Allah SWT. Muara dari pada itu, adalah munculnya keresahan, dan mendorong manusia hidup dalam keadaan yang senantiasa konflik. Semangat konflik itu menyebabkan manusia menjadi lebih menyenangi persaingan dalam memperoleh laba sebanyak-banyaknya (profit maximum principle). Al Qur'an dan hadist secara tegas menolak perikehidupan ekonomi seperti itu. Ekonomi yang berlandaskan pada pemahaman Islam, mengasumsikan manusia keadilan dan kesetaraan(egalitarian). Artinya, pada dasarnya setiap orang itu sama, dan diberi tugas yang sama pula, yakni mengabdi kepada Allah SWT dalam berbagai implementasi kehidupan termasuk ekonomi (QS. 18:29).

Islamisasi pengetahuan dalam ekonomi lebih khusus bidang akuntansi atau yang biasa disebut dengan Akuntansi Syari'ah atau akuntansi Islam telah lebih dari tiga puluh tahun dilakukan. Gagasan dan wacana filosofis teoritis akuntansi syari'ah telah banyak dihasilkan, namun belum ada bentuk konkret akutansi syariah dalam bentuk teknologinya, yaitu laporan keuangan syari'ah. Laporan keuangan syari'ah saat ini masih melakukan `fotokopi akutansi konvensional' dan melakukn `tip-ex sana-sini' dan kemudian `menempel tulisan yang bernuansa syari'ah. Tetapi laporan keuangan syari'ah yang memang diturunkan dari nilai-nilai Islam (Islamic Values) dan sesuai dengan tujuan syari'ah (maqasid syari'ah) belum ada.

Aji Dedi Mulawarman, selaku penulis buku “Akuntansi Syariah” mencoba mengenalkan Shari'ate Value Added Statement (laporan Nilai Tambah syari'ah), yaitu laporan kinerja keuangan pengganti Income Statement (laporan laba-rugi), melalui rekonstruksi Value added statement (laporan nilai tambah) menjadi Shari'ate Value Added Statement. Penggantian laporan laba-rugi menjadi laporan nilai tambah syari'ah adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi dunia pencatatan, pelaporan, dan pertanggungjawaban keuangan perusahaan-perusahaan islam.

Laporan nilai tambah Syari'ah adalah bentuk pertanggungjawaban keuangan perusahaan Islami yang idealnya untuk memberikan nilai tambah (value added) dan tazkiyah (pensucian). Pemberian nilai tambah yaitu berupa peningkatan kesejahteraan bagi pemilik, manajemen dan pemegang saham di satu sisi. Sekaligus nilai tambah kesejahteraan bagi pemilik, manajemen dan pemegang saham disatu sisi. Sekaligus nilai tambah kesejahteraan yang harusnya dilakukan pula pada karyawan, buruh supplier, masyarakat sekitar perusahaan, pemerintah, dan lingkungan serta yang paling utama adalah tugas perwujudan nilai tazkiyah (pensuciaan) laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan (kumpulan komunitas yang berbentuk organisasi) kepada Allah Azza wa Jalla.

Sedangkan Drs. Mashudi Muqorrobin, Ak. MEc., kandidat Doktor Ekonomi Universitas Kebangsaan Malaysia lebih menekankan pada perubahan metodologi ekonomi. Saat ini perkembangan ilmu ekonomi modern masih banyak menilik teori Adam Smith "The Wealth Of Nations" yang notabene ini merupakan jiplakan pemikir Islam yang sedikit banyak diubah oleh Adam Smith yang hanya berorientasi pada keuntungan dan mengabaikan keadilan. Metodologi ilmu ekonomi belum mendapatkan landasan filosofis gerakan selama 50 tahun. Saat ini ilmu ekonomi masih dalam bayang-bayang ilmu ekonomi konvensional. Begitu kuatnya falsafah ekonomi materialistik ini menguasai pola berpikir ilmiah modern, sehingga mempersulit proses usaha untuk saling mengerti dan memahami pola ilmiah yang berasal dari budaya dan falsafah lain. Pada saat ini Islamisasi ilmu ekonomi konvensioanal mulai berkembang. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Ulama-ulama Islam terdahulu, seperti Ibnu Sina pernah melakukan Islamisasi buku Aristoteles "The Politics" dengan memasukkan nilai-nilai Islam kedalamnya dan buku ini berjudul "Manajemen Keuangan Rumah Tangga".

Menurut Rizal Yaya, SE., M.Sc. Akt, permasalahan Akuntansi Konvensional pada saat ini adalah Lingkup dan kebebasan praktik akutansi dimana aturan akutansi yang dibuat oleh The Big Five (Amerika dkk.) dibuat untuk melakukan praktik kejahatan bersama (economic consequences). Lainnya Rizal mengatakan akuntansi konvensional saat ini sebagai alat legitimasi PHK, privatisasi, transfer of wealth to rich dan hanya wilayah masalah ekonomi saja tanpa memperhatikan dampak lingkungan seperti polusi dll. Permasalahan yang lain menurut Rizal seperti dikatakan dalam bukunya Dr. Akhyar Adnan dan Gaffikin, konsep akutansi konvensional bertentangan dengan pengungkapan semua informasi yang relevan dimana informasi yang diungkap tidak memadai dalam mendorong pertanggungjawaban pada Allah dan manusia. Wallahualam []

Sumber gambar: Scan dari buku Rifqi Muhammad, Dosen FE UII

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...