Rabu, 23 Januari 2008

Karya Ekonom Muslim Dicuri Oleh Ekonom Barat

SEJARAH membuktikan bahwa para pemikir muslim merupakan penemu, peletak dasar, dan pengembang berbagai bidang-bidang ilmu. Nama pemikir muslim bertebaran disana –sini menghiasi arena ilmu-ilmu sosial. Mulai dari filsafat, matematika, astronomi, ilmu optik, biologi, kedokteran, sejarah, sosiologi, psikologi, pedagogi, ekonomi sampai sastra.

Para pemikir klasik Muslim tidak pernah terjebak untuk mengkotak-kotakan berbagai macam ilmu tersebut seperti yang dilakukan oleh para pemikir saat ini. Mereka melihat ilmu-ilmu tersebut sebagai ”Ayat-ayat Allah” yang bertebaran diseluruh alam. Dalam pandangan mereka, ilmu-ilmu itu walaupun sepintas terlihat berbeda-beda dan bermacam-macam jenisnya, namun pada hakikatnya berasal dari sumber yang satu, yakni dari Yang Maha mengetahui seluruh ilmu, Yang Maha Benar, Allah Azza wa Jalla.Para pemikir muslim memang melakukan klasifikasi terhadap berbagai macam ilmu, tetapi yang dilakukann mereka adalah pembedaan, bukan pemisahan. Karena tidaklah mengherankan bila para pemikir kalsik muslim menguasai berbegai macam bidang ilmu.

Ibnu Sina (980-1037 M), sebagai contoh, selain terkenal sebagai ahli kedokteran, juga adalah ahli filsafat. Bahkan ia juga mendalami psikologi dan musik. Al-Ghazali (1058 M-505 H), selain banyak maslah-maslah fiqh (hukum), ilmu kalam(teologi), dan tasawuf, beliau juga banyak membahas masalah filsafat, pendidikan, psikologi, ekonomi, dan pemerintahan. Ibnu Khaldun (1332-1404 M) selain banyak membahas masalah sejarah, juga banyak menyinggung msalah-masalah sosiologi, antropologi, budaya, ekonomi, geografi, pemerintahan, pembangunan, peradaban, filsafat, epistemologi, psikologi, dan juga futurologi.

Sayangnya tradisi pemikiran seperti ini tidak berlanjut sampai sekarang karena mundurnya peradaban Muslim dihampir segala bidang. Kemunduran ini sebagian disebabkan karena musuh dari luar, sebagian lagi disebabkan oleh sikap umat muslim sendiri.[1] Umat Muslim tenggelam lama dalam tidur nyenyaknya. Kegiatan berfikir terhenti, sehingga uamt muslim mengalami kemunduran dalam segala bidang. Mulai dari bidang politik, ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, sosial, seni, dan kebudayaan.

Lama kelamaan peradaban Muslim tidak terdengar lagi gaungnya dalam jangka waktu yang lama. Bahkan negeri-negeri Muslim akhirnya menjadi sasaran empuk penjajahan bangsa-bangsa non-muslim. Banyak institusi khas Islam yang terpinggirkan (untuk tidak menyebut hilang). Kedaulatan politik diambil alih oleh bangsa penjajah. Sistem hukum Islam yang berlaku berangsur-angsur perlahan diganti dengan sistem hukum penjajah warisan Romawi. Insitusi Ekonomi umat Muslim seperti baitul maal, al-hisbah, suftaja, hawala, funduq, dar al-tiraz, Ma’una dll. terpinggirkan.

Dalam bidang seni dan budaya, terjadi pengekoran yang membabi buta terhadap budaya barat. Dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, terjadi sekularisasi. Hasilnya pada masa kini umat Muslim identik menjadi sekular dan liberal. Sungguh ironis mengingat ayat-ayat Al-Qur’an yang pertama turun adalah perintah membaca ”Iqra!”; ”Bacalah!”, dan mengingat salah satu doa Nabi Muhammad Saw. yang selalu beliau ulang-ulang: ”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefaqiran...”

Di tengah-tengah keadaan seperti ini, terjadilah proses kehilangan fakta-fakta sejarah, baik disengaja maupun tidak. Andil pemikir-pemikir Muslim dalam Ilmu-ilmu pengetahuan tertutupi, sehingga bila kita membaca buku-buku sejarah ilmu pengetahuan, maka kebanyakan menyatakan bahwa sejak zaman filosof-filosof Yunani yang masyhur (Socrates, Plato, Aristoteles dll.) beberapa abd sebelum maseh, terjadi kekosongan perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini dialami oleh semua ilmu, tidak terkecuali ilmu ekonomi.

Di Caploknya Karya Ekonom Muslim

Joseph Schumpeter, misalnya dalam buku ”Magnum Opus” menyatakan adanya gap yang besar dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500 tahun, yaitu masa yang dikenal sebagai Dark Ages (masa kegelapan). Masa kegelapan Barat tersebut sebenarnya merupakan masa kegemilangan umat Muslim, suatu hal yang ditutup-tutupi karena pemikiran ekonomi muslim pada masa tersebut inilah yang kemudian banyak dicuri oleh para ekonom Barat. Para ekonom Muslim sendiri mengakui, mereka banyak membaca dan dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Aristoteles (367-322 SM) sebagai filsuf yang banyak menulis masalah ekonomi. Namun meskipun demikian, mereka tetap menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai rujukan utama menulis teori-teori ekonomi Islam.

Schumpeter menyebut dua kontribusi ekonom Skolastik, yaitu penemuan kembali tulisan-tulisan Aristoteles dan ”towering achievement” Thomas Aquinas (1225-1274). Schumpeter hanya menulis tiga baris dalam catatan kakinya nama Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dalam kaitan proses transmisi pemikiran Aristoteles kepada St. Thomas. Pemikiran ekonomi St. Thomas sendiri banyak yang bertentangan dengan dogma-dogma Gereja sehingga para sejarawan menduga St. Thomas mencuri ide-ide itu dari para ekonom Muslim.

Adapun proses pencurian terjadi dalam berbagai bentuk. Pada abad ke-11 dan ke-12, sejumlah pemikir Barat seperti Constantine the African, Adelard of Bath melakukan perjalanan ke Timur Tengah. Mereka belajar bahasa Arab dan melakukan studi serta membawa ilmu-ilmu baru ke Eropa. Contohnya, Leonardo Fibonacci tau Leonardo of Pisa belajar di Bougie, Aljazair pada abad ke-12. ia juga belajar aritmetika dan matematika Al-Khawarizmi (780-850 M) dan sekembalinya dari sana ia menulis buku Liber Abaci pada 1202. Raymond Lily (1223-1315) yang telah melakukan perjalanan ke negara-negara Arab sehingga banyak yang kemudian menerjemahkan karya-karya ekonom Islam. Di antara penerjemah tersebut adalah Adelard of Bath, Constantine de African, Michael Scot, Hermaan the German, Dominic Gundislavi, Jhon of Seville, Plato of Tivoli, William of Luna, Robert Chester, Gerard of Cremona, Theodorus of Antioch, Alfred of Sareshel, Berenger of Valencia, dan Mathew of Aquasparta. Sementara itu diantara para penerjemah Yahudi ada nama-nama seperti Jacob of Anatolio, Jacob ben Macher Ibn Tibbon, Kalanymus ben Kolonymus, Moses ben Solomon of Solon, Shem-Tob ben Isaac of Tortosa, Solomon Ibn Ayyub, Todros Todrosi, Zerahiah Gracian, Faraj ben Salimn, dan Yaqub ben Abbon Marie. Adapun karya-karya ekonom Muslim yang diterjemahkan adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, Ibnu Haytham, Ibnu Hazm, Jabir Ibnu Hayyan, Ibnu Bajja, Ar-Razi.

Beberapa pemikiran ekonom Muslim yang dicuri tanpa pernah disebut sumber kutipannya antara lain: Teori Pareto Optimum diambil dari Kitab Nahjul Balaghah karya Imam Ali, Bar Hebraeus, pendeta Syriac Jacobite Church, menyalin beberapa bab Ihya Ulumudin karya Imam Ghazali, Gresham-law dan Oresme Treatise dari Kitab Ibnu Taimiyah, Pendeta Gereja Spanyol Ordo Dominican Raymond Martini menyalin banyak bab dari Tahafut Al-Falasifa, Maqasid al Falasifa, Al Munqid, Misykat al Anwar, dan Ihya Ulumudin karya Imam Ghazali, St. Thomas menyalin banyak bab dari Al-Farabi (St. Thomas yang belajar di Ordo Dominican mempelajari ide-ide Al-Ghazali dari Bar Hebraeus dan Martini), Bapak Ekonomi Barat, Adam Smith (1776 M), dengan bukunya “The Wealth of Nations” diduga banyak mendapat inspirasi dari buku Al-Amwal-nya Abu Ubayd (838 M) yang dalam bahasa Inggrisnya adalah persis judul buku Adam Smith, “The Wealth Of Nation.”

Karena itu, para pemikir Islam sebenarnya telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan ilmu ekonomi modern. Dengan demikian, teori ekonomi Islami sebenarnya bukan ilmu baru. Oleh karena itu sikap umat Islam terhadap ilmu-ilmu dari Barat, termasuk ilmu ekonomi versi ”konvensional”, adalah la tukadzibuhu jamii’a, wala tushahhihuhu jamii’a (jangan tolak semuanya, dan jangan pula terima semuanya). Maka ekonom muslim tidak perlu terkesima dengan teori-teori Barat. Ekonom Muslim perlu mempunyai akses terhadap kitab-kitab klasik Islam. Di lain pihak, Fuqaha Islam perlu juga mempelajari teori-teori ekonomi modern agar dapat menerjemahkan kondisi ekonomi modern dalam bahas kitab klasik Islam. []

Catatan: Disadur dari Buku ”Ekonomi Mikro Islam” karya Adiwarman Azwar Karim, dengan perubahan sana-sini

[1] Malik Ben Nabi. Sosiolog muslim kontemporer asal Aljazair, menyatakan hal ini. Menurutnya kemunduran umat Muslim saat ini disebabkan oleh dua koefisien, yakni koefisien eksternal (penjajah) dan koefisien internal (sikap yang kondusif terhadap penjajahan).

Tidak ada komentar: