Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2008

Implementasi Gold-Dinar di Indonesia

Gambar
DALAM sebuah kelas matrikulasi pengantar Ilmu Ekonomi terjadi perdebatan yang menarik antara mahasiswa dan dosen terkait dengan penerapan mata uang Dinar dalam kebijakan sistem moneter keuangan di Indonesia. Kebetulan mahasiswa tersebut bekerja di sebuah perguruan tinggi S1 Yogyakarta yang sangat kental dengan semangat menerapkan sistem syariah Islam di Indonesia. Si mahasiswa bersikukuh bahwa keniscayaan mata uang Dinar bisa diterapkan di Indonesia, sehingga debat kusir tidak bisa dielakkan. Yang cukup menarik disampaikan dosen Ilmu ekonomi tersebut adalah dinar tidak bisa diterapkan dengan kecukupan cadangan emas yang ada di Indonesia dan Negara-negara yang mau bertransaksi dengan menggunakan mata uang dinar. Sejatinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara sistem ekonomi konvensional dengan Sistem Ekonomi Islam. Dalam sudut pandang sistem ekonomi konvensional terdapat kelangkaan dari sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi keinginan manusia yang tidak terbatas. S

Menggugat Sistem Ekonomi ‎Liberal

Gambar
“…the discipline (of conomics) became progressively more narrow at precisely the moment when the problems demand broader, more political, and social insight…” PERNYATAAN diatas terdapat dalam laporan tahunan Yayasan Russel Sage, sponsor penelitian mengenai masalah kemasyarakatan. Yang mengutipnya adalah seorang ilmuwan ekonomi yang jengkel terhadap kecendrungan “myopic” dalam disiplin ekonominya. Yaitu, ketika masyarakat yang sedang memerlukan jawaban yang melibatkan berbagai dimensi kehidupan, ilmuwan ekonomi datang dengan resep ekonomi-teknis. Ketika dihadapkan pada persoalan pengangguran dan kemiskinan yang semakin luas justru yang diajukan adalah usulan pembenahan mekanisme pasar. Seolah-olah kalau mekanisme pasar berlangsung bebas dari gangguan campur tangan pemerintah, maka semua persoalan itu akan mudah terselesaikan. Mengapa muncul gugatan tersebut? Untuk memahami gugatan itu kita perlu menengok kembali perdebatan yang terjadi selama ini berlangsung antara dua kubu pen

Karya Ekonom Muslim Dicuri Oleh Ekonom Barat

Gambar
SEJARAH membuktikan bahwa para pemikir muslim merupakan penemu, peletak dasar, dan pengembang berbagai bidang-bidang ilmu. Nama pemikir muslim bertebaran disana –sini menghiasi arena ilmu-ilmu sosial. Mulai dari filsafat, matematika, astronomi, ilmu optik, biologi, kedokteran, sejarah, sosiologi, psikologi, pedagogi, ekonomi sampai sastra. Para pemikir klasik Muslim tidak pernah terjebak untuk mengkotak-kotakan berbagai macam ilmu tersebut seperti yang dilakukan oleh para pemikir saat ini. Mereka melihat ilmu-ilmu tersebut sebagai ”Ayat-ayat Allah” yang bertebaran diseluruh alam. Dalam pandangan mereka, ilmu-ilmu itu walaupun sepintas terlihat berbeda-beda dan bermacam-macam jenisnya, namun pada hakikatnya berasal dari sumber yang satu, yakni dari Yang Maha mengetahui seluruh ilmu, Yang Maha Benar, Allah Azza wa Jalla.Para pemikir muslim memang melakukan klasifikasi terhadap berbagai macam ilmu, tetapi yang dilakukann mereka adalah pembedaan, bukan pemisahan. Karena tidaklah men

Menjadi Negara Produksi, Menuju Indonesia yang Mandiri

Gambar
HAMPIR berpuluh-puluh tahun umur kemerdekaan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merdeka dan berdaulat, namun marilah kita tengok realitas keadaan negara kita dewasa ini. Negara kita yang kaya akan minyak terus menerus menjadi Importir netto minyak. Negara yang terkenal dengan ”Negara Agraris” masih mengimpor beribu-ribu ton beras dari negara tetangga. Negara yang dikaruniai dengan hutan sedemikian luas dan lebatnya sehingga menjadikannya negara produsen eksportir kayu terbesar di dunia dihadapkan pada hutan-hutan yang gundul, terjadi penebangan liar dan perdagangan illegal ke luar negeri. Sumber daya mineral kita dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab oleh kontraktor asing dan kroninya. Rakyat yang merupakan pemilik dari bumi, air dan segala kekayaan alam yang terkandung didalamnya memperoleh manfaat yang sangat minimal. Ikan kita dicuri oleh kapal-kapal asing, pasir-pasir kita juga dicuri oleh asing yang bila ditaksir mencapai milyaran dollar AS.

‎Tahapan Pelarangan Riba ‎Dalam Al-Qur'an

Gambar
1. Tahap Pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba pada zahirnya menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT. Firman Allah SWT: “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)” (Qs. Ar-Rum: 19) Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan ayat ini, barangsiapa yang memberikan sesuatu guna mengharapkan balasan manusia yang lebih banyak kepadanya dari apa yang diberikan, maka perilaku ini tidak akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Demikian yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak, Qatadah, ‘Ikrimah, Muhammad bin Ka’ab dan asy-Sya’bi. Sikap seperti ini dibolehkan, sekalipun tidak memiliki pahala. Akan tetapi, Rasulullah Saw. Melarangnya secara khusus

Ekonomi Syariah;‎ Dari Pemikiran Menuju Aplikasi

Gambar
ILMU ekonomi Islam adalah suatu yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah suatu ilmu yang tumbuh dan menjadi gerakan perekonomian Islam sejak seperempat abad yang lalu. Namun demikian, pergeseran orientasi dari pemikiran ekonomi ke gerakan tak terpisahkan dari hapusnya institusi Khilafah tahun 1924 [1] dan upaya menghidupkanya kembali yang gagal hingga terbentuknya Organisasi Konfrensi Islam. Dengan kata lain, salah satu produk penting yang menyertai kelahiran OKI adalah terpicunya pemikiran ekonomi Islam menjadi gerakan perekonomian Islam. Gerakan itu ditandai dengan diselengarakan Konfrensi Ekonomi Islam secara teratur. Pemantapan hati negara-negara anggota OKI untuk mengislamisasi ekonomi negaranya masing-masing tumbuh setelah Konferensi Ekonomi Islam III yang diselenggarakan di Islamabad Pakistan bulan Maret 1983. [2] Hasilnya, sejumlah pemerintahan Islam sudah mendirikan Departemen atau Fakultas Ekonomi Islam di universitas-universitas mereka, bahkan sudah mulai meng-Islamkan