Selasa, 30 Desember 2014

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak."

Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takariawan, kompasioner favorite 2014 yang menyampaikan "Sharing Session" kepada hampir 150 kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di MD Buliding, atau kantor Dewan Pengurus Pusat PKS (DPP), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Ahad (28/12).

Banyak tuturan segar keluar dari penulis Buku "Yang Tegar di Jalan Dakwah" ini. Ia didaulat Humas DPP PKS untuk menyampaikan pengalaman bagaimana agar tulisan dapat menginspirasi banyak pembaca.

Pria asal Yogyakarta ini mengungkapkan, sebagai seorang penulis jangan pernah menyerah untuk terus berusaha agar tulisan yang dihasilkan dapat terpublikasi.

"Kalau kita menulis jangan sampai ditolak media. Jadi kalau ditolak di media Nasional, kirim ke media lokal. Media kampus, kalau ditolak juga muat di media sendiri," tutur penulis yang akrab disapa Pak Cah itu.

Pak Cah juga mengungkapkan, kapan saja waktu yang terbaik untuk menulis. "Hari terbaik menulis itu, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan ahad, dan waktu yang terbaik untuk menulis itu, jam 1, jam 2, jam 3 sampai jam 24.00," kelakarnya, disambut gelak tawa para peserta diskusi.

Bagi seorang penulis, tidak boleh ada alasan lagi kering inspirasi. "Menulis itu bisa dari pengalaman, amanah maupun kegiatan sehari-hari," ungkap konselor rumah tangga ini.

Pak Cah mencontohkan seorang ibu-ibu di Yogyakarta bisa menerbitkan satu buku. Berawal dari rutinitas menunggui anak pulang sekolah, sang ibu mencatat setiap cerita para ibu tentang aktivitas anaknya. "Jadilah buku 'Celoteh Anak-Anak'. Keseharian kita bisa jadi inspirasi tulisan."

Pengalaman itulah yang diakuinya membedakan genre tulisannya. "Dulu saya banyak menulis yang ideologis semisal 'Menikah di Jalan Dakwah'. Tapi sekarang judulnya 'Woderfull Couple', 'Wonderfull Husband'. Ada perbedaan karena kini saya menulis tanpa merumitkan diri dengan referensi. Cukup mengeluarkan pengalaman sebagai konselor 14 tahun," kisahnya.

Pak Cah mengaku dengan menulis ulang pengalamannya, ia bisa lebih lepas dalam berekspresi.

Pak Cah berbagi tips untuk menyimpan ide. Ia selalu mencatat lintasan ide di telepon genggamnya. Ia juga selalu menyempatkan menulis satu jam sehari setelah Shubuh. Pak Cah mengaku ia bisa menulis dimana saja untuk artikel di internet. "Tapi untuk menulis buku saya perlu satu tempat dan waktu khusus," ungkapnya.

Soal profesi sebagai penulis, Pak Cah mengakui di Indonesia memang belum bisa jadi mata pencaharian. "Menulis itu jadi jendela saja. Bukan untuk terkenal tapi dikenal," katanya.

Pak Cah berpesan aktivitas menulis tidak dibenturkan dengan profesi yang lain. "Menulis itu bisa berkembang seiring dengan profesi," tuturnya. (Sumber: Humas DPP PKS)

Senin, 24 November 2014

Prospek Keuangan Inklusif di Indonesia

Source: www.merdeka.com
ISTILAH keuangan inklusif menjadi tren pasca krisis Amerika Serikat di tahun 2008, terutama didasari dampak krisis kepada kelompok in the bottom of pyramid (pendapatan rendah dan tidak teratur, tinggal di daerah terpencil, orang cacat, buruh yang tidak mempunyai dokumen identitas legal, dan masyarakat pinggiran) yang umumnya unbanked yang tercatat sangat tinggi di luar Negara maju.

Disinyalir oleh Bank Dunia, tidak kurang dari 90% penduduk di Negara-negara berkembang belum memiliki akses ke lembaga permodalan. Akibatnya mereka harus berhadapan dengan berbagai kesulitan. Baik untuk keluar dari jeratan kemiskinan, meningkatkan pendapatan, maupun untuk mendiversifikasi usahanya. Fakta sosio-ekonomi inilah yang sebenarnya melandasi visi jasa layanan keuangan noneklusif, universal, dan menjangkau semua golongan.

Belum ada definisi yang baku dari istilah keuangan inklusif. World Bank mengartikan keuangan inklusif sebagai sistem jasa layanan keuangan yang bersifat universal, nonekslusif. Dalam praktiknya, gagasan keuangan inklusif mengambil bentuk dalam skema yang kini lebih dikenal dalam istilah microfinance, dengan fitur utama berupa microcredit. Microfinance adalah sistem layanan keuangan skala kecil (biasanya berupa kredit permodalan) yang ditujukan untuk membiayai usaha skala mikro dan menengah, baik perorangan maupun kelembagaan.

Keuangan inklusif merupakan satu skema pembiayaan inklusif, dengan tujuan utama memberikan berbagai layanan keuangan kepada kalangan miskin dan berpenghasilan rendah. Ragam layanan keuangan tersebut antara lain berupa kredit permodalan, tabungan, asuransi, serta layanan transfer keuangan. Tiga kategori layanan keuangan yang belakangan disebut, sebenarnya merupakan adisi dari layanan utama microfinance dalam bentuk kredit usaha.

Mengapa Perlu Keuangan Inklusif?

Berbagai alasan menyebabkan masyarakat yang dimaksud menjadi unbanked, baik dari sisi supply (penyedia jasa) maupun demand (masyarakat), yaitu karena price barrier (mahal), information barrier (tidak mengetahui), design product barrier (produk yang cocok), dan chanel barrier (sarana yang sesuai). Keuangan inklusif mampu menjawab alasan tersebut dengan memberikan banyak manfaat yang dinikmati oleh masyarakat, regulator, pemerintah, dan pihak swasta.

Mengutip dari situs resmi Bank Indonesia, manfaat dari keuangan inklusif di antaranya adalah: meningkatkan efisiensi ekonomi, mendukung stabilitas sistem keuangan, mengurangi rentenir (irresponsible finance), mendukung pendalaman pasar keuangan, memberikan potensi baru bagi perbankan, mendukung peningkatan Human Development Index (HDI) Indonesia, berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional yang sustainable dan berkelanjutan, terakhir mengurangi kesenjangan sosial, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya berujung pada penurunan tingkat kemiskinan.

Dewasa ini, keuangan inklusif digunakan sebagai dasar pikir yang melandasi berbagai solusi programatik untuk mendukung perkembangan sektor usaha skala kecil. Kini, berbagai program ini telah mendapatkan dukungan prima dari Negara, baik dukungan dari segi kebijakan, penjaminan, dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi, sistem ini menjadi standard operating systems sekaligus ujung tombak dalam merespons fenomena kemiskinan di seluruh dunia.

Bagaimana Keuangan Inklusif di Indonesia?

Strategi keuangan inklusif bukanlah sebuah inisiatif yang terisolasi, sehingga keterlibatan dalam keuangan inklusif tidak hanya terkait dengan tugas Bank Indonesia (BI), namun juga regulator, Kementrian dan lembaga lainnya dalam upaya pelayanan keuangan kepada masyarakat luas. Melalui strategi nasional keuangan inklusif diharapkan bisa berkolaborasi antar lembaga pemerintah dan pemangku kepentingan tercipta secara baik dan terstruktur.

Jika acuan keuangan inklusif adalah empat poin seperti dibahas di awal, yakni: kredit permodalan, tabungan, asuransi, serta layanan transfer keuangan. Maka turunan dari konsep tersebut yang sudah dijalankan oleh Pemerintah di antaranya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit yang tidak menggunakan agunan (jaminan) dan pelaksanaanya menunjuk bank-bank pelaksana. Kemudian konsep “Tabunganku” di era SBY, dimana masyarakat menabung bisa dengan nominal Rp. 10.000,- dan tidak ada potongan administrasi. Untuk asuransi kesehatan, program terbaru dari Pemerintah sudah ada BPJS. Untuk transfer keuangan sendiri bisa melalui bank dan ada lembaga-lembaga transfer antar Negara.

Bagaimana praktiknya program-program dari Pemerintah tersebut? Menurut hemat penulis jika merujuk data di lapangan program-program tersebut memang sepenuhnya belum optimal. Misal, dalam praktiknya Bank pelaksana KUR tetap meminta jaminan. Program Tabunganku hanya bergaung di awal-awal, dalam perjalanannya tidak berjalan lagi. Asuransi kesehatan melalui BPJS juga belum bisa terlaksana sepenuhnya karena ada program dari Pemerintahan yang baru, yakni Kartu Indonesia Sehat dll. Untuk transfer keuangan juga masih menerapkan admin yang cukup tinggi.

Perlu ada terobosan yang lebih solutif dari konsep keuangan inklusif yang selama ini sudah berjalan. Program yang terintegrasi bisa mengakomodir semua problem masyarakat yang unbanked seperti disebut di awal. KUR mungkin bisa terlembaga dan hadir di seluruh daerah tanpa bantuan bank pelaksana. Program “Tabunganku” bisa digiatkan lagi. Asuransi kesehatan, baik BPJS, KIS, Askes dll. bisa terintegrasi secara baik. Admin layanan transfer antar daerah dan Negara juga bisa diminimalkan. Dengan begitu, problem pada kelompok in the bottom of pyramid bisa terpecahkan. Wallahua’lam []

Selasa, 28 Oktober 2014

Agar UKM Bankable

Usaha Kuliner
TULISAN ini barangkali sudah banyak diulas oleh banyak trainer (konsultan) bisnis dan keuangan. Saya tertarik menuliskannya lagi, karena faktanya sampai detik ini masih banyak UKM yang enggan untuk berhubungan dengan perbankan. Atau ada juga UKM yang sudah biasa berhubungan dengan bank namun usahanya tetap stagnan bahkan hampir bangkrut. Padahal modal dari bank harusnya bisa memperbesar volume usaha mereka, namun nyatanya tidak.

Saya sendiri punya pengalaman praktis yang cukup memadai untuk menuliskan materi ini karena hampir tiga tahun saya bekerja di dunia perbankan dan koperasi syariah sebagai analis pembiayaan dan remedial (penagihan). Sehingga hampir sebagian besar, saya mengetahui secara persis seluk-beluk bagaimana seorang nasabah bisa mudah mengakses dana pinjaman di bank.

Sedikit Tentang UKM

Di Amerika Serikat, dari sebanyak 25 juta bisnis yang ada, ternyata sekitar 99 persennya adalah usaha kecil. Usaha kecil yang disebutkan belum ada konsep yang jelas, tetapi umumnya mereka mempunyai pekerja yang sangat sedikit dan biasanya digerakkan dari rumah mereka sendiri. Walaupun sangat kecil bisnisnya, usaha-usaha kecil tersebut ternyata sangat memberikan kontribusi penting pada perekonomian Amerika Serikat.

UKM menjadi pembahasan yang menarik, karena meskipun usaha berskala kecil, UKM tetap eksis meski badai ekonomi menerpa sebuah bangsa. Contohnya, di tahun 1998 sampai dengan 2000, UKM di Indonesia bisa bertahan dan tetap eksis meski diterpa krisis ekonomi. Di Indonesia sendiri, UKM mendapat perhatian yang serius dari Pemerintah dengan membuat portofolio kementrian, yakni Menteri Koperasi dan UKM. Namun sayangnya memang peran Pemerintah belum optimal.

Kemampuan UKM dalam menyerap tenaga kerja juga semakin meningkat dari waktu ke waktu. Begitupun jumlah UKM, hingga saat ini terus bertambah. Meski begitu, kondisi di lapangan menunjukkan keterbatasan UKM, misalnya dari hal sumber modal usaha, pemasaran, manajemen organisasi, dan penguasaan teknologi. Banyaknya persoalan UKM membuat kemampuan UKM untuk berkiprah dalam perekonomian nasional menjadi tidak maksimal.

Menjadi UKM yang Bankable

Agar UKM bisa eksis dan berkembang menjadi perusahaan besar, salah satu caranya adalah UKM harus bankable. Bagaimana UKM agar mudah mengakses bank atau bankable, adalah:

Pertama, memiliki catatan pembukuan keuangan yang baik. Bagi sebagian orang, pembukuan hanyalah pencatatan biasa. Padahal, pembukuan merupakan sebuah aktivitas yang sangat bermanfaat untuk menganalisa kelayakan usaha yang sedang dijalani. Fungsi dari pembukuan adalah untuk mengetahui posisi keuangan sebuah aktivitas usaha serta hasil-hasil yang telah dicapai oleh UKM, sehingga dari pencatatan aliran kas yang terdapat dalam pembukuan tersebut bisa dimanfaatkan untuk memutuskan langkah pengembangan usaha yang akan diambil. Tidak perlu rumit-rumit, pembukuan yang sederhana sudah cukup untuk mengetahui posisi keuangan usaha.

Kedua, agar UKM bankable adalah memiliki manajemen organisasi yang baik. Meski UKM usaha berskala kecil dan tidak memiliki pegawai yang tidak banyak, manajemen organisasi harus diperhatikan oleh pelaku UKM. Struktur organisasi/usaha harus jelas, dari pemilik sampai pegawai di struktur yang paling bawah. Untuk melatih manajemen organisasi, pemilik UKM juga harus sering-sering mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh swasta atau Pemerintah. Dari pelatihan tersebut, tentu banyak case (kasus) perusahaan yang bisa dijadikan pelajaran. Sesekali mungkin bisa benchmarking ke usaha-usaha yang dulunya kecil sekarang menjadi besar dan sukses.

Ketiga, agar UKM bankable adalah target pemasaran yang jelas. UKM harus mempunyai target pemasaran yang jelas, sasaran bisnis (usaha) kita siapa saja harus kita buat listnya. Soal pemasaran ini juga terkait dengan jaringan bisnis si pelaku UKM. Pelaku UKM harus banyak-banyak ‘bergaul’ dan bersilaturahim agar jaringan bisnis terbuka. Jangan hanya berdiam diri saja dan puas dengan yang sudah dicapai!

Keempat, agar UKM bankable adalah kejelasan legalitas usaha. Banyak usaha-usaha kecil yang abai soal legalitas usaha. Dari hal yang paling kecil saja, misal untuk memprotect merk (brand) mereka. Banyak yang menganggap angin lalu, namun ketika ada pengusaha lain yang mengklaim brandnya baru pelaku UKM kelabakan. Yang lain, jika usaha perorangan mulai membesar, bisa diurus untuk menjadi CV. atau PT.

Dengan memperhatikan empat poin di atas, bank-bank atau lembaga pembiayaan tentu tidak akan ragu membiayai usaha Anda. Ingat, jika sudah mendapatkan dana dari bank, gunakanlah dana pinjaman tersebut secara bijak. Demikian tulisan singkat ini, semoga UKM Anda segera naik kelas menjadi Usaha Kecil Miliaran! Aamin []

Selasa, 21 Oktober 2014

Membidik Pasar Kelas Menengah Muslim

RESENSI BUKU

Judul Buku : Marketing To The Middle Class Muslim
Penulis : Yuswohady, dkk.
Tebal : XIX + 280 halaman
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Juli, 2014

PASAR kelas menengah muslim dewasa ini sangat menggeliat. Ini dipicu oleh semakin besarnya kesadaran beragama di kalangan umat muslim di Indonesia. Potensi pasar konsumen kelas menengah muslim ini sangat luar biasa besar, karena jumlahnya mencapai 87 persen dari seluruh penduduk Indonesia. 5 tahun terakhir pasar middle-class muslim di Indonesia telah mengalami revolusi karena adanya pergeseran perilaku yang sangat mendasar. Tak heran jika kemudian pasarnya menggeliat dan marketer langsung pasang kuda-kuda untuk meraupnya.

Geliat pasar kelas menengah muslim ini bisa diliat dari perkembangan jumlah bank syariah yang tumbuh di Indonesia. Produsen-produsen pakaian muslim yang tersebar dimana-mana. Produk alat-alat kecantikan halal juga mulai banyak dipasarkan. Jasa haji dan umroh yang peminatnya semakin banyak. Serta hotel-hotel syariah yang mulai banyak beroperasi di Indonesia. Belum lagi asuransi, pegadaian syariah, dan kewirausahaan muslim yang menjamur hampir di seluruh daerah Indonesia.

Selain kesadaran beragama yang kuat di kalangan muslim memicu pasar kelas menengah muslim semakin besar, meningkatnya kemakmuran mereka juga menjadi faktor lain. Kata yang pas untuk menggambarkan pasar kelas menengah muslim ini adalah, “Makin makmur, makin pintar, makin religius.”

Buku ini sangat menarik karena menyampaikan data kuantitatif dan kualitatif yang dikerjakan oleh Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS), sebuah lembaga think tank yang didirikan oleh Inventure bersama Majalah SWA. Mereka secara intensif mengamati pasar muslim di Indonesia, khususnya kelas menengah. Bahkan mereka telah melakukan survei kuantitatif di lima kota dan kualitatif berupa FGD untuk mengungkap perubahan, nilai-nilai, dan perilaku pasar tersebut.

Dalam buku ini diungkap survei kualitatif yang memetakan profil konsumen kelas menengah muslim di Indonesia. Profil konsumen kelas menengah muslim Indonesia ini sendiri terbagi menjadi empat sosok, yaitu: Apathist (Emang gue pikirin), Rationalist (Gua dapat apa?), Conformist (Pokoknya harus Islam) dan Universalist (Islam itu lebih penting).

Melihat perubahan-perubahan besar yang terjadi pada konsumen kelas menengah muslim, buku ini ini juga memaparkan strategi dan taktik ampuh untuk menjawab tantangan tersebut. Beberapa strateginya di antaranya adalah buku ini mencoba menyusun enam prinsip-prinsip generik yang bisa digunakan sebagai panduan untuk menggarap pasar muslim yang besar ini. Strategi tersebut dinamakan The Six Principles of Marketing to The Middle Class Muslim. (1). The Principle of Costumer. (2). The Principle of Competition. (3). The Principle of Positioning. (4). The Principle of Differentiation. (5). The Principle of Value. (6). The Principle of Engagement.

Lebih lanjut buku ini penting untuk dimiliki dan dibaca, terutama Anda pemasar dan pelaku usaha agar bisa membaca pasar konsumen kelas menengah muslim. Selamat membaca! []

Selasa, 19 Agustus 2014

Me-ramadhan-kan Bulan-bulan Lainnya

"Betapa hina seseorang jika Ramadhan datang, kemudian pergi, sedangkan ia belum di beri ampunan." (HR. At-Tirmidzi)

TAK terasa bulan Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Di bulan Ramadhan kita melakukan sholat dan puasa, membaca Al-Qur'an dan menunaikan Qiyamul lail, berdzikir kepada Allah dan berdoa dengan khusyuk, bershadaqoh, berbuat kebajikan dan mempererat tali silaturrahim. Catatan amal sholih kita begitu melejit di bulan Ramadhan. Namun siapa disangka setelah berakhirnya bulan Ramadhan, aktifitas tersebut berubah 180 derajat. Sebagian besar kita, bila Ramadhan usai, usai pula meninggalkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di bulan-bulan lainnya.

Belum lagi sikap kita yang berlebih-lebihan dalam menyambut Idul Fitri yang menyebabkan kita lalai dan tidak istiqomah dalam beribadah, sehingga semangat ibadah yang kita dapatkan di bulan Ramadhan menguap begitu saja tanpa berbekas. Id terkadang dipahami sebagai hari pelepasan dari segala kekangan. Kemaksiatan yang sempat libur, kembali di lakukan oleh kebanyakan kita. Seorang pujangga Arab menggambarkan sosok orang yang memuaskan diri dengan keharaman, usai lepas dari kekangan, seperti air terjun yang turun deras menyerupai kuda-kuda yang lepas dari tali kekangnya.

Seharusnya Ramadhan menjadi barometer agar kita bisa sukses menjalani ketaatan di bulan-bulan berikutnya dengan lebih baik. Islam mengajarkan kepada kita untuk terus beramal dan beribadah pada setiap waktu, baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya. Seharusnya begitu kita keluar dari bulan Ramadhan, ada semangat yang begitu besar untuk terus istiqomah dalam beribadah di bulan-bulan berikutnya, laiknya bulan Ramadhan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah seperti yang dikatakan oleh Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi: "Betapa hina seseorang jika Ramadhan datang, kemudian pergi, sedangkan ia belum diberi ampunan." Belum juga kita di ampuni di bulan Ramadhan, justru di bulan-bulan lainnya kita nodai dengan kemaksiatan yang lain. Naudzubillahi min dzalik.

Memang tidak mudah menjaga semangat untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah setelah bulan Ramadhan. Hal ini manusiawi dan pernah dialami oleh semua orang, sebagaimana Rasul pernah bersabda: "Iman itu bertambah dan berkurang." Namun sudah sepatutnya kita berusaha untuk istiqomah dalam kebaikan dan menjaga semangat kebaikan di Ramadhan dibulan-bulan berikutnya.

Istiqomah Beribadah & Beramal Sholih

Setelah Ramadhan, manusia terbagi menjadi dua bagian, yaitu: orang-orang yang menang dan orang-orang yang merugi. Seandainya perasaan kemengan ini ada pada kita, maka kita termasuk orang-orang yang beruntung dan patut mendapat ucapan selamat. Namun jika kita merugi, maka kecelakaanlah bagi kita dan kita patut berduka cita dan bersedih hati.

Rahmat Allah hanya diberikan kepada orang yang mau berbuat kebaikan, yang selalu taat kepada Allah serta selalu merindukan ridha-Nya sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A'raf ayat 56: "Rahmat Allah hanya dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan." Dalam sebuah riwayat, Ibnu Abas telah ditanya perihal orang yang menjalankan berpuasa di siang hari dan melakukan sholat malam, namun ia tidak pernah mengikuti shalat jum'at dan berjama'ah. Maka beliau berkata: "Dia akan masuk neraka, Allah juga akan menjauhkannya dari Rahmat-Nya." Naudzubillahi min dzalik.

Maka sudah selayaknya kita terus istiqomah berbuat baik meskipun tidak lagi di bulan Ramadhan. Lebih baik sedikit amalan kita namun istimror (berkelanjutan) seperti yang dikatakan oleh Aisyah istri Rasulullah Saw: "Amalan sholih yang paling di cintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan sekalipun sedikit." (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah selalu mengganti sholat malamnya yang terlewat dengan sholat dhuha di siang harinya demi sebuah keistiqomahan dalam beribadah. Ini sebuah bukti bahwa Rasulullah semata-mata ingin terus istiqomah beribadah kepada Allah. Namun juga perlu diperhatikan bahwa ibadah kita harus senantiasa di tingkatkan kualitasnya, tidak hanya sekedar rutinitas belaka. Sikap istiqomah insya Allah akan mendatangkan banyak manfaat dan keutamaannya di dunia dan akhirat.

Istiqomah dalam beribadah dan beramal sholih juga akan menjadikan kita tercegah dari hal-hal yang dilarang oleh Allah, karena jiwa kita terlatih untuk memerangi nafsu syahwat yang ada dalam diri kita. Istiqomah pula yang memberi kekuatan atas terkabulnya sebuah doa. Bagaimana tidak? Orang yang terbiasa istiqomah akan selalu mengingat Allah dimana pun ia berada.

Hal lain yang menggembirakan bagi kita yang istiqomah adalah Allah akan tetap menulis pahalanya meski ia berhalangan tak bisa mengerjakan kebiasaannya itu. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bahwa: "Apabila seorang hamba sakit atau sedang bepergian, akan tetap ditulis pahalanya meski ia berhalangan tidak bisa mengerjakan kebiasaannya itu." Maka berbahagialah orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam beribadah dan beramal sholih.

Me-Ramadhan-kan Bulan Lainnya

Salah satu bukti suksesnya Ramadhan kita adalah kita bisa mengaplikasikan semangat Ramadhan di bulan-bulan lainnya. Paling tidak apa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan juga bisa kita lakukan di bulan berikutnya. Menjaga untuk tetap dalam performa yang sama dalam beribadah seperti di bulan Ramadhan, minimal tidak terjadi penurunan kualitas Ibadah. Syukur ibadah kita bisa lebih baik lagi.

Semisal berpuasa kita bisa terus melakukan puasa dibulan-bulan berikutnya dengan puasa daud atau jika kita tidak mampu kita hanya berpuasa sunnah senin-kamis. Bulan Syawal juga bisa kita jadikan sarana untuk merefleksikan bulan Ramadhan dengan berpuasa syawal 6 hari di bulan syawal. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian puasa enam hari di bulan Syawal, seolah-olah ia berpuasa satu tahun penuh."

Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat dalam menjalankan puasa. Barangsiapa yang merasa demikian maka akan sulit baginya untuk menjalankan puasa. Padahal, orang yang menjalankan puasa setelah Idul Fithri merupakan bukti kecintaannya dengan ibadah puasa.

Membaca Al-Qur'an, dzikir dan Qiyamul lail yang biasa kita lakukan di bulan Ramadhan juga harus senantiasa kita lakukan dibulan-bulan lainnya. Membaca 1 juz dalam Al-Qur'an dalam sehari, melakukan Qiyamul lail (sholat malam) atau minimal sebelum tidur kita melakukan sholat witir, jika khawatir tidak terbangun dimalamnya. Sholat dhuha juga harus senantiasa kita lakukan. Tak lupa silaturrahim dan bershodaqoh juga harus terus kita lakukan di bulan-bulan selain Ramadhan. Dengan begitu insya Allah kita akan mampu meramadhankan bulan-bulan lainnya selain bulan Ramadhan.

Selamat tinggal wahai bulan shaum dan sholat, selamat tinggal hari- hari yang indah yang kami lalui dengan berdzikir dan tilawah Al-Qur'an. Kita tidak tahu, apakah amal kita diterima atau tidak. Betapa gembiranya jika amal kita diterima oleh Allah, sehingga kita bisa keluar pada hari raya dengan rasa gembira, senang, dan bersukaria. Sebaliknya, betapa sedihnya jika amal kita di tolak karena yang menyebabkan kita meninggalkan bulan ini dengan kebinasaan, kekecewaan, keletihan dan penyesalan. Naudzubillahi min dzalik.

Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang Allah bahagiakan dan tuliskan namanya di lembaran-lemabaran catatan kebahagiaan yang abadi. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di Bulan Ramadhan selanjutnya. Aamiin, Allahuma amin... []

Jumat, 08 Agustus 2014

Sharing Tentang Speech Delayed

Di media sosial twitter tidak sengaja saya menemui kicauan seorang temen yang kebetulan dosen dan psikolog UII, Ibu Ike Agustina membicarakan soal speech delayed (keterlambatan berbicara) pada anak. 

Karena saya memiliki tetangga yang anaknya lebih dari 3 tahun tidak bisa berbicara, saya tertarik menanyakannya kepada Ike. Siapa tau saya dari sharing ini ada solusi buat anak tetangga saya tersebut.

Ternyata problem speech delayed ini banyak ditemukan di anak-anak era modern sekarang. Agar bermanfaat, kultwit teman saya tersebut akan saya tulis ulang di blog saya agar bisa dibaca oleh yang lain. Semoga saja Ibu Ike setuju, saya menulis kultwitnya untuk kepentingan khalayak. Berikut kultwit dari @ikeagustina:

  1. Sebelum saya share tentang speech delayed, perlu diketahui bahwa perkembangan setiap anak boleh jadi sama.
  1. Saya sering dicurhati beberapa ortu yang mengeluh karena ‘iri’ anaknya belum bisa ini-itu, tapi anak tetangga seusianya sudah bisa.
  1. Akibatnya, ortu ini jadi stress sendiri dan bahkan punya kekhawatiran yang berlebihan terhadap anaknya karena hal tersebut.
  1. Membandingkan satu anak dengan anak yang lainnya haruslah dilakukan dengan bijaksana karena setiap anak prinsipnya unik.
  1. Menjadi ortu butuh ilmu. Ada hal-hal yang bersifat umum, tapi ada juga hal-hal terkait perkembangan anak yang bersifat khusus.
  1. Kalau sudah memahami ini, kepada anaknya ortu jadi bisa khawatir secara ‘bijaksana’ dan untuk alasan yang memang tepat.
  1. Speech delayed, sejauh yang saya tahu bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Penanganannya tergantung faktor penyebabnya.
  1. Ada speech delayed yang terjadi karena gangguan fungsi pendengaran pada anak, bakteri/virus tertentu, salah makan, dsb.
  1. Kalau karena faktor-faktor tadi, penangannya memang harus secara medis yang tepat karena gangguannya biasanya cukup berat.
  1. Karena saya buka dokter, sebaiknya untuk penanganan speech delayed secara medis bisa konsultasi ke dokter anak langsung.
  1. Faktor lain yang juga bisa jadi penyebab speech delayed adalah faktor lingkungan, dalam hal ini stimulasi dan gaya pengasuhan.
  1. Speech delayed karena faktor lingkungan ini biasanya lebih mudah diatasi dan memang gangguannya tidak terlalu berat.
  1. Kalau anak jarang diajak berkomunikasi, jangan heran jika ia jadi lambat bisa bicara karena anak belajar bicara dari mendengar.
  1. Jadi lingkungan di sekitarnya harus rajin menstimulasi kemampuan bicara anak dengan rajin mengajaknya bicara.
  1. Ortu yang ‘menitipkan’ anaknya pada pengasuh harus rajin memastikan bahwa pengasuhnya rajin menstimulasi kemampuan belajar anak.
  1. Beberapa pengasuh anak mungkin karena tak paham atau malas, jadi mau praktis. Anak dikasih mainan supaya ‘diam’ dan ‘sibuk’ sendiri.
  1. Akibat dari anak yang ‘sibuk’ sendiri dengan mainan adalah anak jarang diajak bicara sehingga kemampuan komunikasinya kurang berkembang.
  1. Faktor lingkungan yang juga bisa jadi penyebab speech delayed adalah gaya pengasuhan: suka membentak atau mengabaikan anak.
  1. Hati-hati! Anak yang suka dibentak atau diabaikan akan cenderung memilih untuk diam daripada dimarahi atau dicuekin lagi.
  1. Jadi, jika anak alami speech delayed karena faktor lingkungan berarti harus ada yang direvisi dari stimuli/gaya pengasuhan.
  1. Lingkungan di sekitar anak (ortu, pengasuh, keluarga serumah) harus rajin menstimulasi anak dengan banyak ajak anak bicara.
  1. Ortu dan pengasuh harus lebih sabar dalam menghadapi anak. Rajin merespon pertanyaan anak agar ia merasa tak diabaikan.
  1. Hindari membentak, terlalu banyak melarang apalagi menyalahkan perilaku atau pertanyaan anak. Pokoknya sabar.
  1. Memasukkan ke PAUD supaya cepat bicara tak selalu jadi solusi jika speech delayed disebabkan gaya pengasuhan yang salah.
  1. Anak adalah para peniru yang hebat! Kalau ortu/pengasuh tipe irit bicara, maka anak jadi akan minim belajar bicara. Cukup sekian dari saya. Terima kasih. []

Rabu, 25 Juni 2014

Dicari Capres dan Cawapres yang Mendukung Ekonomi Syariah

GELARAN pilpres 2014 tidak akan lama lagi bakal berlangsung. Bahkan tahap-tahap debat, beberapa sudah dilewati. Jika debat pertama membahas persoalan hukum dan HAM, di debat kedua membahas persoalan ekonomi. Sayangnya, tidak ada satu pun bahasan yang menyentuh soal ekonomi syariah. Mungkin para capres dan cawapres menganggap isu ini tidak seksi bagi konstituennya. Padahal, geliat ekonomi syariah sangat luar biasa beberapa tahun belakangan. Ini dimulai ketika Bank Muamalat yang merupakan bank syariah pertama yang ada di Indonesia bisa membuktikan melewati badai krisis ekonomi di tahun 1997-1998. Diikuti dengan munculnya bank-bank syariah, BPRS, BMT, asuransi syariah, pegadaian syariah, hotel syariah dan masih banyak lagi usaha-usaha yang menggunakan skema syariah.

Dalam data yang disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Februari 2014 perbankan syariah masih terus tumbuh. Total aset yang dikelola oleh 11 bank umum syariah, 23 unit usaha syariah bank, dan 163 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPR) syariah mencapai Rp 234,08 triliun. Sementara angka pertumbuhan mencapai 18,8 persen secara tahunan. Ini belum termasuk koperasi-koperasi syariah (BMT) yang tersebar di daerah-daerah. Sungguh ini aset yang tidak kecil dan masih punya potensi lebih besar lagi ke depan.

Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama 2 periode kepemimpinannya dari tahun 2004-2014 memang cukup mengakomodir pengembangan ekonomi syariah. Di antaranya dengan terbitnya UU nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk) dan UU nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Pemerintah juga menerbitkan UU yang mendorong koperasi syariah untuk tumbuh melalui UU nomor 17 tahun 2012 menggantikan UU Koperasi nomor 25 tahun 1992. Namun sayangnya, UU Koperasi yang baru ini dibatalkan oleh MK karena ada beberapa masalah yang dianggap mengaburkan nilai-nilai koperasi itu sendiri.

Pemerintahan SBY juga membuat program yang memberi kemudahan UKM untuk mengakses dana untuk usahanya. Salah satunya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan PNPM. Khusus KUR, Pemerintah mulai mempercayakan dana-dana KUR untuk disalurkan melalui bank-bank syariah. Namun jumlahnya belum terlalu signifikan. BPR-BPR syariah yang notabene sangat kuat dalam penyaluran dana untuk usaha mikro pun belum dilibatkan dalam menyalurkan dana-dana KUR ini. Sehingga ini belum bisa mendongkrak total aset perbankan syariah secara nasional.

Visi Misi Ekonomi Syariah Capres 2014

Visi-misi capres bisa dengan mudah kita unduh melalui website resmi KPU. Sehingga kita bisa tau secara seksama kemana arah tujuan para capres ini akan menjalankan programnya. Masing-masing pasangan capres dan cawapres juga menjelaskan agenda ekonominya di dalam draft visi-misi tersebut.

Dimulai dari agenda ekonomi pasangan capres dan cawapres Prabowo – Hatta. Dari 17 poin agenda ekonomi Prabowo - Hatta, ada poin yang menyinggung tentang ekonomi syariah. Kalimatnya sebagai berikut: “Menjadikan RI sebagai pusat pengembangan perbankan/keuangan syariah industri kreatif muslimah dunia serta membangun kampung kreativitas bagi pelaku industri kreatif di Kabupaten/Kota.” Poinnya adalah, pasangan Prabowo – Hatta ingin menjadikan RI sebagai pusat pengembangan perbankan/keuangan syariah.

Sementara dari pasangan capres dan cawapres Jokowi – Jusuf Kalla (JK), dari 16 butir agenda ekonominya yang tertuang dalam 42 halaman visi-misi dan program aksinya, tidak ada satu pun yang menyinggung soal ekonomi dan perbankan syariah. Dalam agenda ekonominya tentang perbankan, Jokowi – JK hanya menuliskan: “Kami akan berkomitmen untuk membangun penguatan sektor keuangan berbasis nasional.” Tidak ada penekanan sama sekali tentang ekonomi dan perbankan syariah.

Perlu Dorongan Untuk Kebijakan Ekonomi Syariah

Sekalipun itu hanya draft visi, misi, dan program aksi para pasangan capres dan cawapres, kiranya sangat penting mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi syariah yang sedang bergeliat di Indonesia. Saya sangat berharap, sekalipun pasangan Jokowi – JK tidak menyinggung sama sekali tentang ekonomi dan perbankan syariah jika mereka menang tetap berkomitmen terhadap kebijakan mendukung tumbuh kembang ekonomi syariah.

Ekonomi syariah akan membawa stabilitas keuangan dalam Negeri. Karena dasar ekonomi syariah adalah menyeimbangkan sektor riil dan moneter. Ekonomi syariah juga diyakini bisa mewujudkan pemerataan pembangunan ekonomi. Karena ekonomi syariah bisa menghilangkan kesenjangan antara masyarakat berpenghasilan rendah dan berpenghasilan tinggi. Apalagi ekonomi syariah sejak lama berkembang di wilayah pedesaan melalui konsep Baitul Mal wa Tamwil (BMT).

Sayangnya, dalam debat capres terkait ekonomi, Ahad (15/6), sama sekali tidak ada yang menyebut inklusi finansial. Inklusi finansial adalah suatu terobosan baru dari para ahli dan praktisi keuangan, perbankan serta lembaga keuangan di seluruh dunia, untuk merubah cara berpikir yang biasanya hanya cenderung mengeruk untung dari pengembangan sistem keuangan dan pelayanan perbankan, menjadi cara berpikir baru ikut serta dalam proses pemberdayaan masyarakat dan pembangunan dalam rangka pengentasan kemiskinan dan peningkatan akses yang lebih mudah bagi rakyat banyak, khususnya keluarga kurang mampu, kepada lembaga keuangan atau lembaga bank di manapun adanya.

Ekonomi syariah bisa menjadi lokomotif dalam inklusi finansial di Indonesia. Pemerintah bisa mewujudkan dalam kebijakannya, misal satu daerah minimal satu BPRS. Perlu political will yang kuat dari kedua pasangan capres dan cawapres untuk mewujudkannya. Wallahua’lam []

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...